Pemulihan Bencana Sumatera, Gus Miftah Gelar Doa untuk Negeri dan Keselamatan Bangsa
Sabtu, 27 Desember 2025 - 18:16 WIB
loading...
Gus Miftah dan PBNU menggelar doa bersama untuk pemulihan bencana Sumatera dengan tema Doa untuk Negeri: Satu NU, Satu Bangsa Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta Barat, pada Jumat (26/12/2025) malam. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Suasana khidmat berpadu gelak tawa menghiasi Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta Barat saat Gus Miftah naik mimbar dalam acara "Doa untuk Negeri: Satu NU, Satu Bangsa" pada Jumat (26/12/2025) malam.
Acara yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menjadi wadah spiritual warga Nahdliyin untuk mendoakan pemulihan pascabencana alam di Sumatera serta keselamatan bangsa dari ancaman iklim ekstrem.
Baca juga: Pemerintah Disarankan Bangun Narasi Kebersamaan dalam Penanganan Bencana Sumatera
Pendakwah nyentrik ini membeberkan kisah di balik layar yang cukup menggelitik terkait persiapan acara yang serba mendadak tersebut. Semuanya bermula dari obrolan telepon dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
"Baru tiga hari yang lalu, saya itu teleponan sama Pak Dasco. Kemudian Pak Dasco bilang begini sama saya, 'Gus, saya rindu dengan istighosahnya orang NU. Mumpung ini musibah yuk istighosah'," ucap Gus Miftah menirukan permintaan Dasco.
Tantangan itu langsung disambut Gus Miftah dengan menghubungi Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Pemilihan Gus Ipul bukan tanpa alasan, mengingat posisinya sebagai Menteri Sosial yang dinilai strategis dalam penanganan bencana.
Baca juga: TNI Sayangkan Narasi Represif soal Larangan Pengibaran Bendera GAM di Aceh: Tak Sesuai Fakta di Lapangan
"Kenapa Gus Ipul? Karena Menteri Sosial. Waktunya mepet. Justru yang mengingatkan kita orang luar. Gus, bikin istighosah. Oke. Istighosah itu kan artinya memohon pertolongan. Waktu mepet 3 hari. Kita enggak ada anggaran sama sekali," cerita Gus Miftah blak-blakan.
Gus Miftah pun membagikan anekdot lucu tentang "negosiasi" kilatnya dengan Gus Ipul. Ternyata, Gus Ipul memberikan syarat khusus agar Gus Miftah bisa menghadirkan Habib Zaidan, namun dengan catatan biaya ditanggung sendiri oleh Gus Miftah.
"Gus Ipul bilang sama saya, 'Gus, Gus Miftah datang, tolong bawa Bib Zaidan. Yang bayari Bib Zaidan Gus Miftah'. Oke. Jadi ini dipaksa ngaji, sekaligus suruh bayari sholawatan," kelakarnya yang langsung disambut riuh tawa hadirin.
Meski diwarnai candaan soal pendanaan, Gus Miftah menegaskan bahwa esensi dari acara ini adalah kebersamaan. Ia menyebut Gus Ipul dan Gus Ipang Wahid juga turut merogoh kocek pribadi alias urunan demi suksesnya acara doa bersama ini.
"Gus Ipul urunan, Gus Ipang juga urunan. Ini menunjukkan apa? Kalau ada orang yang mengatakan NU itu tidak kompak, coba Anda lihat malam hari ini. Ternyata NU kompak luar biasa," tutur Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji tersebut.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi PBNU dan ulama kharismatik seperti Rois Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. Momen ini sekaligus menjadi bukti nyata kepedulian sosial warga NU dalam menggalang bantuan bagi korban bencana di Sumatera.
Acara yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menjadi wadah spiritual warga Nahdliyin untuk mendoakan pemulihan pascabencana alam di Sumatera serta keselamatan bangsa dari ancaman iklim ekstrem.
Baca juga: Pemerintah Disarankan Bangun Narasi Kebersamaan dalam Penanganan Bencana Sumatera
Pendakwah nyentrik ini membeberkan kisah di balik layar yang cukup menggelitik terkait persiapan acara yang serba mendadak tersebut. Semuanya bermula dari obrolan telepon dengan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad.
"Baru tiga hari yang lalu, saya itu teleponan sama Pak Dasco. Kemudian Pak Dasco bilang begini sama saya, 'Gus, saya rindu dengan istighosahnya orang NU. Mumpung ini musibah yuk istighosah'," ucap Gus Miftah menirukan permintaan Dasco.
Tantangan itu langsung disambut Gus Miftah dengan menghubungi Saifullah Yusuf alias Gus Ipul. Pemilihan Gus Ipul bukan tanpa alasan, mengingat posisinya sebagai Menteri Sosial yang dinilai strategis dalam penanganan bencana.
Baca juga: TNI Sayangkan Narasi Represif soal Larangan Pengibaran Bendera GAM di Aceh: Tak Sesuai Fakta di Lapangan
"Kenapa Gus Ipul? Karena Menteri Sosial. Waktunya mepet. Justru yang mengingatkan kita orang luar. Gus, bikin istighosah. Oke. Istighosah itu kan artinya memohon pertolongan. Waktu mepet 3 hari. Kita enggak ada anggaran sama sekali," cerita Gus Miftah blak-blakan.
Gus Miftah pun membagikan anekdot lucu tentang "negosiasi" kilatnya dengan Gus Ipul. Ternyata, Gus Ipul memberikan syarat khusus agar Gus Miftah bisa menghadirkan Habib Zaidan, namun dengan catatan biaya ditanggung sendiri oleh Gus Miftah.
"Gus Ipul bilang sama saya, 'Gus, Gus Miftah datang, tolong bawa Bib Zaidan. Yang bayari Bib Zaidan Gus Miftah'. Oke. Jadi ini dipaksa ngaji, sekaligus suruh bayari sholawatan," kelakarnya yang langsung disambut riuh tawa hadirin.
Meski diwarnai candaan soal pendanaan, Gus Miftah menegaskan bahwa esensi dari acara ini adalah kebersamaan. Ia menyebut Gus Ipul dan Gus Ipang Wahid juga turut merogoh kocek pribadi alias urunan demi suksesnya acara doa bersama ini.
"Gus Ipul urunan, Gus Ipang juga urunan. Ini menunjukkan apa? Kalau ada orang yang mengatakan NU itu tidak kompak, coba Anda lihat malam hari ini. Ternyata NU kompak luar biasa," tutur Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji tersebut.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran petinggi PBNU dan ulama kharismatik seperti Rois Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dan Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar. Momen ini sekaligus menjadi bukti nyata kepedulian sosial warga NU dalam menggalang bantuan bagi korban bencana di Sumatera.
(shf)
Lihat Juga :