Pemkab Sukabumi Perkuat Energi Terbarukan Lewat Kolaborasi Desa
Jum'at, 13 Februari 2026 - 19:59 WIB
loading...
Pemkab Sukabumi meresmikan pemanfaatan fasilitas biogas di Kampung Cihurang, Desa Cidadap. Foto: Istimewa
A
A
A
SUKABUMI - Bupati Sukabumi meresmikan pemanfaatan fasilitas biogas di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, Kamis 12 Februari 2026. Termasuk Solar Dryer House di Kampung Tegallega, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.
Pembangunan fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Energi dan PT Insight Investments Management (PT IIM) dalam memperluas cakupan Program Desa Energi Insight. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari Proyek Pro Women 3 yang didanai oleh Ford Foundation.
Peresmian ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal. Dalam sambutannya, Bupati Sukabumi Asep Japar menegaskan pentingnya pembangunan energi terbarukan yang memberi manfaat langsung bagi warga.
Baca juga: Cetak Generasi Unggul, PT IIM dan YKSE Salurkan Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa
“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik, termasuk potensi sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional.
Melalui instalasi ini, limbah organik diolah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan biogas juga berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG dan berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO₂e per tahun.
Residu biogas dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk cair dan padat untuk mendukung pertanian ramah lingkungan. PT Insight Investments Management (PT IIM), perusahaan manajer investasi sekaligus pionir reksa dana berdampak sosial di Indonesia, menegaskan komitmennya dalam pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.
Komisaris Utama PT IIM, Anak Agung Gde Wisnu Wardhana menyampaikan bahwa inisiatif di Sukabumi merupakan bagian dari rangkaian program yang telah berjalan di berbagai daerah.
“Agenda pembangunan biogas dan Solar Dryer House ini merupakan bagian dari rangkaian program Desa Energi Insight yang sebelumnya telah dilaksanakan di Desa Tanjung Boleng, Nusa Tenggara Timur, serta di Karang Sidemen, Lombok Tengah dan kemudian di Lampung Timur. Kami melihat bahwa pengembangan energi terbarukan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekonomi lokal, ketahanan pangan, serta kualitas hidup masyarakat desa yang berwawasan lingkungan,” ujar Agung.
PT IIM mengusung tagline Transforming Investment into Social Impact, menghadirkan produk investasi yang tidak hanya berorientasi pada kinerja keuangan, tetapi juga mendorong dampak sosial berkelanjutan. Program Desa Energi Insight merupakan bagian dari fitur Corporate Social Responsibility (CSR) produk Reksa Dana Pendapatan Tetap Insight Renewable Energy Fund (I-Renewable).
Program ini didukung oleh penyisihan sebagian management fee produk tersebut. Selain di Sukabumi, dukungan juga diberikan pada berbagai program energi terbarukan lainnya, termasuk pengembangan mesin pengering tenaga surya untuk rumput laut di Nusa Penida, Bali.
Direktur Rumah Energi Sumanda Tondang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam keberlanjutan program. “Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Solar Dryer House di Kampung Tegallega menjadi solusi atas tantangan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka. Teknologi berbasis energi matahari ini menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Rangkaian kegiatan ini juga mencakup edukasi literasi keuangan bagi kelompok perempuan di Desa Cidadap dan Desa Loji yang dilaksanakan pada 27 Januari lalu. Pelatihan meliputi perencanaan keuangan, pengelolaan tabungan, serta pengambilan keputusan keuangan yang bijak.
Agung menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga. “Kami percaya bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal penguatan kapasitas masyarakat. Ketika energi bersih dikembangkan bersamaan dengan peningkatan literasi dan kemandirian ekonomi, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” lanjutnya.
Melalui peresmian ini, masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya dan keuangan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta diharapkan menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi.
Pembangunan fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Rumah Energi dan PT Insight Investments Management (PT IIM) dalam memperluas cakupan Program Desa Energi Insight. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari Proyek Pro Women 3 yang didanai oleh Ford Foundation.
Peresmian ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis masyarakat sekaligus menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal. Dalam sambutannya, Bupati Sukabumi Asep Japar menegaskan pentingnya pembangunan energi terbarukan yang memberi manfaat langsung bagi warga.
Baca juga: Cetak Generasi Unggul, PT IIM dan YKSE Salurkan Beasiswa Pendidikan untuk Mahasiswa
“Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Program biogas di Kampung Cihurang memanfaatkan limbah organik, termasuk potensi sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berdasarkan data Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN), sampah sisa makanan masih menjadi kontributor terbesar timbunan sampah nasional.
Melalui instalasi ini, limbah organik diolah menjadi energi bersih untuk kebutuhan memasak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan biogas juga berkontribusi pada pengurangan ketergantungan terhadap LPG dan berpotensi menurunkan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO₂e per tahun.
Residu biogas dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk cair dan padat untuk mendukung pertanian ramah lingkungan. PT Insight Investments Management (PT IIM), perusahaan manajer investasi sekaligus pionir reksa dana berdampak sosial di Indonesia, menegaskan komitmennya dalam pengembangan energi terbarukan berbasis masyarakat.
Komisaris Utama PT IIM, Anak Agung Gde Wisnu Wardhana menyampaikan bahwa inisiatif di Sukabumi merupakan bagian dari rangkaian program yang telah berjalan di berbagai daerah.
“Agenda pembangunan biogas dan Solar Dryer House ini merupakan bagian dari rangkaian program Desa Energi Insight yang sebelumnya telah dilaksanakan di Desa Tanjung Boleng, Nusa Tenggara Timur, serta di Karang Sidemen, Lombok Tengah dan kemudian di Lampung Timur. Kami melihat bahwa pengembangan energi terbarukan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekonomi lokal, ketahanan pangan, serta kualitas hidup masyarakat desa yang berwawasan lingkungan,” ujar Agung.
PT IIM mengusung tagline Transforming Investment into Social Impact, menghadirkan produk investasi yang tidak hanya berorientasi pada kinerja keuangan, tetapi juga mendorong dampak sosial berkelanjutan. Program Desa Energi Insight merupakan bagian dari fitur Corporate Social Responsibility (CSR) produk Reksa Dana Pendapatan Tetap Insight Renewable Energy Fund (I-Renewable).
Program ini didukung oleh penyisihan sebagian management fee produk tersebut. Selain di Sukabumi, dukungan juga diberikan pada berbagai program energi terbarukan lainnya, termasuk pengembangan mesin pengering tenaga surya untuk rumput laut di Nusa Penida, Bali.
Direktur Rumah Energi Sumanda Tondang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam keberlanjutan program. “Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” jelasnya.
Solar Dryer House di Kampung Tegallega menjadi solusi atas tantangan pengeringan pascapanen bawang merah dan padi yang selama ini masih bergantung pada penjemuran terbuka. Teknologi berbasis energi matahari ini menjaga kestabilan suhu sehingga kualitas hasil panen lebih merata dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Rangkaian kegiatan ini juga mencakup edukasi literasi keuangan bagi kelompok perempuan di Desa Cidadap dan Desa Loji yang dilaksanakan pada 27 Januari lalu. Pelatihan meliputi perencanaan keuangan, pengelolaan tabungan, serta pengambilan keputusan keuangan yang bijak.
Agung menegaskan bahwa literasi keuangan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga. “Kami percaya bahwa transisi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal penguatan kapasitas masyarakat. Ketika energi bersih dikembangkan bersamaan dengan peningkatan literasi dan kemandirian ekonomi, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan,” lanjutnya.
Melalui peresmian ini, masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap energi ramah lingkungan, tetapi juga diperkuat kapasitasnya dalam mengelola sumber daya dan keuangan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan sektor swasta diharapkan menjadi model pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sukabumi.
(rca)
Lihat Juga :