Kapolda Riau: Masa Depan Lingkungan dan Kehidupan Sosial Bergantung Generasi Muda
Kamis, 15 Januari 2026 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Menurut jenderal lulusan Akpol 1996 ini, kepemimpinan yang paling murni justru lahir dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dia menekankan generasi muda hari ini hidup di tengah tiga krisis besar sekaligus yakni krisis iklim, krisis kepercayaan, dan krisis kepedulian.
Krisis iklim tidak lagi menjadi isu yang jauh melainkan hadir dalam banjir yang semakin sering, kemarau yang makin panjang, serta kabut asap yang pernah menutup langit Riau.
Namun, arah krisis tersebut ditentukan oleh pilihan manusia antara merawat atau merusak, peduli atau mengabaikan. “Cara kita memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi setelah kita. Hutan ini bukan warisan dari leluhur kita, tetapi titipan dari anak cucu kita di masa yang akan datang,” ungkapnya.
Pada aspek sosial, Herry mengingatkan bahwa krisis kepercayaan ditandai dengan mudahnya hoaks menyebar dan kebencian menjadi lebih viral dibandingkan kebaikan.
Menurut dia, pentingnya etika digital, verifikasi informasi, serta keberanian bersikap jujur sebagai fondasi membangun kembali kepercayaan publik baik antarwarga maupun terhadap institusi.
“Setiap kali kalian memilih berkata jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang menenun kembali benang kepercayaan yang rapuh itu. Itu adalah kerja kepemimpinan meskipun sering tidak terlihat,” ucapnya.
Krisis iklim tidak lagi menjadi isu yang jauh melainkan hadir dalam banjir yang semakin sering, kemarau yang makin panjang, serta kabut asap yang pernah menutup langit Riau.
Namun, arah krisis tersebut ditentukan oleh pilihan manusia antara merawat atau merusak, peduli atau mengabaikan. “Cara kita memperlakukan alam hari ini akan menentukan kualitas hidup generasi setelah kita. Hutan ini bukan warisan dari leluhur kita, tetapi titipan dari anak cucu kita di masa yang akan datang,” ungkapnya.
Pada aspek sosial, Herry mengingatkan bahwa krisis kepercayaan ditandai dengan mudahnya hoaks menyebar dan kebencian menjadi lebih viral dibandingkan kebaikan.
Menurut dia, pentingnya etika digital, verifikasi informasi, serta keberanian bersikap jujur sebagai fondasi membangun kembali kepercayaan publik baik antarwarga maupun terhadap institusi.
“Setiap kali kalian memilih berkata jujur, memverifikasi informasi sebelum membagikannya, dan mendengar sebelum menghakimi, kalian sedang menenun kembali benang kepercayaan yang rapuh itu. Itu adalah kerja kepemimpinan meskipun sering tidak terlihat,” ucapnya.
Lihat Juga :