Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta 2025 Lampaui Nasional
Kamis, 05 Februari 2026 - 23:46 WIB
loading...
Perekonomian DKI Jakarta catatkan akselerasi pertumbuhan sebesar 5,71% pada akhir 2025. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perekonomian DKI Jakarta catatkan akselerasi pertumbuhan sebesar 5,71% pada akhir 2025. Capaian ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,96%.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta Iwan Setiawan menjelaskan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS). Tercatat DKI Jakarta masih menopang perekonomian nasional sebesar 16,61%.
"Dari sisi permintaan, akselerasi pertumbuhan ekonomi didukung oleh menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh LU Perdagangan, LU Jasa Keuangan, serta LU Konstruksi," terang Iwan, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Ekonomi Jakarta Tumbuh 4,90 Persen di 2024, BI Ungkap Penopangnya
Dalam data itu pula, Iwan melihat pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan yang tercatat sebesar 5,11%.
Secara rinci, Iwan menjelaskan peningkatan konsumsi rumah tangga sebesar 5,51% didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, penyelenggaraan berbagai event dan kegiatan MICE pada akhir tahun, serta didukung oleh perbaikan pendapatan masyarakat seiring dengan implementasi paket insentif pemerintah, seperti bantuan sosial dan diskon pajak.
Selain itu, adanya investasi juga turut menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jakarta dengan laju pertumbuhan sebesar 6,81%, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 3,67%.
Lihat video: Q3, Ekonomi jakarta Tumbuh 4,93 Persen
"Peningkatan investasi didukung oleh tingginya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), akselerasi penyelesaian proyek menjelang tutup buku akhir tahun, berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis Pemerintah dan swasta yang bersifat multitahun, serta meningkatnya impor barang modal," jelas Iwan, Kamis (5/2/2026).
Sekalipun konsumsi Pemerintah tetap tumbuh positif sebesar 8,60%, namun mengalami perlambatan secara tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya 19,96%. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh akselerasi pelaksanaan program prioritas pemerintah yang telah dilakukan sejak triwulan III 2025, frontloading realisasi belanja pada triwulan sebelumnya yang tercermin dari tingginya pertumbuhan konsumsi Pemerintah pada triwulan III 2025, serta lebih rendahnya realisasi belanja modal non-bangunan.
Begitupun dengan ekspor tetap tumbuh sebesar 7,62 persen, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 8,62 persen. Pertumbuhan ekspor terutama ditopang oleh ekspor otomotif, pakaian, produk kimia, dan barang manufaktur. Sementara, impor tumbuh sebesar 8,67% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (7,96%; yoy), terutama dari impor barang konsumsi, serta impor barang modal dan bahan baku.
Sementara dari sisi Lapangan Usaha, perekonomian DKI Jakarta terutama ditopang oleh LU Perdagangan yang tumbuh 6,55% dibandingkan triwulan sebelumnya 5,15%. Kinerja positif ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga pada akhir tahun.
Ke depan, Iwan menegaskan pihaknya akan terus memperkuat peran dan kontribusi dalam mendukung stabilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain difokuskan pada sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan ekonomi kreatif serta penyelenggaraan event strategis seperti Jakarta Economic Forum (JEF) dan Jakarta Kreatif Festival (JKF).
"Upaya tersebut diharapkan dapat berperan sebagai game changer dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di DKI Jakarta sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan," ucapnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jakarta Iwan Setiawan menjelaskan berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS). Tercatat DKI Jakarta masih menopang perekonomian nasional sebesar 16,61%.
"Dari sisi permintaan, akselerasi pertumbuhan ekonomi didukung oleh menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh LU Perdagangan, LU Jasa Keuangan, serta LU Konstruksi," terang Iwan, Kamis (5/2/2026).
Baca juga: Ekonomi Jakarta Tumbuh 4,90 Persen di 2024, BI Ungkap Penopangnya
Dalam data itu pula, Iwan melihat pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan yang tercatat sebesar 5,11%.
Secara rinci, Iwan menjelaskan peningkatan konsumsi rumah tangga sebesar 5,51% didorong oleh momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, penyelenggaraan berbagai event dan kegiatan MICE pada akhir tahun, serta didukung oleh perbaikan pendapatan masyarakat seiring dengan implementasi paket insentif pemerintah, seperti bantuan sosial dan diskon pajak.
Selain itu, adanya investasi juga turut menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Jakarta dengan laju pertumbuhan sebesar 6,81%, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 3,67%.
Lihat video: Q3, Ekonomi jakarta Tumbuh 4,93 Persen
"Peningkatan investasi didukung oleh tingginya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), akselerasi penyelesaian proyek menjelang tutup buku akhir tahun, berlanjutnya pembangunan berbagai proyek strategis Pemerintah dan swasta yang bersifat multitahun, serta meningkatnya impor barang modal," jelas Iwan, Kamis (5/2/2026).
Sekalipun konsumsi Pemerintah tetap tumbuh positif sebesar 8,60%, namun mengalami perlambatan secara tahunan dibandingkan triwulan sebelumnya 19,96%. Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh akselerasi pelaksanaan program prioritas pemerintah yang telah dilakukan sejak triwulan III 2025, frontloading realisasi belanja pada triwulan sebelumnya yang tercermin dari tingginya pertumbuhan konsumsi Pemerintah pada triwulan III 2025, serta lebih rendahnya realisasi belanja modal non-bangunan.
Begitupun dengan ekspor tetap tumbuh sebesar 7,62 persen, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 8,62 persen. Pertumbuhan ekspor terutama ditopang oleh ekspor otomotif, pakaian, produk kimia, dan barang manufaktur. Sementara, impor tumbuh sebesar 8,67% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (7,96%; yoy), terutama dari impor barang konsumsi, serta impor barang modal dan bahan baku.
Sementara dari sisi Lapangan Usaha, perekonomian DKI Jakarta terutama ditopang oleh LU Perdagangan yang tumbuh 6,55% dibandingkan triwulan sebelumnya 5,15%. Kinerja positif ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga pada akhir tahun.
Ke depan, Iwan menegaskan pihaknya akan terus memperkuat peran dan kontribusi dalam mendukung stabilitas serta pertumbuhan ekonomi daerah, antara lain difokuskan pada sinergi dan kolaborasi dalam pengembangan ekonomi kreatif serta penyelenggaraan event strategis seperti Jakarta Economic Forum (JEF) dan Jakarta Kreatif Festival (JKF).
"Upaya tersebut diharapkan dapat berperan sebagai game changer dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru di DKI Jakarta sehingga mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap tinggi, inklusif, dan berkelanjutan," ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :