Gubernur Victoria Berkunjung ke GSM, Rizal Ungkap Mimpinya saat Sekolah di Australia
Jum'at, 21 November 2025 - 16:05 WIB
loading...
Muhammad Nur Rizal founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyambut kedatangan Gubernur Victoria Margaret Gardner AC di SDN Kalisongo, Kabupaten Kulonprogo, Kamis (20/11/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
KULONPROGO - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mendapat momen berharga karena kedatangan sosok Gubernur Victoria (Australia), Margaret Gardner AC di Kabupaten Kulonprogo, DIY, Kamis (20/11/2025). Muhammad Nur Rizal (founder) dan Novi Poespita Candra (co-founder) memiliki ikatan yang sentimental dengan negara bagian tersebut.
Pasalnya ide membangun komunitas GSM yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru Indonesia bermula sejak menyekolahkan anak mereka di sana. “If this is possible for our children in Victoria, why can’t it also be possible for millions of children in Indonesia?” tanya Rizal di dalam pidatonya.
Ia amat bersyukur pernah bertemu dengan guru-guru yang dahulu membimbing anaknya. Para pengajar yang terbuka terhadap wawasan kritis mengenai kurikulum, pedagogi, asesmen, dan filosofi pendidikan yang berlaku di Victoria. Baca juga: Prabowo Kejar Uang Koruptor untuk Dana Pendidikan
“They create classrooms that are built on dignity, rather than fear. There was no secrecy and limitation. Only trust, generosity, and a shared belief that education must always serve humanity,” tambahnya.
Kunjungan dari gubernur negara bagian Victoria, Australia ini terjadi di SDN Kalisongo, Kabupaten Kulonprogo, yaitu salah satu sekolah yang telah ditransformasikan oleh GSM. Tidak hanya dihadiri oleh warga sekolah, acara tersebut turut diramaikan oleh banyak pegiat komunitas GSM dari seantero Indonesia yang datang atas kemauan sendiri.
Mulai dari GSM Gunung Kidul, Kulonprogo, Yogyakarta, Semarang, Jepara, Pemalang, Boyolali, sampai Pangandaran. Kehadiran para guru ini menjadi sebuah pertanda bahwa masih ada harapan untuk terjadinya transformasi bagi pendidikan di Indonesia. “You are not visiting a school today. You are visiting a community, a family, a living movement of teachers who are shaping a new culture of learning in Indonesia,” tegas Rizal saat menyambut para tamu.
Rizal juga membahas soal napak tilas bagaimana ia dan partnernya terinspirasi untuk memboyong kualitas pendidikan di Australia ke tanah kelahirannya, dengan kultur setempat serta spirit perjuangan guru yang tidak pernah putus, dalam menginginkan perubahan. Sebuah proses yang awalnya hanya berdampak bagi sepuluh sekolah, lalu kian berkembang hingga ribuan sekolah.
Rizal percaya bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan publik semata. Namun, harus juga didasarkan pada hubungan yang baik antara sesama pihak yang percaya pada perubahan.
Bahwa mesti ada kerja sama saling belajar, mendengarkan, dan menumbuhkan. Dengan bangga, Rizal menyampaikan terima kasih sekaligus memperlihatkan bukti dari perjuangannya mengintegrasikan praktik terbaik pendidikan global dengan kebudayaan setempat.
“Victoria has been a teacher to us. And today, we are honored to show you how your influence has taken root in our own land, shaped by Indonesia’s local wisdom,” tuturnya.
Kenyataan bahwa guru sebagai garda terdepan pendidikan di Indonesia yang kualitasnya masih rendah tidak dapat dielakkan. Hanya saja, GSM menjadi sebuah cahaya optimisme bahwa persoalan tersebut dapat perlahan dicabut lewat peningkatan kapasitas diri guru oleh gerakan akar rumput. Baca juga: Berdampingan dengan AI, GSM Fokus Peningkatan Kualitas Guru
Rizal juga menggarisbawahi kisah berdirinya sekolah buatan Ki Hadjar Dewantara, yaitu “Taman Siswa” yang turut menyalakan bara api semangatnya dalam membangun GSM. “..inclusive schools called “Taman Siswa” for children of ordinary people, that make learning a fun space to meet the children’s potential as a complete human being," tandasnya.
