Operasi Katarak di Donggala, Lansia Hidup Bermartabat
Kamis, 20 November 2025 - 21:05 WIB
loading...
Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kemensos bekerja sama dengan Perdami, IDI, dan Sentra Nipotowe Palu menggelar Operasi Katarak Gratis bagi Lansia di RSUD Kabelota, Donggala, Sulawesi Tengah. Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
DONGGALA - Direktorat Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia Kemensos bekerja sama dengan Persatuan Dokter Mata Indonesia (Perdami), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Sentra Nipotowe Palu menggelar Operasi Katarak Gratis bagi Lansia di RSUD Kabelota, Donggala, Sulawesi Tengah. Program ini merupakan bagian dari kebijakan nasional Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), sebuah upaya negara untuk tidak sekadar membantu, tapi memberdayakan kembali para lansia agar tetap berfungsi sosial dan hidup bermartabat.
“Indonesia masih punya backlog katarak yang tinggi. Masih banyak warga di daerah yang buta karena belum sempat ditangani. Kegiatan seperti ini adalah cara kami memastikan mereka tidak sendirian,” kata dr. Retno Unggul Hapsari, yang mewakili Perdami Pusat Jakarta. Baca juga: Kemensos Gandeng PERDAMI dan AMCF Gelar Operasi Katarak Gratis bagi Lansia di Palembang
Retno sendiri sudah lebih dari dua dekade terjun dalam operasi katarak massal di berbagai daerah. Setiap kali menyaksikan momen perban dibuka, Retno mengaku merasakan hal yang sama, yaitu perasaan haru yang luar biasa. Ia tahu, operasi katarak bukan hanya tindakan medis. “Ini soal mengembalikan kehidupan,” ujarnya.
Operasi di Donggala melibatkan lebih dari 60 pasien lansia . Selama dua hari (23-25 Oktober 2025), tim gabungan dari Jakarta dan Sulawesi Tengah bekerja dari pagi hingga petang. Mereka menggunakan metode modern small incision yang hanya membutuhkan sayatan kecil tiga milimeter tanpa jahitan. Prosesnya cepat, pemulihannya singkat, tapi dampaknya panjang.
Dari total 177 calon pasien, tim Sentra Nipotowe Palu menyeleksi 95 orang yang memenuhi kriteria ekonomi desil 1 hingga 5 - kategori masyarakat miskin dan rentan miskin. Dari jumlah itu, 66 lansia akhirnya dinyatakan layak menjalani operasi.
“Kami dapat data awal dari Ikatan Dokter Indonesia. Kemudian kami filter, secara sosial juga. Ada yang tak bisa kami masukkan karena faktor kesehatan, ada juga yang tidak siap mental,” jelas Yulianingsih, penanggung jawab lapangan kegiatan ini.
Yulianingsih menambahkan, bahwa terkadang bukan hanya perihal medis yang jadi hambatan, tapi rasa takut.
Ia masih mengingat satu lansia yang sempat membatalkan operasi meski sudah di meja tindakan.
“Dia panik, tiba-tiba minta pulang. Kami bujuk dengan sabra, besoknya dia datang lagi dan akhirnya berhasil dioperasi,” kenangnya.
Sosok yang punya peran penting dalam acara ini yakni dr. Diah Rini, Kepala Sentra Nipotowe Palu. Ia memantau langsung jalannya kegiatan sejak hari pertama.
“Kabupaten Donggala adalah salah satu wilayah kerja kami. Sudah dua kali melaksanakan operasi seperti ini di sini karena memang jumlah penderita katarak lansia masih tinggi,” katanya.
Bagi Diah, operasi katarak bukan sekadar kegiatan kesehatan. Ia melihatnya sebagai bagian dari rehabilitasi sosial yang utuh. “Kami ingin mereka bukan hanya bisa melihat, tapi juga kembali berdaya. Setelah penglihatan pulih, mereka bisa bekerja lagi, ikut kegiatan sosial, bahkan mengajar ngaji di kampung,” ujarnya.
Di antara peserta operasi, ada pula Yunita, guru PAUD dari desa setempat. Ia tahu operasi katarak gratis ini dari media sosial. ”Ada teman di Facebook yang membagikan informasi soal operasi gratis ini. Saya langsung tanya ke bidan desa dan didaftarkan,” katanya.
Yunita menjalani operasi di hari pertama. Ia masih muda dibanding peserta lain. Matanya sudah terganggu katarak sejak dua tahun lalu. “Kalau siang, mata sering berair. Kalau malam, buram. Mengajar anak-anak jugajadi susah,” cerita Yunita.
Baginya, operasi ini seperti mukjizat. “Kalau pakai uang sendiri mungkin saya belum sanggup. Sekarang saya bisa lihat wajah murid-murid saya lagi. Saya sangat bersyukur,” ujarnya. Baca juga: 4 Amalan Terbaik Bagi Lansia dan Dalilnya
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni hadir menyapa para lansia peserta Operasi Katarak dan petugas rumah sakit yang duduk di ruang cek untuk verifikasi lolos tidaknya calon pasien untuk dioperasi. “Program ini bukan hanya tentang kesehatan mata. Ini tentang kemanusiaan, tentang bagaimana negara memulihkan martabat rakyatnya.” katanya di hadapan tim medis dan pasien di Rumah Sakit Kabelota.
