Cerita Tentang Terminal 2 Bandara Soetta yang Penuh Nostalgia
Sabtu, 14 Maret 2026 - 14:28 WIB
loading...
A
A
A
Jika dibandingkan dengan Terminal 3 yang megah dan sangat kontemporer, Terminal 2 masih mempertahankan nuansa arsitektur yang terasa lebih “Indonesia”. Material, bentuk atap, dan atmosfer ruangnya menghadirkan rasa cozy yang berbeda.
Banyak orang yang tumbuh bersama bandara ini, entah untuk mudik pertama kali sendirian, melepas keluarga umrah, atau menjemput orang tercinta, akan merasa ada sentuhan nostalgia setiap kali melangkah di koridornya.
“Banyak momen perjalanan, baik untuk pekerjaan maupun liburan, dimulai dari sana. Ada kenangan mengantar keluarga, terbang pertama kali ke beberapa destinasi, sampai momen-momen mengejar penerbangan pagi buta. Setelah renovasi, kesannya jadi lebih fresh dan modern, tapi tidak menjadikan memori nostalgia itu jadi hilang,” ungkapnya.
Terminal 2 bukan sekadar tempat orang datang dan pergi, tetapi ruang yang menyimpan potongan hidup banyak orang. Di sanalah ada pelukan hangat sebelum terbang merantau, ada lambaian tangan penuh harap saat melepas keluarga umrah, ada wajah lelah yang berubah bahagia ketika bertemu kembali.
Meski kini tampil lebih rapi dan modern, suasana yang akrab dan terasa “Indonesia”-nya tetap hidup, membuat setiap langkah di dalamnya seperti mengulang kenangan lama. Renovasi boleh memperbarui fisiknya, tetapi rasa yang tertinggal di hati para penumpangnya itulah yang membuat Terminal 2 tetap terasa pulang.
Banyak orang yang tumbuh bersama bandara ini, entah untuk mudik pertama kali sendirian, melepas keluarga umrah, atau menjemput orang tercinta, akan merasa ada sentuhan nostalgia setiap kali melangkah di koridornya.
Bandara yang Menyimpan Kenangan
Bagi Wira sebelum adanya renovasi, Terminal 2 memiliki kesan dan kenangan yang penuh nostalgia baginya.“Banyak momen perjalanan, baik untuk pekerjaan maupun liburan, dimulai dari sana. Ada kenangan mengantar keluarga, terbang pertama kali ke beberapa destinasi, sampai momen-momen mengejar penerbangan pagi buta. Setelah renovasi, kesannya jadi lebih fresh dan modern, tapi tidak menjadikan memori nostalgia itu jadi hilang,” ungkapnya.
Terminal 2 bukan sekadar tempat orang datang dan pergi, tetapi ruang yang menyimpan potongan hidup banyak orang. Di sanalah ada pelukan hangat sebelum terbang merantau, ada lambaian tangan penuh harap saat melepas keluarga umrah, ada wajah lelah yang berubah bahagia ketika bertemu kembali.
Meski kini tampil lebih rapi dan modern, suasana yang akrab dan terasa “Indonesia”-nya tetap hidup, membuat setiap langkah di dalamnya seperti mengulang kenangan lama. Renovasi boleh memperbarui fisiknya, tetapi rasa yang tertinggal di hati para penumpangnya itulah yang membuat Terminal 2 tetap terasa pulang.
(jon)
Lihat Juga :