Terakhir, atas nama GSM, Rizal berharap agar hubungan baik antara komunitas dengan pemerintahan Victoria dapat terus terjalin dengan baik. Supaya kedua pihak dapat terus bertukar wawasan dan dukungan. Sebelum acara ditutup, sang gubernur menuliskan harapannya di “Wall of Dream” agar guru-guru dan anak-anak di komunitas GSM bisa mengunjungi Victoria.
Pasalnya ide membangun komunitas GSM yang kini sudah tersebar ke seluruh penjuru Indonesia bermula sejak menyekolahkan anak mereka di sana. “If this is possible for our children in Victoria, why can’t it also be possible for millions of children in Indonesia?” tanya Rizal di dalam pidatonya.
Ia amat bersyukur pernah bertemu dengan guru-guru yang dahulu membimbing anaknya. Para pengajar yang terbuka terhadap wawasan kritis mengenai kurikulum, pedagogi, asesmen, dan filosofi pendidikan yang berlaku di Victoria. Baca juga: Prabowo Kejar Uang Koruptor untuk Dana Pendidikan
“They create classrooms that are built on dignity, rather than fear. There was no secrecy and limitation. Only trust, generosity, and a shared belief that education must always serve humanity,” tambahnya.
Kunjungan dari gubernur negara bagian Victoria, Australia ini terjadi di SDN Kalisongo, Kabupaten Kulonprogo, yaitu salah satu sekolah yang telah ditransformasikan oleh GSM. Tidak hanya dihadiri oleh warga sekolah, acara tersebut turut diramaikan oleh banyak pegiat komunitas GSM dari seantero Indonesia yang datang atas kemauan sendiri.
Mulai dari GSM Gunung Kidul, Kulonprogo, Yogyakarta, Semarang, Jepara, Pemalang, Boyolali, sampai Pangandaran. Kehadiran para guru ini menjadi sebuah pertanda bahwa masih ada harapan untuk terjadinya transformasi bagi pendidikan di Indonesia. “You are not visiting a school today. You are visiting a community, a family, a living movement of teachers who are shaping a new culture of learning in Indonesia,” tegas Rizal saat menyambut para tamu.
Rizal juga membahas soal napak tilas bagaimana ia dan partnernya terinspirasi untuk memboyong kualitas pendidikan di Australia ke tanah kelahirannya, dengan kultur setempat serta spirit perjuangan guru yang tidak pernah putus, dalam menginginkan perubahan. Sebuah proses yang awalnya hanya berdampak bagi sepuluh sekolah, lalu kian berkembang hingga ribuan sekolah.
Rizal percaya bahwa pendidikan di Indonesia tidak bisa dilakukan hanya melalui kebijakan publik semata. Namun, harus juga didasarkan pada hubungan yang baik antara sesama pihak yang percaya pada perubahan.
Bahwa mesti ada kerja sama saling belajar, mendengarkan, dan menumbuhkan. Dengan bangga, Rizal menyampaikan terima kasih sekaligus memperlihatkan bukti dari perjuangannya mengintegrasikan praktik terbaik pendidikan global dengan kebudayaan setempat.
“Victoria has been a teacher to us. And today, we are honored to show you how your influence has taken root in our own land, shaped by Indonesia’s local wisdom,” tuturnya.
Kenyataan bahwa guru sebagai garda terdepan pendidikan di Indonesia yang kualitasnya masih rendah tidak dapat dielakkan. Hanya saja, GSM menjadi sebuah cahaya optimisme bahwa persoalan tersebut dapat perlahan dicabut lewat peningkatan kapasitas diri guru oleh gerakan akar rumput. Baca juga: Berdampingan dengan AI, GSM Fokus Peningkatan Kualitas Guru
Rizal juga menggarisbawahi kisah berdirinya sekolah buatan Ki Hadjar Dewantara, yaitu “Taman Siswa” yang turut menyalakan bara api semangatnya dalam membangun GSM. “..inclusive schools called “Taman Siswa” for children of ordinary people, that make learning a fun space to meet the children’s potential as a complete human being," tandasnya.
Terakhir, atas nama GSM, Rizal berharap agar hubungan baik antara komunitas dengan pemerintahan Victoria dapat terus terjalin dengan baik. Supaya kedua pihak dapat terus bertukar wawasan dan dukungan. Sebelum acara ditutup, sang gubernur menuliskan harapannya di “Wall of Dream” agar guru-guru dan anak-anak di komunitas GSM bisa mengunjungi Victoria.
(poe)
Lihat Juga :