Mengenal Tradisi Perempuan Sumba, Merawat Tenun Sumba Tetap Lestari
Sabtu, 14 Februari 2026 - 21:41 WIB
loading...
A
A
A
Program pembinaan ini melibatkan 50 peserta dari 4 komunitas yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, dengan rentang usia 25-45 tahun. Peserta didominasi penenun perempuan serta didukung oleh keterlibatan laki-laki sebagai pendukung ekosistem, khususnya pada pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam.
Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya. Dia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.
Keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan,” ucapnya.
Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami. Melalui pelatihan wastra warna alam, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur.
Diana memiliki peran penting dalam kolaborasi antara komunitas penenun di tempat tinggalnya. Dia merupakan penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dengan program pelatihan wastra warna alam, kemudian mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta program itu.
Keikutsertaan dalam pelatihan wastra warna alam membawa manfaat tidak sedikit. Salah satunya adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami, yang selama ini tidak diwariskan secara tertib meskipun merupakan bagian dari warisan leluhur.
“Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan,” ucapnya.
Selama ini para penenun telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian masih mengandalkan pewarna sintetis akibat keterbatasan pengetahuan tentang peracikan dan proses pewarnaan alami. Melalui pelatihan wastra warna alam, pengetahuan tersebut mulai dibagikan secara lebih terstruktur.
Lihat Juga :