Gejolak Global Picu Kenaikan Harga Bahan Baku Kemasan, Amdatara Minta Insentif Pemerintah
Senin, 06 April 2026 - 18:39 WIB
loading...
Ketua Umum Amdatara Karyanto Wibowo menyoroti tantangan serius yang dihadapi industri AMDK, khususnya terkait kenaikan harga bahan baku kemasan akibat gejolak global saat ini. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Amdatara) menyoroti tantangan serius yang dihadapi industri AMDK , khususnya terkait kenaikan harga bahan baku kemasan akibat gejolak global yang terjadi saat ini. Diperkirakan, kondisi ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman bagi kesehatan publik.
”Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri AMDK akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik yang berbasis minyak bumi,” ujar Ketua Umum Amdatara Karyanto Wibowo, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Beda Air Rumahan, Produk AMDK Telah Melalui Uji Ketat
Dia menuturkan gejolak global akibat perang AS-Israel versus Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi 98 dolar AS per barel pada pertengahan Maret 2026. Sementara itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.
“Karena lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik,” katanya.
Pihaknya memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100% ini berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan menjadi sekitar 25–50 persen, tergantung pada jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan. Jika kondisi ini berlanjut, harga jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami kenaikan, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas yang lebih rendah.
“Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman yang selama ini menjadi kontribusi penting industri AMDK bagi kesehatan publik,” katanya.
Berdasarkan laporan langsung dari anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan pada beberapa jenis material telah mencapai hingga 100 persen dalam waktu relatif singkat. Kenaikan harga bahan baku kemasan yang mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bias dianggap sebagai fluktuasi biasa.
Diketahui, industri AMDK merupakan salah satu pilar penting sektor manufaktur nasional. Saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung.
Industri ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok distribusi serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.
Selain itu, AMDK memainkan peran strategis dalam kesehatan masyarakat dengan menyediakan akses air minum yang aman, higienis, dan berkualitas, sehingga membantu mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui air tidak bersih.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah bersedia hadir secara aktif sebagai penyangga (shock absorber) bagi industri strategis seperti AMDK melalui langkah-langkah konkret. Langkah itu berupa relaksasi kebijakan sebesar 20–30 % pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi seperti penurunan sementara PPN kemasan dari 11% menjadi 8%, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping/BMAD, serta stimulus pajak penghasilan UMKM di sektor AMDK.
”Kami menyampaikan keprihatinan serius atas tekanan yang semakin berat terhadap industri AMDK akibat lonjakan harga bahan baku kemasan, terutama plastik yang berbasis minyak bumi,” ujar Ketua Umum Amdatara Karyanto Wibowo, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Beda Air Rumahan, Produk AMDK Telah Melalui Uji Ketat
Dia menuturkan gejolak global akibat perang AS-Israel versus Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak tajam dari sekitar 67 dolar AS per barel menjadi 98 dolar AS per barel pada pertengahan Maret 2026. Sementara itu, harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melesat lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.
“Karena lebih dari 99 persen plastik global diproduksi dari bahan bakar fosil (minyak bumi dan gas alam), kenaikan harga energi ini langsung berdampak pada biaya produksi dan bahan baku plastik,” katanya.
Pihaknya memperkirakan lonjakan harga bahan baku hingga 100% ini berpotensi mendorong kenaikan harga kemasan menjadi sekitar 25–50 persen, tergantung pada jenis material, volume produksi, dan skala usaha masing-masing perusahaan. Jika kondisi ini berlanjut, harga jual produk AMDK di pasar berisiko mengalami kenaikan, terutama bagi produsen kecil dan menengah yang memiliki stok terbatas dan likuiditas yang lebih rendah.
“Hal ini tidak hanya mengancam kelangsungan ribuan usaha dan puluhan ribu lapangan kerja, tetapi juga berpotensi mengganggu akses masyarakat terhadap air minum aman yang selama ini menjadi kontribusi penting industri AMDK bagi kesehatan publik,” katanya.
Berdasarkan laporan langsung dari anggota asosiasi di berbagai daerah, kenaikan harga bahan baku kemasan pada beberapa jenis material telah mencapai hingga 100 persen dalam waktu relatif singkat. Kenaikan harga bahan baku kemasan yang mencapai dua kali lipat ini tidak lagi bias dianggap sebagai fluktuasi biasa.
Diketahui, industri AMDK merupakan salah satu pilar penting sektor manufaktur nasional. Saat ini terdapat 707 pabrik dengan kapasitas produksi terpasang mencapai 47 miliar liter per tahun dan menyerap sekitar 46.000 tenaga kerja langsung.
Industri ini juga mendukung jutaan pekerja di sepanjang rantai pasok distribusi serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia sebagai bagian dari subsektor makanan dan minuman.
Selain itu, AMDK memainkan peran strategis dalam kesehatan masyarakat dengan menyediakan akses air minum yang aman, higienis, dan berkualitas, sehingga membantu mengurangi risiko penyakit yang ditularkan melalui air tidak bersih.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah bersedia hadir secara aktif sebagai penyangga (shock absorber) bagi industri strategis seperti AMDK melalui langkah-langkah konkret. Langkah itu berupa relaksasi kebijakan sebesar 20–30 % pada komponen biaya terkait bahan baku dan energi seperti penurunan sementara PPN kemasan dari 11% menjadi 8%, relaksasi Bea Masuk Anti Dumping/BMAD, serta stimulus pajak penghasilan UMKM di sektor AMDK.
(jon)
Lihat Juga :