Pembangunan Jalan Rawa Wanam untuk Dukung Ketahanan Pangan Hadapi Tantangan Berat
Senin, 02 Februari 2026 - 18:14 WIB
loading...
Pembangunan jalan akses di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan menghadapi tantangan berat. Foto/istimewa
A
A
A
PAPUA - Pembangunan jalan akses di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan menghadapi tantangan berat. Hal itu disebabkan kondisi alam rawa berlumpur, curah hujan tinggi, dan pasang surut air laut.
Infrastruktur tersebut dibangun untuk mendukung pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) atau food estate Wanam yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ketahanan pangan.
Wanam diproyeksikan sebagai pusat Cadangan Pangan Nasional melalui program cetak sawah baru seluas 1 juta hektare. Untuk mendukung distribusi logistik, mobilisasi alat berat, dan pengangkutan hasil pertanian, pembangunan akses darat menjadi kebutuhan utama di kawasan tersebut.
Jalan sepanjang 135 kilometer yang menghubungkan Wanam dengan Merauke dibangun di atas lahan rawa dengan daya dukung tanah yang rendah. Kondisi tersebut menyebabkan proses konstruksi berlangsung bertahap dan memerlukan metode khusus agar badan jalan dapat dilalui kendaraan berat.
Baca juga: Percepat Pembangunan, Gubernur Papua Selatan Usul Revisi UU Otonomi Khusus
Hingga akhir Januari 2026, progres fisik pembangunan jalan telah mencapai sekitar 58 kilometer. Sebagian ruas telah dipadatkan dan dapat digunakan untuk menunjang aktivitas proyek pengembangan kawasan pangan.
Tim Survei Jhonlin Group Alex Bastomi mengatakan pembangunan tetap berjalan meski menghadapi tantangan medan yang berat. Alex menjelaskan, perintisan jalan telah mencapai 58,44 kilometer, sementara jalan yang sudah diperkeras sepanjang 11,53 kilometer. Selain itu, pembukaan lahan telah dilakukan seluas 9.781 hektare.
Alex menyebutkan, ruas jalan yang telah diperkeras sudah bisa dilalui kendaraan pengangkut material pembangunan proyek PSN. “Itu sudah bisa (dilewati) karena sudah kita perkeras dengan batu,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Lihat video: Swasembada Energi! Prabowo Minta Papua Tanam Sawit, Singkong, dan Tebu
Alex menjelaskan pihaknya terus berupaya mempercepat penyelesaian pembangunan jalan tersebut agar konektivitas kawasan pangan dapat segera terwujud. “Kita usahakan secepatnya (untuk rampung),” ucapnya.
Perjuangan pembangunan akses darat tersebut turut dirasakan masyarakat setempat. Ulus, warga asli Merauke yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut material, menyatakan kondisi akses di Wanam saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Ulus mengaku pernah bekerja sebagai tenaga harian survei saat pembangunan dermaga (jetty) Wanam pertama kali direncanakan. “Sebelumnya saya di sini (kerja) harian survei untuk pas bangun Jetty ini,” kata Ulus.
Menurut Ulus, sebelum adanya jalan darat, mobilitas di kawasan tersebut sangat terbatas karena kondisi tanah berlumpur dan ketergantungan pada jalur air.
“Kalau sebelumnya di sini setengah mati (jalannya), karena daerahnya ini lumpur. Sekarang sudah mendinglah,” ungkapnya.
Pembangunan jalan KSPP Wanam juga dilengkapi sistem drainase terintegrasi untuk menjaga stabilitas badan jalan di atas rawa sekaligus mendukung pengelolaan tata air lahan pertanian.
Infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar distribusi logistik, menekan biaya transportasi, serta menjadi fondasi pengembangan kawasan lumbung pangan nasional di Papua Selatan.
Infrastruktur tersebut dibangun untuk mendukung pengembangan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) atau food estate Wanam yang menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ketahanan pangan.
Wanam diproyeksikan sebagai pusat Cadangan Pangan Nasional melalui program cetak sawah baru seluas 1 juta hektare. Untuk mendukung distribusi logistik, mobilisasi alat berat, dan pengangkutan hasil pertanian, pembangunan akses darat menjadi kebutuhan utama di kawasan tersebut.
Jalan sepanjang 135 kilometer yang menghubungkan Wanam dengan Merauke dibangun di atas lahan rawa dengan daya dukung tanah yang rendah. Kondisi tersebut menyebabkan proses konstruksi berlangsung bertahap dan memerlukan metode khusus agar badan jalan dapat dilalui kendaraan berat.
Baca juga: Percepat Pembangunan, Gubernur Papua Selatan Usul Revisi UU Otonomi Khusus
Hingga akhir Januari 2026, progres fisik pembangunan jalan telah mencapai sekitar 58 kilometer. Sebagian ruas telah dipadatkan dan dapat digunakan untuk menunjang aktivitas proyek pengembangan kawasan pangan.
Tim Survei Jhonlin Group Alex Bastomi mengatakan pembangunan tetap berjalan meski menghadapi tantangan medan yang berat. Alex menjelaskan, perintisan jalan telah mencapai 58,44 kilometer, sementara jalan yang sudah diperkeras sepanjang 11,53 kilometer. Selain itu, pembukaan lahan telah dilakukan seluas 9.781 hektare.
Alex menyebutkan, ruas jalan yang telah diperkeras sudah bisa dilalui kendaraan pengangkut material pembangunan proyek PSN. “Itu sudah bisa (dilewati) karena sudah kita perkeras dengan batu,” ujarnya, Senin (2/2/2026).
Lihat video: Swasembada Energi! Prabowo Minta Papua Tanam Sawit, Singkong, dan Tebu
Alex menjelaskan pihaknya terus berupaya mempercepat penyelesaian pembangunan jalan tersebut agar konektivitas kawasan pangan dapat segera terwujud. “Kita usahakan secepatnya (untuk rampung),” ucapnya.
Perjuangan pembangunan akses darat tersebut turut dirasakan masyarakat setempat. Ulus, warga asli Merauke yang bekerja sebagai sopir truk pengangkut material, menyatakan kondisi akses di Wanam saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Ulus mengaku pernah bekerja sebagai tenaga harian survei saat pembangunan dermaga (jetty) Wanam pertama kali direncanakan. “Sebelumnya saya di sini (kerja) harian survei untuk pas bangun Jetty ini,” kata Ulus.
Menurut Ulus, sebelum adanya jalan darat, mobilitas di kawasan tersebut sangat terbatas karena kondisi tanah berlumpur dan ketergantungan pada jalur air.
“Kalau sebelumnya di sini setengah mati (jalannya), karena daerahnya ini lumpur. Sekarang sudah mendinglah,” ungkapnya.
Pembangunan jalan KSPP Wanam juga dilengkapi sistem drainase terintegrasi untuk menjaga stabilitas badan jalan di atas rawa sekaligus mendukung pengelolaan tata air lahan pertanian.
Infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar distribusi logistik, menekan biaya transportasi, serta menjadi fondasi pengembangan kawasan lumbung pangan nasional di Papua Selatan.
(cip)
Lihat Juga :