Anggota KEPP Otsus Billy Mambrasar Beri Pelatihan AI kepada 1.000 Anak Muda Papua
Selasa, 04 November 2025 - 20:57 WIB
loading...
Anggota KEPP Otsus Papua Billy Mambrasar memberikan pelatihan Artificial Intelligence (AI) untuk anak muda Papua. Foto/istimewa
A
A
A
PAPUA - Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP Otsus Papua) Billy Mambrasar menghadirkan terobosan baru di bidang pendidikan berbasis inovasi dan teknologi. Salah satunya dengan memberikan pelatihan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) kepada ribuan anak-anak Papua.
Melalui kolaborasi strategis bersama komunitas anak muda Papua KORERI melalui Grasberg Academy, KEPP Otsus Papua meluncurkan program pelatihan AI bagi 1.000 anak muda Papua selama satu tahun penuh. Mereka menandatangani MoU bahwa program ini akan berjalan Januari 2026.
Inisiatif ini akan mencetak sejarah baru dengan pemecahan rekor Indonesia untuk pelatihan AI terbesar di Indonesia Timur. Seluruh kegiatan diselenggarakan melalui skema creative financing tanpa menggunakan dana APBN, menjadi bukti kolaborasi lintas sektor mampu menghasilkan solusi inovatif yang berkelanjutan.
Baca juga: Generasi Muda Papua Didorong Jadi Pelopor Persatuan dan Rekonsiliasi
Para peserta yang lulus dan tersertifikasi nantinya akan disalurkan ke dunia kerja melalui platform Manajemen Talenta Papua (Mantap) sistem digital yang menghubungkan talenta muda Papua dengan mitra swasta nasional maupun global.
Menanggapi berbagai pandangan publik terkait program ini, Billy Mambrasar, anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, menegaskan pelatihan AI ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pendidikan formal, tetapi justru melengkapinya.
Baca juga: Setahun Pemerintahan, Program Prabowo-Gibran Berhasil Sentuh Masyarakat Papua
“Betul, kualitas pendidikan dasar dan menengah masih banyak yang perlu kita tingkatkan, khususnya di Papua. Tapi justru karena itu, kita perlu membuka jendela baru seperti pelatihan AI ini. Program ini bukan menggantikan pendidikan dasar, tapi melengkapinya,” ujar Billy. “Kami ingin menanamkan rasa percaya diri bahwa anak-anak Papua juga bisa menjadi bagian dari masa depan teknologi dunia.”
Acara ini juga mengadakan gelar wicara yang diisi oleh Billy Mambrasar, serta 2 tokoh muda insipiratif lainnya yaitu Ahli Robotik asal papua Yoshua Gombo dan pemerhati pendidikan Elviliana Watopa.
Pada sesi gelar wicara Billy menjelaskan, pelatihan AI ini dirancang agar relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari anak-anak Papua, bukan sekadar pembelajaran teoretis.
“AI yang diajarkan kepada anak-anak Papua menjadi pelengkap pembelajaran yang lebih kontekstual. Mereka akan belajar memahami dan memberi solusi terhadap aktivitas sehari-hari. Pendekatan kami inklusif, memberi ruang eksplorasi dan rasa ingin tahu yang tinggi agar mereka senang mempelajari AI,” tambahnya.
Billy juga memberikan pandangannya pendidikan di Papua perlu pendekatan berbeda. Billy menawarkan 4 solusi yaitu, pendidikan berbasis kinetik dengan mengajak siswa untuk terus bergerak dan tidak statis diam saja saat belajar namun dibarengi dengan aktivitas seru baik didalam maupun luar ruangan.
Kemudian, pendidikan berbasis budaya, untuk mengajarkan kecintaan terhadap identitas lokal dan tempat mereka dilahirkan. Pendidikan berbasis lifeskill, agar bahan ajar yang diberikan dapat mereka gunakan pada kehidupan sehari hari bahkan setelah mereka selesai sekolah seperti bertani, berlayar atau bahkan berkebun,
Terkahir Pendidikan berbasis gereja, mengembalika lagi identitas Papua sebagai tanah injil dan memberikan nilai religiusitas terhadap setiap siswa.
