Bukan Sekadar Memoles Skor di Mata Dunia, Jakarta Harus Wujudkan Rasa Aman yang Merata
Senin, 27 April 2026 - 13:41 WIB
loading...
A
A
A
Senada dengan sang Gubernur, Wakil Gubernur Rano Karno melihat ada faktor "rasa" di balik angka tersebut. Wajah toleransi Jakarta yang tercermin melalui perayaan lintas budaya—mulai dari Christmas Carol hingga festival keagamaan di Bundaran HI—dianggap menjadi poin plus yang tertangkap radar dunia. Kondisi sosial yang stabil ini pun terbukti menjadi katalisator bagi ekonomi Jakarta yang tetap tangguh meski di tengah tantangan fiskal.
1. Singapura: 0,90
2. Jakarta: 0,72
3. Bangkok: 0,65
4. Vientiane: 0,61
5. Hanoi: 0,60
Namun, di sela-sela gemerlap lampu gedung pencakar langit Sudirman, sebuah pertanyaan muncul dari gang-gang sempit dan padat: Benarkah Jakarta sesunyi dan seaman itu bagi warganya?
Baca juga: Negara dan Rasa Aman Anak
Meski data menunjukkan kemajuan besar secara administratif, realita di lapangan sering kali bercerita lain. Ada jurang pemisah antara angka di laporan internasional dan rasa di teras rumah warga. Mengapa anomali ini terjadi?
Metodologi GRI cenderung menitikberatkan pada indikator makro seperti stabilitas politik hingga rendahnya risiko konflik besar. Di atas kertas, Jakarta adalah juara. Namun, statistik megah ini kerap 'rabun' terhadap teror kecil di jalanan.
GRI gagal memotret kecemasan warga kelas menengah ke bawah yang masih harus berjibaku dengan jambret, copet, hingga begal di gang-gang sempit dan kawasan padat. Bagi mereka, keamanan bukan soal stabilitas negara, tapi soal selamatnya nyawa dan barang berharga dari bayang-bayang kejahatan jalanan.
Skor Keamanan di Asia Tenggara (GRI 2026)
1. Singapura: 0,90
2. Jakarta: 0,72
3. Bangkok: 0,65
4. Vientiane: 0,61
5. Hanoi: 0,60
Namun, di sela-sela gemerlap lampu gedung pencakar langit Sudirman, sebuah pertanyaan muncul dari gang-gang sempit dan padat: Benarkah Jakarta sesunyi dan seaman itu bagi warganya?
Baca juga: Negara dan Rasa Aman Anak
Antara Angka dan Rasa: Sebuah Anomali
Meski data menunjukkan kemajuan besar secara administratif, realita di lapangan sering kali bercerita lain. Ada jurang pemisah antara angka di laporan internasional dan rasa di teras rumah warga. Mengapa anomali ini terjadi?
Metodologi GRI cenderung menitikberatkan pada indikator makro seperti stabilitas politik hingga rendahnya risiko konflik besar. Di atas kertas, Jakarta adalah juara. Namun, statistik megah ini kerap 'rabun' terhadap teror kecil di jalanan.
GRI gagal memotret kecemasan warga kelas menengah ke bawah yang masih harus berjibaku dengan jambret, copet, hingga begal di gang-gang sempit dan kawasan padat. Bagi mereka, keamanan bukan soal stabilitas negara, tapi soal selamatnya nyawa dan barang berharga dari bayang-bayang kejahatan jalanan.
Lihat Juga :