Peringati HSN 2025, Cak Imin Bertekad Jadikan Santri Mercusuar Peradaban
Rabu, 22 Oktober 2025 - 16:55 WIB
loading...
Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar menyerukan kebangkitan kaum santri untuk berjuang dengan ilmu pengetahuan, disiplin, dan keberanian. Foto/istimewa
A
A
A
TAPANULI TENGAH - Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar menyerukan kebangkitan kaum santri untuk berjuang dengan ilmu pengetahuan, disiplin, dan keberanian menghadapi perubahan zaman.
Saat ini, tercatat lebih dari 42. 000 pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia harus mengejar ketertinggalan. "Saya bertekad menjadikan pesantren mercusuar peradaban, lokomotif kemajuan, dan pemimpin perubahan. Kita harus memelihara nilai-nilai unggul yang telah ada, sambil mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik," katanya.
Cak Imin panggilan akrab Abdul Muhaimin Iskandar berharap seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah harus proaktif memastikan tidak ada tempat belajar yang tidak aman bagi santri, dari Sabang sampai Merauke, semua santri harus terlindungi dan merasa aman.
Baca juga: Dari Santri untuk Negeri: Nasionalisme dalam Iman dan Ilmu
"Tahun ini, kita jaga santri, kita jaga pesantren, kita jaga anak didik bangsa. Dari Barus inilah Islam tumbuh dan berkembang sebagai Islam Rahmatan lil ‘Alamin — Islam yang memanusiakan manusia dan membawa keselamatan bagi seluruh alam," ucapnya.
Cak Imin menyebut, semangat Resolusi Jihad terus hidup di dada santri sejak abad ke-7 hingga hari ini, memerangi kebodohan, mengejar kemajuan, dan menegakkan kesejahteraan.
Baca juga: Peringati HSN ke-10, Cak Imin: Jadilah Santri yang Tangguh dan Berdaya
Kini, ungkap Cak Imin, Resolusi Jihad memiliki makna baru, melawan kemiskinan, melawan ketertinggalan, mengejar kemajuan dan kemakmuran.
"Mari kita bangun gotong royong, bahu membahu mengakhiri kemiskinan di negeri tercinta.Saatnya pesantren dan santri menjadi manusia-manusia berdaya, mandiri, tangguh, dan berdisiplin. Santri harus menjadi wajah asli Nusantara, mencetak talenta produktif nan santun, dan menjadi mercusuar peradaban, kemajuan, dan keunggulan kemanusiaan," ucapnya.
Cak Imin menegaskan, pesantren harus menjadi lokomotif kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, tanpa meninggalkan nilai ukhrawi. "Kita kuasai ilmu dunia, berakar pada ilmu akhirat. Negara wajib menjadi bagian integral dari upaya ini, karena jasa pesantren sangat besar dalam menyiapkan generasi emas Indonesia," ucapnya.
Saat ini, tercatat lebih dari 42. 000 pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia harus mengejar ketertinggalan. "Saya bertekad menjadikan pesantren mercusuar peradaban, lokomotif kemajuan, dan pemimpin perubahan. Kita harus memelihara nilai-nilai unggul yang telah ada, sambil mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik," katanya.
Cak Imin panggilan akrab Abdul Muhaimin Iskandar berharap seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah harus proaktif memastikan tidak ada tempat belajar yang tidak aman bagi santri, dari Sabang sampai Merauke, semua santri harus terlindungi dan merasa aman.
Baca juga: Dari Santri untuk Negeri: Nasionalisme dalam Iman dan Ilmu
"Tahun ini, kita jaga santri, kita jaga pesantren, kita jaga anak didik bangsa. Dari Barus inilah Islam tumbuh dan berkembang sebagai Islam Rahmatan lil ‘Alamin — Islam yang memanusiakan manusia dan membawa keselamatan bagi seluruh alam," ucapnya.
Cak Imin menyebut, semangat Resolusi Jihad terus hidup di dada santri sejak abad ke-7 hingga hari ini, memerangi kebodohan, mengejar kemajuan, dan menegakkan kesejahteraan.
Baca juga: Peringati HSN ke-10, Cak Imin: Jadilah Santri yang Tangguh dan Berdaya
Kini, ungkap Cak Imin, Resolusi Jihad memiliki makna baru, melawan kemiskinan, melawan ketertinggalan, mengejar kemajuan dan kemakmuran.
"Mari kita bangun gotong royong, bahu membahu mengakhiri kemiskinan di negeri tercinta.Saatnya pesantren dan santri menjadi manusia-manusia berdaya, mandiri, tangguh, dan berdisiplin. Santri harus menjadi wajah asli Nusantara, mencetak talenta produktif nan santun, dan menjadi mercusuar peradaban, kemajuan, dan keunggulan kemanusiaan," ucapnya.
Cak Imin menegaskan, pesantren harus menjadi lokomotif kemajuan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi, tanpa meninggalkan nilai ukhrawi. "Kita kuasai ilmu dunia, berakar pada ilmu akhirat. Negara wajib menjadi bagian integral dari upaya ini, karena jasa pesantren sangat besar dalam menyiapkan generasi emas Indonesia," ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :