Dari Rumah ke TPA: Perbedaan yang Jarang Disadari soal Galon
Senin, 06 April 2026 - 19:43 WIB
loading...
A
A
A
Meski penghitungan belum rampung, namun komposisi jumlah sampah plastik pada 2025 sudah melebihi tahun sebelumnya. Ini menjadi pengingat pentingnya mengutamakan pemakaian kemasan guna ulang dibanding sekali pakai, terlebih dalam bentuk sampah plastik berukuran besar seperti galon.
Pemanfaatan galon guna ulang berbahan PET dianggap memiliki keunggulan ekologis yang signifikan dibandingkan dengan kemasan galon sekali pakai. Inovasi ini mampu meminimalisir volume sampah plastik, menekan emisi karbon, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di Indonesia.
"Penggunaan galon guna ulang PET dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai pakai," kata Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.
Menurut riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, tanpa adanya galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen diperkirakan memilih kemasan sekali pakai yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.
Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Tingginya emisi sampah plastik dan karbon dari galon sekali pakai sangat bertentangan dengan prinsip keberlanjutan dan target pengurangan sampah plastik KLHK sebesar 30 persen pada 2025.
"Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air/laut maupun dibuang langsung ke tanah," ujar Bisuk.
Pemanfaatan galon guna ulang berbahan PET dianggap memiliki keunggulan ekologis yang signifikan dibandingkan dengan kemasan galon sekali pakai. Inovasi ini mampu meminimalisir volume sampah plastik, menekan emisi karbon, serta memperkuat implementasi ekonomi sirkular di Indonesia.
"Penggunaan galon guna ulang PET dinilai jauh lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai pakai," kata Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.
Menurut riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, tanpa adanya galon guna ulang, tujuh dari sepuluh konsumen diperkirakan memilih kemasan sekali pakai yang berpotensi meningkatkan timbulan sampah plastik hingga 770.000 ton per tahun.
Akibatnya, emisi sampah plastik akan bertambah hingga 1.655.500 ton per tahun. Tingginya emisi sampah plastik dan karbon dari galon sekali pakai sangat bertentangan dengan prinsip keberlanjutan dan target pengurangan sampah plastik KLHK sebesar 30 persen pada 2025.
"Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air/laut maupun dibuang langsung ke tanah," ujar Bisuk.
Lihat Juga :