Ibas Ajak Influencer Bangun Konten Digital Positif dan Bertanggung Jawab
Sabtu, 28 Februari 2026 - 16:51 WIB
loading...
Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak para influencer, content creator, serta insan media di Ngawi, Jawa Timur untuk berperan aktif membangun konten digital yang positif. Foto/istimewa
A
A
A
MAGETAN - Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak para influencer, content creator, serta insan media di Ngawi, Jawa Timur untuk berperan aktif membangun ekosistem ruang digital yang sehat, edukatif, dan produktif. Hal itu dilakukan melalui konten yang positif serta bertanggung jawab.
Ajakan tersebut disampaikan Ibas dalam agenda audiensi bersama influencer daerah pemilihan Jawa Timur VII dalam rangkaian Reses Ramadan Religi, Menguatkan Negeri bertema Membangun Konten Positif dan Kolaboratif, yang diikuti ratusan kreator digital muda dari Ponorogo, Ngawi, Madiun, Magetan, dan wilayah sekitarnya, pada Jumat, 27 Februari 2026.
Ibas menegaskan bahwa perjuangan generasi masa kini tidak lagi terbatas pada ruang formal seperti parlemen maupun forum diskusi publik, tetapi juga berlangsung aktif di ruang digital.
Baca juga: Wakil Ketua MPR Tegaskan Peran Strategis Santri untuk Negeri
“Hari ini panggung perjuangan tidak hanya ada di parlemen atau mimbar, tetapi juga di media sosial. Setiap postingan, video, maupun narasi yang kita buat bisa menggerakkan, menginspirasi, bahkan menyatukan masyarakat. Namun satu informasi yang tidak benar juga dapat memecah belah bangsa,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa tanggung jawab moral juga berlaku dalam aktivitas digital sehari-hari.
Lihat video: AHY jadi Menteri ATR/BPN, Ibas: Kepercayaan Itu Datang Lebih Cepat
“Di bulan Ramadan kita belajar menahan diri, termasuk menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang menyakitkan, provokatif, ataupun menyesatkan. Konten adalah tanggung jawab moral. Apa yang kita tulis hari ini bisa menentukan arah bangsa ke depan,” lanjut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini.
Dalam forum dialog interaktif usai buka puasa bersama, Ibas secara khusus membuka ruang aspirasi bagi para kreator muda.
Farid, content creator asal Ponorogo, menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana kreator dapat memberikan kritik maupun apresiasi terhadap pembangunan tanpa dianggap melampaui batas atau merasa takut dalam berkarya.
Menanggapi hal tersebut, Ibas menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus berjalan seiring dengan nilai, etika, dan tanggung jawab publik.
“Memang isu yang kontroversial sering menarik perhatian. Tetapi kita harus kembali pada value yang kita pegang. Informasi harus berdasarkan fresh, fact, and right. Aktual, berbasis fakta, dan sesuai kebenaran,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi dan justru dibutuhkan dalam proses pembangunan nasional.
“Membuat konten dengan narasi membangun bukan berarti tidak boleh mengkritik. Kritik justru bisa membawa perubahan selama disampaikan dengan etika, data, dan niat yang baik. Jika tidak bersuara, ketidakbenaran justru bisa semakin berkembang,” tegas Ibas.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Fahrulza yang menyoroti peran paling penting content creator lokal dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurut Ibas, kekuatan terbesar kreator digital terletak pada kemampuannya memperkenalkan potensi daerah kepada publik yang lebih luas.
“Dampak besar bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu menjadi media yang mengekspose potensi daerah. Ketika kalian memperkenalkan wisata, budaya, atau produk lokal, bukan hanya daerah menjadi dikenal, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.
Ibas juga mengingatkan bahwa aktivitas di ruang digital meninggalkan rekam jejak jangka panjang sehingga integritas menjadi fondasi utama seorang kreator.
“Hari ini semua yang kita unggah menjadi jejak abadi. Karena itu niat, etika, dan profesionalisme harus selalu dijaga. Bedakan antara menyampaikan pandangan dengan ujaran kebencian,” ujarnya.
Lebih lanjut, lulusan doktoral IPB University tersebut kembali menegaskan pentingnya menjadikan prinsip fresh, fact, and right sebagai standar utama produksi konten digital di tengah derasnya arus informasi.
“Kita ingin ruang digital Indonesia sehat, bersih dari fitnah, kuat dengan fakta, dan kaya dengan ide serta kreativitas anak bangsa,” tambahnya.
Menutup kegiatan, Ibas mengajak seluruh influencer dan kreator muda menjadikan media sosial sebagai ruang kolaborasi, optimisme, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Kita tidak kekurangan talenta dan gagasan. Yang kita butuhkan adalah arah dan nilai yang jelas. Mari jadikan konten positif sebagai sedekah digital, karena setiap pesan baik yang kita sebarkan bisa menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi bangsa,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara pemerintah, media lokal, dan generasi kreatif digital semakin kuat dalam menghadirkan narasi pembangunan daerah sekaligus memperkuat persatuan nasional di era transformasi digital.
