Semangati Korban Ambruknya Ponpes Al-Khoziny, Cak Imin: Segera Bangkit, Jangan Patah Arang
Sabtu, 27 Desember 2025 - 19:47 WIB
loading...
Dua santri korban ambruknya musala Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo diangkat anak oleh Cak Imin dan kini mengisi masa libur sekolah dengan berkunjung ke Jakarta. Foto/Rakhmatulloh
A
A
A
JAKARTA - Dua santri korban ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur mengisi masa libur sekolah dengan berkunjung ke Jakarta. Kunjungan tersebut difasilitasi langsung oleh Ketua Umum PKB, Abdul Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin.
Cak Imin mengaku senang dapat memfasilitasi kedua santri tersebut untuk menikmati suasana Ibu Kota sekaligus memberikan pengalaman baru di tengah masa pemulihan pascamusibah.
Baca juga: 63 Santri Korban Meninggal Akibat Runtuhnya Musala Ponpes Al Khoziny Teridentifikasi
“Ini momen libur sekolah. Saya senang bisa mengajak mereka ke Jakarta agar punya pengalaman baru dan semangat yang lebih besar untuk menatap masa depan,” ujar Cak Imin saat menemani dua santri beserta keluarganya di Jakarta, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, keterbatasan fisik yang dialami para santri tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Ia menegaskan bahwa para santri korban musibah tersebut tetap memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang cemerlang.
Lebih lanjut, Cak Imin menyatakan komitmennya untuk mengangkat santri korban ambruknya musala Pesantren Al Khoziny sebagai anak angkat.
Baca juga: Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Cek Kesiapan Rekontruksi Pesantren Al Khoziny
Sejumlah santri yang diangkat menjadi anak angkat tersebut antara lain Haikal, Syaiful Rozi, Nur Ahmad, dan Maulana, yang mengalami amputasi akibat tertimpa reruntuhan musala yang ambruk beberapa waktu lalu.
Cak Imin menegaskan bahwa komitmen tersebut tidak bersifat sementara. Ia berjanji akan mendampingi para santri dalam jangka panjang, terutama dalam memastikan keberlanjutan pendidikan, pendampingan psikososial, serta pemenuhan kebutuhan hidup mereka ke depan.
“Ini bukan sekadar bantuan sesaat. Saya berkomitmen mendampingi mereka dalam jangka panjang. Pendidikan mereka harus tetap berjalan, masa depan mereka harus terjamin,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran dan kepedulian terhadap para korban musibah merupakan tanggung jawab bersama.
“Saya ingin mereka tetap punya mimpi besar. Keterbatasan fisik tidak boleh mematikan harapan. Mereka tidak boleh berjalan sendiri,” pungkas Cak Imin.
Cak Imin mengaku senang dapat memfasilitasi kedua santri tersebut untuk menikmati suasana Ibu Kota sekaligus memberikan pengalaman baru di tengah masa pemulihan pascamusibah.
Baca juga: 63 Santri Korban Meninggal Akibat Runtuhnya Musala Ponpes Al Khoziny Teridentifikasi
“Ini momen libur sekolah. Saya senang bisa mengajak mereka ke Jakarta agar punya pengalaman baru dan semangat yang lebih besar untuk menatap masa depan,” ujar Cak Imin saat menemani dua santri beserta keluarganya di Jakarta, Sabtu (27/12/2025).
Menurutnya, keterbatasan fisik yang dialami para santri tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Ia menegaskan bahwa para santri korban musibah tersebut tetap memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang cemerlang.
Lebih lanjut, Cak Imin menyatakan komitmennya untuk mengangkat santri korban ambruknya musala Pesantren Al Khoziny sebagai anak angkat.
Baca juga: Kementerian Pemberdayaan Masyarakat Cek Kesiapan Rekontruksi Pesantren Al Khoziny
Sejumlah santri yang diangkat menjadi anak angkat tersebut antara lain Haikal, Syaiful Rozi, Nur Ahmad, dan Maulana, yang mengalami amputasi akibat tertimpa reruntuhan musala yang ambruk beberapa waktu lalu.
Cak Imin menegaskan bahwa komitmen tersebut tidak bersifat sementara. Ia berjanji akan mendampingi para santri dalam jangka panjang, terutama dalam memastikan keberlanjutan pendidikan, pendampingan psikososial, serta pemenuhan kebutuhan hidup mereka ke depan.
“Ini bukan sekadar bantuan sesaat. Saya berkomitmen mendampingi mereka dalam jangka panjang. Pendidikan mereka harus tetap berjalan, masa depan mereka harus terjamin,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran dan kepedulian terhadap para korban musibah merupakan tanggung jawab bersama.
“Saya ingin mereka tetap punya mimpi besar. Keterbatasan fisik tidak boleh mematikan harapan. Mereka tidak boleh berjalan sendiri,” pungkas Cak Imin.
(shf)
Lihat Juga :