Cerita Haru Karyawan Difabel Rokok HS: Dulu Sering Ditolak Kerja, Kini Bisa Lunasi Utang
Jum'at, 24 April 2026 - 14:39 WIB
loading...
Para karyawan penyandang disabilitas pabrik rokok HS tengah menikmati makan siang. Saat ini, HS mempekerjakan 70 karyawan penyandang disabilitas. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MAGELANG - Matahari belum begitu meninggi ketika ribuan karyawan pabrik rokok HS memulai aktivitasnya di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Tangan-tangan cekatan itu berlomba melinting dan mengepak batang-batang rokok . Suara percakapan nyaring terdengar. Tapi di sebuah sudut, ada puluhan pekerja yang asyik bercerita namun tak bersuara. Melainkan dengan bahasa isyarat.
Salah satunya Shinta (34), warga Magelang. Penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel rokok HS yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok di perusahaan yang ada di bawah naungan Surya Group Holding Company itu. Baca juga: Rokok Ilegal Gerus Penerimaan Negara, Penegakan Hukum Tak Bisa Ditawar
Shinta terlihat sumringah ketika kami datang. Namun di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang ia lalui sebelum bisa bekerja di pabrik rokok HS. Cerita tentang sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada mereka.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya lirih, Jumat (24/4/2026).
Masih ingat betul bagi perempuan satu anak ini ketika terjadi penolakan-penolakan itu. Sakit hati dan kecewa selalu menghantui ketika ia pulang dari tes wawancara.
"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.
Salah satunya Shinta (34), warga Magelang. Penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel rokok HS yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok di perusahaan yang ada di bawah naungan Surya Group Holding Company itu. Baca juga: Rokok Ilegal Gerus Penerimaan Negara, Penegakan Hukum Tak Bisa Ditawar
Shinta terlihat sumringah ketika kami datang. Namun di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang ia lalui sebelum bisa bekerja di pabrik rokok HS. Cerita tentang sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada mereka.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ucapnya lirih, Jumat (24/4/2026).
Masih ingat betul bagi perempuan satu anak ini ketika terjadi penolakan-penolakan itu. Sakit hati dan kecewa selalu menghantui ketika ia pulang dari tes wawancara.
"Tapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.
Lihat Juga :