Ajakan tersebut disampaikan Ibas dalam agenda audiensi bersama influencer daerah pemilihan Jawa Timur VII dalam rangkaian Reses Ramadan Religi, Menguatkan Negeri bertema Membangun Konten Positif dan Kolaboratif, yang diikuti ratusan kreator digital muda dari Ponorogo, Ngawi, Madiun, Magetan, dan wilayah sekitarnya, pada Jumat, 27 Februari 2026.
Ibas menegaskan bahwa perjuangan generasi masa kini tidak lagi terbatas pada ruang formal seperti parlemen maupun forum diskusi publik, tetapi juga berlangsung aktif di ruang digital.
Baca juga: Wakil Ketua MPR Tegaskan Peran Strategis Santri untuk Negeri
“Hari ini panggung perjuangan tidak hanya ada di parlemen atau mimbar, tetapi juga di media sosial. Setiap postingan, video, maupun narasi yang kita buat bisa menggerakkan, menginspirasi, bahkan menyatukan masyarakat. Namun satu informasi yang tidak benar juga dapat memecah belah bangsa,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa tanggung jawab moral juga berlaku dalam aktivitas digital sehari-hari.
Lihat video: AHY jadi Menteri ATR/BPN, Ibas: Kepercayaan Itu Datang Lebih Cepat
“Di bulan Ramadan kita belajar menahan diri, termasuk menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang menyakitkan, provokatif, ataupun menyesatkan. Konten adalah tanggung jawab moral. Apa yang kita tulis hari ini bisa menentukan arah bangsa ke depan,” lanjut Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini.
Dalam forum dialog interaktif usai buka puasa bersama, Ibas secara khusus membuka ruang aspirasi bagi para kreator muda.
Farid, content creator asal Ponorogo, menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana kreator dapat memberikan kritik maupun apresiasi terhadap pembangunan tanpa dianggap melampaui batas atau merasa takut dalam berkarya.
Menanggapi hal tersebut, Ibas menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus berjalan seiring dengan nilai, etika, dan tanggung jawab publik.
“Memang isu yang kontroversial sering menarik perhatian. Tetapi kita harus kembali pada value yang kita pegang. Informasi harus berdasarkan fresh, fact, and right. Aktual, berbasis fakta, dan sesuai kebenaran,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi dan justru dibutuhkan dalam proses pembangunan nasional.
“Membuat konten dengan narasi membangun bukan berarti tidak boleh mengkritik. Kritik justru bisa membawa perubahan selama disampaikan dengan etika, data, dan niat yang baik. Jika tidak bersuara, ketidakbenaran justru bisa semakin berkembang,” tegas Ibas.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Fahrulza yang menyoroti peran paling penting content creator lokal dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurut Ibas, kekuatan terbesar kreator digital terletak pada kemampuannya memperkenalkan potensi daerah kepada publik yang lebih luas.
“Dampak besar bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu menjadi media yang mengekspose potensi daerah. Ketika kalian memperkenalkan wisata, budaya, atau produk lokal, bukan hanya daerah menjadi dikenal, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.
Ibas juga mengingatkan bahwa aktivitas di ruang digital meninggalkan rekam jejak jangka panjang sehingga integritas menjadi fondasi utama seorang kreator.
“Hari ini semua yang kita unggah menjadi jejak abadi. Karena itu niat, etika, dan profesionalisme harus selalu dijaga. Bedakan antara menyampaikan pandangan dengan ujaran kebencian,” ujarnya.
Lebih lanjut, lulusan doktoral IPB University tersebut kembali menegaskan pentingnya menjadikan prinsip fresh, fact, and right sebagai standar utama produksi konten digital di tengah derasnya arus informasi.
“Kita ingin ruang digital Indonesia sehat, bersih dari fitnah, kuat dengan fakta, dan kaya dengan ide serta kreativitas anak bangsa,” tambahnya.
Menutup kegiatan, Ibas mengajak seluruh influencer dan kreator muda menjadikan media sosial sebagai ruang kolaborasi, optimisme, serta kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Kita tidak kekurangan talenta dan gagasan. Yang kita butuhkan adalah arah dan nilai yang jelas. Mari jadikan konten positif sebagai sedekah digital, karena setiap pesan baik yang kita sebarkan bisa menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi bangsa,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi antara pemerintah, media lokal, dan generasi kreatif digital semakin kuat dalam menghadirkan narasi pembangunan daerah sekaligus memperkuat persatuan nasional di era transformasi digital.
(cip)
Lihat Juga :