Banyak Wilayah Sulit Dijangkau, BLT Kesra di Palembang Diantar hingga Rumah
Rabu, 24 Desember 2025 - 19:22 WIB
loading...
A
A
A
“Kami mendirikan tenda di setiap titik penyaluran, dan melakukan penjadwalan ulang jika kondisi cuaca berbahaya. Keselamatan masyarakat dan petugas menjadi prioritas,” tuturnya.
Di lapangan, tugas berat itu dijalankan para juru bayar. Nanda, petugas Kantorpos Merdeka Palembang, menjadi salah satu wajah terdepan yang mengetuk pintu rumah warga penerima BLT Kesra.
“Kami door-to-door, didampingi ketua RT. Banyak yang tidak bisa datang ke Kantorpos karena sakit, dan mereka sangat terharu karena bantuannya diantar langsung,” katanya.
Tak semua kunjungan berjalan mudah. Nanda mengisahkan tantangan saat harus memastikan bantuan diterima oleh warga dengan gangguan kejiwaan. “ODGJ sering tidak tahu identitasnya, KTP-nya tidak tahu di mana. Di sinilah peran RT sangat penting untuk memastikan bantuan tetap tepat sasaran,” ujarnya.
Namun satu hal yang selalu menguatkan langkah mereka adalah keyakinan bahwa penerima memang benar-benar membutuhkan. “Kalau melihat kondisi rumah dan penghasilannya, mereka memang layak. Karena itu kami berharap BLT Kesra bisa terus berlanjut,” ucapnya.
Harapan itu datang dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kartini, anak dari nenek Ninggo, mengaku BLT Kesra menjadi penopang hidup di tengah kondisi keluarga yang sulit. “Nenek sudah dua bulan ini tidak bisa apa-apa. Bantuan Rp900 ribu ini kami gunakan untuk beli susu, popok, dan obat-obatan,” tuturnya.
Bagi Kartini, bukan hanya nilai bantuan yang berarti, tetapi juga cara negara hadir di depan pintu rumahnya. “Walaupun sempat terkendala administrasi, tetap dibantu melalui door-to-door. Uang ini sangat dibutuhkan untuk pengobatan nenek,” katanya.
Di lapangan, tugas berat itu dijalankan para juru bayar. Nanda, petugas Kantorpos Merdeka Palembang, menjadi salah satu wajah terdepan yang mengetuk pintu rumah warga penerima BLT Kesra.
“Kami door-to-door, didampingi ketua RT. Banyak yang tidak bisa datang ke Kantorpos karena sakit, dan mereka sangat terharu karena bantuannya diantar langsung,” katanya.
Tak semua kunjungan berjalan mudah. Nanda mengisahkan tantangan saat harus memastikan bantuan diterima oleh warga dengan gangguan kejiwaan. “ODGJ sering tidak tahu identitasnya, KTP-nya tidak tahu di mana. Di sinilah peran RT sangat penting untuk memastikan bantuan tetap tepat sasaran,” ujarnya.
Namun satu hal yang selalu menguatkan langkah mereka adalah keyakinan bahwa penerima memang benar-benar membutuhkan. “Kalau melihat kondisi rumah dan penghasilannya, mereka memang layak. Karena itu kami berharap BLT Kesra bisa terus berlanjut,” ucapnya.
Harapan itu datang dari Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kartini, anak dari nenek Ninggo, mengaku BLT Kesra menjadi penopang hidup di tengah kondisi keluarga yang sulit. “Nenek sudah dua bulan ini tidak bisa apa-apa. Bantuan Rp900 ribu ini kami gunakan untuk beli susu, popok, dan obat-obatan,” tuturnya.
Bagi Kartini, bukan hanya nilai bantuan yang berarti, tetapi juga cara negara hadir di depan pintu rumahnya. “Walaupun sempat terkendala administrasi, tetap dibantu melalui door-to-door. Uang ini sangat dibutuhkan untuk pengobatan nenek,” katanya.
Lihat Juga :