Program Operasi Katarak Gratis bagi Lansia merupakan bagian dari sinergi Kemensos dengan IDI, Perdami, dan pemerintah daerah. Sejak diluncurkan, kegiatan ini telah menjangkau sejumlah provinsi, termasuk Palembang, Jambi, dan Sulawesi Tengah, Sumba Barat Daya, hingga Belu (NTT), dengan sasaran utama para lansia dari keluarga miskin dan rentan. Program ini tidak hanya memulihkan penglihatan, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian sosial mereka.
“Indonesia masih punya backlog katarak yang tinggi. Masih banyak warga di daerah yang buta karena belum sempat ditangani. Kegiatan seperti ini adalah cara kami memastikan mereka tidak sendirian,” kata dr. Retno Unggul Hapsari, yang mewakili Perdami Pusat Jakarta. Baca juga: Kemensos Gandeng PERDAMI dan AMCF Gelar Operasi Katarak Gratis bagi Lansia di Palembang
Retno sendiri sudah lebih dari dua dekade terjun dalam operasi katarak massal di berbagai daerah. Setiap kali menyaksikan momen perban dibuka, Retno mengaku merasakan hal yang sama, yaitu perasaan haru yang luar biasa. Ia tahu, operasi katarak bukan hanya tindakan medis. “Ini soal mengembalikan kehidupan,” ujarnya.
Operasi di Donggala melibatkan lebih dari 60 pasien lansia . Selama dua hari (23-25 Oktober 2025), tim gabungan dari Jakarta dan Sulawesi Tengah bekerja dari pagi hingga petang. Mereka menggunakan metode modern small incision yang hanya membutuhkan sayatan kecil tiga milimeter tanpa jahitan. Prosesnya cepat, pemulihannya singkat, tapi dampaknya panjang.
Dari total 177 calon pasien, tim Sentra Nipotowe Palu menyeleksi 95 orang yang memenuhi kriteria ekonomi desil 1 hingga 5 - kategori masyarakat miskin dan rentan miskin. Dari jumlah itu, 66 lansia akhirnya dinyatakan layak menjalani operasi.
“Kami dapat data awal dari Ikatan Dokter Indonesia. Kemudian kami filter, secara sosial juga. Ada yang tak bisa kami masukkan karena faktor kesehatan, ada juga yang tidak siap mental,” jelas Yulianingsih, penanggung jawab lapangan kegiatan ini.
Yulianingsih menambahkan, bahwa terkadang bukan hanya perihal medis yang jadi hambatan, tapi rasa takut.
Ia masih mengingat satu lansia yang sempat membatalkan operasi meski sudah di meja tindakan.
“Dia panik, tiba-tiba minta pulang. Kami bujuk dengan sabra, besoknya dia datang lagi dan akhirnya berhasil dioperasi,” kenangnya.
Sosok yang punya peran penting dalam acara ini yakni dr. Diah Rini, Kepala Sentra Nipotowe Palu. Ia memantau langsung jalannya kegiatan sejak hari pertama.
“Kabupaten Donggala adalah salah satu wilayah kerja kami. Sudah dua kali melaksanakan operasi seperti ini di sini karena memang jumlah penderita katarak lansia masih tinggi,” katanya.
Bagi Diah, operasi katarak bukan sekadar kegiatan kesehatan. Ia melihatnya sebagai bagian dari rehabilitasi sosial yang utuh. “Kami ingin mereka bukan hanya bisa melihat, tapi juga kembali berdaya. Setelah penglihatan pulih, mereka bisa bekerja lagi, ikut kegiatan sosial, bahkan mengajar ngaji di kampung,” ujarnya.
Di antara peserta operasi, ada pula Yunita, guru PAUD dari desa setempat. Ia tahu operasi katarak gratis ini dari media sosial. ”Ada teman di Facebook yang membagikan informasi soal operasi gratis ini. Saya langsung tanya ke bidan desa dan didaftarkan,” katanya.
Yunita menjalani operasi di hari pertama. Ia masih muda dibanding peserta lain. Matanya sudah terganggu katarak sejak dua tahun lalu. “Kalau siang, mata sering berair. Kalau malam, buram. Mengajar anak-anak jugajadi susah,” cerita Yunita.
Baginya, operasi ini seperti mukjizat. “Kalau pakai uang sendiri mungkin saya belum sanggup. Sekarang saya bisa lihat wajah murid-murid saya lagi. Saya sangat bersyukur,” ujarnya. Baca juga: 4 Amalan Terbaik Bagi Lansia dan Dalilnya
Bupati Donggala, Vera Elena Laruni hadir menyapa para lansia peserta Operasi Katarak dan petugas rumah sakit yang duduk di ruang cek untuk verifikasi lolos tidaknya calon pasien untuk dioperasi. “Program ini bukan hanya tentang kesehatan mata. Ini tentang kemanusiaan, tentang bagaimana negara memulihkan martabat rakyatnya.” katanya di hadapan tim medis dan pasien di Rumah Sakit Kabelota.
Program Operasi Katarak Gratis bagi Lansia merupakan bagian dari sinergi Kemensos dengan IDI, Perdami, dan pemerintah daerah. Sejak diluncurkan, kegiatan ini telah menjangkau sejumlah provinsi, termasuk Palembang, Jambi, dan Sulawesi Tengah, Sumba Barat Daya, hingga Belu (NTT), dengan sasaran utama para lansia dari keluarga miskin dan rentan. Program ini tidak hanya memulihkan penglihatan, tetapi juga memulihkan martabat dan kemandirian sosial mereka.
(poe)
Lihat Juga :