Branding Desa Wisata Sukajadi, Fikom Unpam Ajak Warga Tingkatkan Literasi Informasi Digital
Minggu, 16 November 2025 - 08:36 WIB
loading...
A
A
A
Pada era digital ini, konten yang dibuat oleh para pelaku usaha maupun pelancong di kawasan Pantai Carita ini cukup minimalis. Oleh karena itu, Fakultas Ilmu Komunikasi Unpam melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mencoba membantu warga Sukajadi dalam meningkatkan literasi informasi digital guna optimalisasi branding Desa Wisata Sukajadi.
PKM ini dilatarbelakangi oleh pentingnya lieterasi digital sebagai "suplemen" dalam mempertahankan dan mengundang para pelancong untuk senantiasa berkunjung ke desa wista, memperkuat partisipasi sosial, serta meningkatkan daya juang masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan desa, terutama dalam mengembangkan potensi sosial, budaya, dan ekonomi di bidang pariwisata.
Sandy mengakui, tidak mudah mengubah kultur masyarakatnya, terutama kesadaran dalam melayani para wisatawan secara optimal dan meningkatkan fasilitas tempat wisata laut untuk meningkatkan daya tarik. Pihak desa pernah menggelontorkan dana puluhan juta rupiah melalui dana desa untuk membuat sejumlah wahana baru, seperti paralayang dan wahana wisata laut, tetapi sulit mengajak warga untuk ikut mengelola.
"Warga di sini lebih suka berjualan atau menjadi pemandu wisata daripada mengelola wahana wisata baru, sehingga akhirnya tutup," kata Sandy.
Selain itu, kesadaran masyarakat juga masih rendah dalam melayani dan memperlakukan tamu dengan baik. "Ya jujur saja masih ada warga yang kadang nakal, misalnya menaikkan harga makanan yang tidak wajar, sehingga membuat wisatawan kurang nyaman," ujarnya.
PKM ini dilatarbelakangi oleh pentingnya lieterasi digital sebagai "suplemen" dalam mempertahankan dan mengundang para pelancong untuk senantiasa berkunjung ke desa wista, memperkuat partisipasi sosial, serta meningkatkan daya juang masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan desa, terutama dalam mengembangkan potensi sosial, budaya, dan ekonomi di bidang pariwisata.
Sandy mengakui, tidak mudah mengubah kultur masyarakatnya, terutama kesadaran dalam melayani para wisatawan secara optimal dan meningkatkan fasilitas tempat wisata laut untuk meningkatkan daya tarik. Pihak desa pernah menggelontorkan dana puluhan juta rupiah melalui dana desa untuk membuat sejumlah wahana baru, seperti paralayang dan wahana wisata laut, tetapi sulit mengajak warga untuk ikut mengelola.
"Warga di sini lebih suka berjualan atau menjadi pemandu wisata daripada mengelola wahana wisata baru, sehingga akhirnya tutup," kata Sandy.
Selain itu, kesadaran masyarakat juga masih rendah dalam melayani dan memperlakukan tamu dengan baik. "Ya jujur saja masih ada warga yang kadang nakal, misalnya menaikkan harga makanan yang tidak wajar, sehingga membuat wisatawan kurang nyaman," ujarnya.
Lihat Juga :