“Program ini tidak hanya mencerminkan semangat transformasi digital di Tanah Papua, tetapi juga menjadi langkah konkret mewujudkan kemandirian teknologi nasional. Dengan dukungan lintas sektor dan semangat kolaboratif anak muda, Papua menegaskan diri sebagai bagian dari masa depan Indonesia yang inovatif, tangguh, dan berdaya saing global,” katanya.
Melalui kolaborasi strategis bersama komunitas anak muda Papua KORERI melalui Grasberg Academy, KEPP Otsus Papua meluncurkan program pelatihan AI bagi 1.000 anak muda Papua selama satu tahun penuh. Mereka menandatangani MoU bahwa program ini akan berjalan Januari 2026.
Inisiatif ini akan mencetak sejarah baru dengan pemecahan rekor Indonesia untuk pelatihan AI terbesar di Indonesia Timur. Seluruh kegiatan diselenggarakan melalui skema creative financing tanpa menggunakan dana APBN, menjadi bukti kolaborasi lintas sektor mampu menghasilkan solusi inovatif yang berkelanjutan.
Baca juga: Generasi Muda Papua Didorong Jadi Pelopor Persatuan dan Rekonsiliasi
Para peserta yang lulus dan tersertifikasi nantinya akan disalurkan ke dunia kerja melalui platform Manajemen Talenta Papua (Mantap) sistem digital yang menghubungkan talenta muda Papua dengan mitra swasta nasional maupun global.
Menanggapi berbagai pandangan publik terkait program ini, Billy Mambrasar, anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otsus Papua, menegaskan pelatihan AI ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pendidikan formal, tetapi justru melengkapinya.
Baca juga: Setahun Pemerintahan, Program Prabowo-Gibran Berhasil Sentuh Masyarakat Papua
“Betul, kualitas pendidikan dasar dan menengah masih banyak yang perlu kita tingkatkan, khususnya di Papua. Tapi justru karena itu, kita perlu membuka jendela baru seperti pelatihan AI ini. Program ini bukan menggantikan pendidikan dasar, tapi melengkapinya,” ujar Billy. “Kami ingin menanamkan rasa percaya diri bahwa anak-anak Papua juga bisa menjadi bagian dari masa depan teknologi dunia.”
Acara ini juga mengadakan gelar wicara yang diisi oleh Billy Mambrasar, serta 2 tokoh muda insipiratif lainnya yaitu Ahli Robotik asal papua Yoshua Gombo dan pemerhati pendidikan Elviliana Watopa.
Pada sesi gelar wicara Billy menjelaskan, pelatihan AI ini dirancang agar relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari anak-anak Papua, bukan sekadar pembelajaran teoretis.
“AI yang diajarkan kepada anak-anak Papua menjadi pelengkap pembelajaran yang lebih kontekstual. Mereka akan belajar memahami dan memberi solusi terhadap aktivitas sehari-hari. Pendekatan kami inklusif, memberi ruang eksplorasi dan rasa ingin tahu yang tinggi agar mereka senang mempelajari AI,” tambahnya.
Billy juga memberikan pandangannya pendidikan di Papua perlu pendekatan berbeda. Billy menawarkan 4 solusi yaitu, pendidikan berbasis kinetik dengan mengajak siswa untuk terus bergerak dan tidak statis diam saja saat belajar namun dibarengi dengan aktivitas seru baik didalam maupun luar ruangan.
Kemudian, pendidikan berbasis budaya, untuk mengajarkan kecintaan terhadap identitas lokal dan tempat mereka dilahirkan. Pendidikan berbasis lifeskill, agar bahan ajar yang diberikan dapat mereka gunakan pada kehidupan sehari hari bahkan setelah mereka selesai sekolah seperti bertani, berlayar atau bahkan berkebun,
Terkahir Pendidikan berbasis gereja, mengembalika lagi identitas Papua sebagai tanah injil dan memberikan nilai religiusitas terhadap setiap siswa.
“Program ini tidak hanya mencerminkan semangat transformasi digital di Tanah Papua, tetapi juga menjadi langkah konkret mewujudkan kemandirian teknologi nasional. Dengan dukungan lintas sektor dan semangat kolaboratif anak muda, Papua menegaskan diri sebagai bagian dari masa depan Indonesia yang inovatif, tangguh, dan berdaya saing global,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :