Bantuan Datang Cepat, Warga Agam Berharap Bisa Mulai Bangun Rumah dan Usaha Lagi
Jum'at, 05 Desember 2025 - 17:56 WIB
loading...
A
A
A
Ia mengaku sedih membayangkan nasib para pekerja yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup pada usahanya. "Saya susah begini, tapi saya pikir juga orang-orang itu nanti makan apa, kerja di mana,” ujarnya.
Yuni mengaku senang karena bantuan tanggap bencana dari pemerintah cepat datang. Pengiriman sembako dari berbagai pihak pun lancar. Bahkan, bantuan sudah datang sehari setelah kejadian. "Bantuan seperti beras, pakaian, semua ada. Makan tinggal ambil," kata dia.
Kini, harapan terbesar Yuni hanya satu, tanah dan rumah untuk memulai kembali kehidupan.
Rumah habis, usaha lenyap, tapi anak-anak selamat
Yuni masih ingat suara dentuman keras dari arah perbukitan menjadi tanda awal sebelum bencana besar itu datang. Dia tak pernah menyangka suara itu merupakan pertanda longsor besar yang akan menghancurkan rumah, usaha, dan kehidupan keluarganya.
"Seperti hutan itu berjalan dari atas ke bawah, setinggi tiang listrik. Belum sempat lari ke bukit, arus lumpur sudah datang duluan. Banyak korban karena semuanya tak sempat menyelamatkan diri," ujar Yuni mengingat hari kejadian bencana.
Di rumah, Yuni tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Sejumlah anak tetangga juga biasa bermain di rumahnya. Saat longsor menerjang, keluarga Yuni terseret arus. Anak kedua dan ketiganya berhasil mencapai puncak bukit setelah diselamatkan warga.
Namun, anak pertamanya sempat ikut terseret lumpur bersama dia. "Anak saya yang pertama terseret juga. Arusnya cuma sebentar, tapi kuat sekali. Saya heran kepala saya tidak terendam, hanya badan saya ke bawah saja,” kata dia.
Yuni mengaku membutuhkan hampir dua jam untuk keluar dari tumpukan lumpur dan mencapai bukit. Dia merasa seluruh badannya sakit semua. "Kaki saya sakit semua, ketusuk-ketusuk entah apa. Saya lihat banyak material, batu, kayu, semuanya bercampur."
Yuni mengaku senang karena bantuan tanggap bencana dari pemerintah cepat datang. Pengiriman sembako dari berbagai pihak pun lancar. Bahkan, bantuan sudah datang sehari setelah kejadian. "Bantuan seperti beras, pakaian, semua ada. Makan tinggal ambil," kata dia.
Kini, harapan terbesar Yuni hanya satu, tanah dan rumah untuk memulai kembali kehidupan.
Rumah habis, usaha lenyap, tapi anak-anak selamat
Yuni masih ingat suara dentuman keras dari arah perbukitan menjadi tanda awal sebelum bencana besar itu datang. Dia tak pernah menyangka suara itu merupakan pertanda longsor besar yang akan menghancurkan rumah, usaha, dan kehidupan keluarganya.
"Seperti hutan itu berjalan dari atas ke bawah, setinggi tiang listrik. Belum sempat lari ke bukit, arus lumpur sudah datang duluan. Banyak korban karena semuanya tak sempat menyelamatkan diri," ujar Yuni mengingat hari kejadian bencana.
Di rumah, Yuni tinggal bersama suami dan tiga anaknya. Sejumlah anak tetangga juga biasa bermain di rumahnya. Saat longsor menerjang, keluarga Yuni terseret arus. Anak kedua dan ketiganya berhasil mencapai puncak bukit setelah diselamatkan warga.
Namun, anak pertamanya sempat ikut terseret lumpur bersama dia. "Anak saya yang pertama terseret juga. Arusnya cuma sebentar, tapi kuat sekali. Saya heran kepala saya tidak terendam, hanya badan saya ke bawah saja,” kata dia.
Yuni mengaku membutuhkan hampir dua jam untuk keluar dari tumpukan lumpur dan mencapai bukit. Dia merasa seluruh badannya sakit semua. "Kaki saya sakit semua, ketusuk-ketusuk entah apa. Saya lihat banyak material, batu, kayu, semuanya bercampur."
Lihat Juga :