Isu Sawit Mengemuka di USU, Mahasiswa Diminta Lawan Hoaks dengan Riset
Sabtu, 14 Februari 2026 - 14:32 WIB
loading...
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Hai Sawit Indonesia membuka ruang dialog terbuka melalui Sawit Academy Eps. USU di Medan, Sumatera Utara, dengan menghadirkan perspektif industri, akademisi, dan suara generasi muda.Foto/istimewa
A
A
A
MEDAN - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Hai Sawit Indonesia membuka ruang dialog terbuka melalui Sawit Academy Eps. USU di Medan, Sumatera Utara, dengan menghadirkan perspektif industri, akademisi, dan suara generasi muda. Diskusi ini membahas tentang isu strategis kelapa sawit di Indonesia.
Dalam sesi bertajuk “Perspektif dan Peran Generasi Muda Akademik dalam Literasi Sawit di Kehidupan Sehari-hari”, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Enjel menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Ia memaparkan nilai ekspor sawit Indonesia yang melonjak dari sekitar USD1 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar USD31 miliar pada 2023, mencerminkan peran penting sawit dalam perdagangan global.
Baca juga: USU Dorong Kebijakan Berbasis Riset dalam Kelola Industri Sawit dan Risiko Bencana
Menurut Enjel, sawit tidak hanya digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, tetapi juga menjadi komponen utama berbagai produk turunan seperti gliserin, asam lemak, dan fatty alcohol yang digunakan dalam industri pangan, kosmetik, hingga produk rumah tangga.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa isu lingkungan tetap menjadi tantangan serius bagi industri sawit, khususnya tudingan deforestasi di kawasan Asia Tenggara. “Apakah sawit satu-satunya penyebab deforestasi? Tidak,” tegasnya di hadapan peserta, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Mengutip data periode 1990–2018, Enjel menyebut sekitar 62% kebun sawit berasal dari lahan terdegradasi, 37 persen dari lahan pertanian dan perkebunan, dan kurang dari 1 persen dari hutan primer yang belum terganggu.
Lihat video: Prabowo Sebut Sawit sebagai Miracle Crop, Diminta Negara Lain
Sementara pada periode 2000–2022, kontribusi sawit terhadap deforestasi diperkirakan sekitar 15 persen, meski luas perkebunan meningkat signifikan. Ia menekankan bahwa hubungan antara sawit dan deforestasi bersifat kompleks dan tidak bisa disederhanakan dalam satu narasi tunggal.
“Sebagai generasi muda akademik, kita tidak boleh langsung percaya narasi ‘sawit sama dengan perusak hutan’ tanpa data. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sawit punya dampak lingkungan. Kuncinya adalah kritis, paham, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Enjel juga mendorong mahasiswa menjadi agen pengetahuan, bukan sekadar konsumen opini—menghadirkan edukasi berbasis data, mendukung praktik sawit berkelanjutan, serta melawan hoaks melalui riset dan teknologi.
Kegiatan ini menegaskan bahwa literasi sawit tidak hanya dibangun oleh industri dan pemerintah, tetapi juga oleh ruang kampus dan partisipasi generasi muda.
Sawit Academy di USU menjadi cerminan bahwa masa depan industri sawit Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab.
Dalam sesi bertajuk “Perspektif dan Peran Generasi Muda Akademik dalam Literasi Sawit di Kehidupan Sehari-hari”, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Enjel menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang menjadi penggerak ekonomi nasional.
Ia memaparkan nilai ekspor sawit Indonesia yang melonjak dari sekitar USD1 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar USD31 miliar pada 2023, mencerminkan peran penting sawit dalam perdagangan global.
Baca juga: USU Dorong Kebijakan Berbasis Riset dalam Kelola Industri Sawit dan Risiko Bencana
Menurut Enjel, sawit tidak hanya digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, tetapi juga menjadi komponen utama berbagai produk turunan seperti gliserin, asam lemak, dan fatty alcohol yang digunakan dalam industri pangan, kosmetik, hingga produk rumah tangga.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa isu lingkungan tetap menjadi tantangan serius bagi industri sawit, khususnya tudingan deforestasi di kawasan Asia Tenggara. “Apakah sawit satu-satunya penyebab deforestasi? Tidak,” tegasnya di hadapan peserta, dikutip Sabtu (14/2/2026).
Mengutip data periode 1990–2018, Enjel menyebut sekitar 62% kebun sawit berasal dari lahan terdegradasi, 37 persen dari lahan pertanian dan perkebunan, dan kurang dari 1 persen dari hutan primer yang belum terganggu.
Lihat video: Prabowo Sebut Sawit sebagai Miracle Crop, Diminta Negara Lain
Sementara pada periode 2000–2022, kontribusi sawit terhadap deforestasi diperkirakan sekitar 15 persen, meski luas perkebunan meningkat signifikan. Ia menekankan bahwa hubungan antara sawit dan deforestasi bersifat kompleks dan tidak bisa disederhanakan dalam satu narasi tunggal.
“Sebagai generasi muda akademik, kita tidak boleh langsung percaya narasi ‘sawit sama dengan perusak hutan’ tanpa data. Tapi kita juga tidak boleh menutup mata bahwa sawit punya dampak lingkungan. Kuncinya adalah kritis, paham, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Enjel juga mendorong mahasiswa menjadi agen pengetahuan, bukan sekadar konsumen opini—menghadirkan edukasi berbasis data, mendukung praktik sawit berkelanjutan, serta melawan hoaks melalui riset dan teknologi.
Kegiatan ini menegaskan bahwa literasi sawit tidak hanya dibangun oleh industri dan pemerintah, tetapi juga oleh ruang kampus dan partisipasi generasi muda.
Sawit Academy di USU menjadi cerminan bahwa masa depan industri sawit Indonesia sangat ditentukan oleh generasi muda yang kritis, objektif, dan bertanggung jawab.
(cip)
Lihat Juga :