Mendagri Minta Warga Direlokasi dan Reboisasi Kawasan Rawan Longsor di Cisarua Bandung
Senin, 26 Januari 2026 - 07:03 WIB
loading...
Mendagri Muhammad Tito Karnavian, mendorong percepatan relokasi warga dari kawasan rawan longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Muhammad Tito Karnavian, mendorong percepatan relokasi warga dari kawasan rawan longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat (Jabar). Tito juga meminta penguatan tata ruang di daerah rawan bencana, seperti reboisasai.
Tito menilai, relokasi warga dari kawasan rawan longsor penting demi keselamatan. Menurut Tito, wilayah tersebut tidak lagi layak untuk dihuni. Selain relokasi, Tito juga mendorong upaya reboisasi dengan menanam kembali tanaman berakar kuat guna memperkuat struktur tanah.
“Ini harus direboisasi, ditanam. Tanaman-tanaman yang akarnya keras, supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali. Kalau kembali lagi nanti akan longsor lagi,” kata Tito usai meninjau lokasi, Minggu (25/1/2026).
Baca juga: Antisipasi Longsor Susulan, 232 Warga di Desa Pasir Langu Bandung Barat Diungsikan
Tito juga meminta, seluruh perangkat pemerintahan fokus mencari korban yang masih hilang serta memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Tito pun mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam penanganan darurat, mulai dari pemerintah daerah (Pemda), TNI, Polri, relawan, hingga pemerintah pusat.
“Dari Pak Gubernur, kemudian dari Pak Bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat, semua bergerak untuk membantu,” ungkapnya.
Selain faktor hujan deras, kata Tito, kondisi struktur tanah di wilayah tersebut menjadi salah satu penyebab utama terjadinya longsor. Menurutnya, tanah di kawasan itu bersifat gembur sehingga kurang kokoh menahan beban.
Lihat video: Tangis dan Harapan di Tengah Longsor Maut: 80 Orang Masih Hilang
Tito juga menyoroti perubahan fungsi vegetasi di kawasan perbukitan yang dinilai memperparah risiko bencana. Banyak tanaman pelindung berakar kuat yang digantikan dengan tanaman hortikultura.
“Tanaman pelindungnya yang akarnya menancap ke dalam ya, yang bisa memperkuat struktur tanah itu, banyak berganti hortikultura, sayur-sayuran lain-lain ini ya. Nah itu membuat rentan sekali kalau terjadi hujan deras,” katanya.
Kendati demikian, Tito menekankan, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia, khususnya dalam memperkuat tata ruang dan pemetaan wilayah rawan bencana. Menurutnya, pemetaan tersebut perlu dilakukan secara nasional oleh seluruh kepala daerah guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
"Setiap Bupati, Wali Kota, Gubernur harus kita petakan secara nasional. Untuk kita memikirkan potensi kalau terjadi kerawanan hidrometeorologi seperti ini, hujan lebat, hujan deras," tandasnya.
Tito menilai, relokasi warga dari kawasan rawan longsor penting demi keselamatan. Menurut Tito, wilayah tersebut tidak lagi layak untuk dihuni. Selain relokasi, Tito juga mendorong upaya reboisasi dengan menanam kembali tanaman berakar kuat guna memperkuat struktur tanah.
“Ini harus direboisasi, ditanam. Tanaman-tanaman yang akarnya keras, supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali. Kalau kembali lagi nanti akan longsor lagi,” kata Tito usai meninjau lokasi, Minggu (25/1/2026).
Baca juga: Antisipasi Longsor Susulan, 232 Warga di Desa Pasir Langu Bandung Barat Diungsikan
Tito juga meminta, seluruh perangkat pemerintahan fokus mencari korban yang masih hilang serta memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Tito pun mengapresiasi sinergi berbagai pihak dalam penanganan darurat, mulai dari pemerintah daerah (Pemda), TNI, Polri, relawan, hingga pemerintah pusat.
“Dari Pak Gubernur, kemudian dari Pak Bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat, semua bergerak untuk membantu,” ungkapnya.
Selain faktor hujan deras, kata Tito, kondisi struktur tanah di wilayah tersebut menjadi salah satu penyebab utama terjadinya longsor. Menurutnya, tanah di kawasan itu bersifat gembur sehingga kurang kokoh menahan beban.
Lihat video: Tangis dan Harapan di Tengah Longsor Maut: 80 Orang Masih Hilang
Tito juga menyoroti perubahan fungsi vegetasi di kawasan perbukitan yang dinilai memperparah risiko bencana. Banyak tanaman pelindung berakar kuat yang digantikan dengan tanaman hortikultura.
“Tanaman pelindungnya yang akarnya menancap ke dalam ya, yang bisa memperkuat struktur tanah itu, banyak berganti hortikultura, sayur-sayuran lain-lain ini ya. Nah itu membuat rentan sekali kalau terjadi hujan deras,” katanya.
Kendati demikian, Tito menekankan, kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi daerah lain di Indonesia, khususnya dalam memperkuat tata ruang dan pemetaan wilayah rawan bencana. Menurutnya, pemetaan tersebut perlu dilakukan secara nasional oleh seluruh kepala daerah guna mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi.
"Setiap Bupati, Wali Kota, Gubernur harus kita petakan secara nasional. Untuk kita memikirkan potensi kalau terjadi kerawanan hidrometeorologi seperti ini, hujan lebat, hujan deras," tandasnya.
(cip)
Lihat Juga :