Menteri Bahlil: Program Listrik Perdesaan Wujud Keadilan Energi bagi Masyarakat
Sabtu, 20 Desember 2025 - 07:58 WIB
loading...
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meninjau pembangunan program Lisdes di Desa Bandarjaya, Kecamatan Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Foto: Ist
A
A
A
MUSI BANYUASIN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan percepatan program Listrik Perdesaan (Lisdes) merupakan wujud nyata kehadiran negara untuk memastikan keadilan energi bagi seluruh masyarakat.
“Saat ini masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum menikmati listrik. Ini menjadi tanggung jawab negara dan arahan langsung Presiden Prabowo untuk kita selesaikan paling lambat 2029,” ujar Bahlil saat meninjau pembangunan Program Lisdes di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dikutip Sabtu (20/12/2025).
Baca juga: Masyarakat Perdesaan Bakal Akses Komunikasi Berbasis Satelit
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp64,09 triliun pada periode 2025–2029, yang terdiri atas Rp61,65 triliun untuk Lisdes dan Rp2,44 triliun untuk Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).
Program BPBL menyasar rumah tangga tidak mampu yang berada di sekitar jaringan listrik PLN namun belum dapat melakukan sambungan baru karena keterbatasan ekonomi.
Manfaat Program Lisdes dan BPBL ini dirasakan oleh Ruslam (52), warga Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Musi Banyuasin. Selama bertahun-tahun, Ruslam dan keluarganya mengandalkan genset kecil yang harus diberi bahan bakar setiap beberapa jam.
“Sebelumnya saya pakai genset. Untuk enam jam harus satu liter bensin. Jadi jam 10 malam sudah gelap lagi,” kenang Ruslam.
Setiap malam, anak-anaknya belajar dengan penerangan seadanya. Sementara istrinya, yang biasa menjahit pakaian warga sekitar untuk menambah penghasilan kerap menghentikan pekerjaannya karena bahan bakar genset sudah habis.
Dalam keterbatasan itu, Ruslam hanya bisa berharap suatu hari cahaya akan benar-benar menjadi miliknya. “Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang,” ucap Ruslam sambil berkaca-kaca menahan haru.
Diketahui, pelaksanaan Program Lisdes dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu perluasan jaringan listrik (grid extension), pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal berbasis mini grid, serta PLTS individual dengan baterai untuk permukiman terpencar.
“Kalau listrik masuk, anak bisa belajar, layanan kesehatan berjalan, dan ekonomi rakyat tumbuh. Inilah esensi Asta Cita Presiden dalam pembangunan energi,” ujar Bahlil.
“Saat ini masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum menikmati listrik. Ini menjadi tanggung jawab negara dan arahan langsung Presiden Prabowo untuk kita selesaikan paling lambat 2029,” ujar Bahlil saat meninjau pembangunan Program Lisdes di Desa Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dikutip Sabtu (20/12/2025).
Baca juga: Masyarakat Perdesaan Bakal Akses Komunikasi Berbasis Satelit
Pemerintah menyiapkan anggaran Rp64,09 triliun pada periode 2025–2029, yang terdiri atas Rp61,65 triliun untuk Lisdes dan Rp2,44 triliun untuk Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).
Program BPBL menyasar rumah tangga tidak mampu yang berada di sekitar jaringan listrik PLN namun belum dapat melakukan sambungan baru karena keterbatasan ekonomi.
Manfaat Program Lisdes dan BPBL ini dirasakan oleh Ruslam (52), warga Bandar Jaya, Kecamatan Sekayu, Musi Banyuasin. Selama bertahun-tahun, Ruslam dan keluarganya mengandalkan genset kecil yang harus diberi bahan bakar setiap beberapa jam.
“Sebelumnya saya pakai genset. Untuk enam jam harus satu liter bensin. Jadi jam 10 malam sudah gelap lagi,” kenang Ruslam.
Setiap malam, anak-anaknya belajar dengan penerangan seadanya. Sementara istrinya, yang biasa menjahit pakaian warga sekitar untuk menambah penghasilan kerap menghentikan pekerjaannya karena bahan bakar genset sudah habis.
Dalam keterbatasan itu, Ruslam hanya bisa berharap suatu hari cahaya akan benar-benar menjadi miliknya. “Alhamdulillah, sekarang rumah kami terang tanpa harus mikir beli bensin tiap malam. Anak-anak bisa belajar sampai malam, istri bisa menjahit tanpa terburu-buru, dan saya bisa istirahat dengan tenang,” ucap Ruslam sambil berkaca-kaca menahan haru.
Diketahui, pelaksanaan Program Lisdes dilakukan melalui tiga pendekatan utama, yaitu perluasan jaringan listrik (grid extension), pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal berbasis mini grid, serta PLTS individual dengan baterai untuk permukiman terpencar.
“Kalau listrik masuk, anak bisa belajar, layanan kesehatan berjalan, dan ekonomi rakyat tumbuh. Inilah esensi Asta Cita Presiden dalam pembangunan energi,” ujar Bahlil.
(jon)
Lihat Juga :