Soroti Perkembangan AI, RSM Indonesia Tekankan Pentingnya Tata Kelola dan Regulasi
Sabtu, 07 Maret 2026 - 18:00 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Angela, perkembangan AI sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan organisasi dalam mengelolanya. “Banyak perusahaan sudah berinvestasi besar dalam teknologi AI. Namun pertanyaan mendasarnya adalah jika terjadi kesalahan keputusan akibat AI, siapa yang bertanggung jawab? Pada akhirnya regulator dan publik tidak akan meminta penjelasan kepada sistem, tetapi kepada organisasi,” jelasnya.
Lihat video: Gibran di KTT G20: AI Tentukan Kekuatan Ekonomi Global Masa Depan
Angela menambahkan organisasi yang mengadopsi AI tanpa kerangka governance yang memadai berpotensi menghadapi berbagai risiko. “Organisasi yang mengadopsi AI tanpa governance yang jelas bukan sedang berinovasi, tetapi sedang mengakumulasi risiko—mulai dari bias algoritma, pelanggaran data, keputusan yang tidak dapat dijelaskan, hingga risiko reputasi. Teknologi bisa dibeli, tetapi kepercayaan harus dijaga,” tambah Angela.
Senior Manager Data, AI and Emerging Technology RSM Indonesia Sindhu Wardhana, menjelaskan salah satu tantangan utama dalam implementasi AI adalah inovasi yang berkembang tanpa koordinasi yang terstruktur antar unit organisasi. Sementara itu, tekanan regulasi terkait perlindungan data dan tata kelola teknologi juga semakin meningkat.
Menurut Sindhu, organisasi perlu mengambil langkah sistematis agar AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Empat langkah utama dalam membangun AI governance meliputi AI Readiness Assessment untuk mengukur kesiapan organisasi, pengembangan AI Governance Framework yang menetapkan peran dan tanggung jawab berbasis risiko, penerapan AI Assurance dan Audit untuk memastikan sistem yang aman dan patuh regulasi.
“Termasuk AI Project Assurance guna menjaga kualitas dan kontrol sejak tahap perencanaan hingga implementasi,” ucapnya.
Lihat video: Gibran di KTT G20: AI Tentukan Kekuatan Ekonomi Global Masa Depan
Angela menambahkan organisasi yang mengadopsi AI tanpa kerangka governance yang memadai berpotensi menghadapi berbagai risiko. “Organisasi yang mengadopsi AI tanpa governance yang jelas bukan sedang berinovasi, tetapi sedang mengakumulasi risiko—mulai dari bias algoritma, pelanggaran data, keputusan yang tidak dapat dijelaskan, hingga risiko reputasi. Teknologi bisa dibeli, tetapi kepercayaan harus dijaga,” tambah Angela.
Senior Manager Data, AI and Emerging Technology RSM Indonesia Sindhu Wardhana, menjelaskan salah satu tantangan utama dalam implementasi AI adalah inovasi yang berkembang tanpa koordinasi yang terstruktur antar unit organisasi. Sementara itu, tekanan regulasi terkait perlindungan data dan tata kelola teknologi juga semakin meningkat.
Menurut Sindhu, organisasi perlu mengambil langkah sistematis agar AI dapat diadopsi secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Empat langkah utama dalam membangun AI governance meliputi AI Readiness Assessment untuk mengukur kesiapan organisasi, pengembangan AI Governance Framework yang menetapkan peran dan tanggung jawab berbasis risiko, penerapan AI Assurance dan Audit untuk memastikan sistem yang aman dan patuh regulasi.
“Termasuk AI Project Assurance guna menjaga kualitas dan kontrol sejak tahap perencanaan hingga implementasi,” ucapnya.
Lihat Juga :