Ratusan Petani Sawit Musi Banyuasin Praktik Pembuatan Biochar
Jum'at, 26 September 2025 - 07:31 WIB
loading...
Para petani sawit yang tergabung dalam Aspekpir mengikuti pelatihan membuat biochar dengan menggunakan bahan baku dari tandang kosong sawitdi Desa Bumi Kencana, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kamis (25/9/2025). Foto/Dok. SindoNews
A
A
A
MUSI BANYUASIN - Para petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) mempraktikkan pembuatan biochar dengan menggunakan bahan baku dari tandang kosong sawit. Biochar merupakan arang aktif dengan kandungan karbon yang cukup tinggi.
Praktek pembuatan biochar ini diselenggarakan di Desa Bumi Kencana, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (25/9/2025). Hadir sebagai instruktur dalam kegiatan ini adalah Mirza Arif Zainal dari Yayasan Agathis Dammara Karbon dan Arif Firmansyah sebagai praktisi pengguna biochar. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan Aspekpir. Sebelumnya kegiatan serupa digelar di Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kabupaten Pelalawan, Riau. Baca juga: Transformasi Perkebunan, BPDP Dorong Nilai Tambah Sawit, Kelapa, dan Kakao
Ketua Umum Aspekpir Setiyono mengatakan kegiatan ini melibatkan 110 petani sawit anggota Aspekpir di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. “Harapan kami, anggota Aspekpir di Musi Banyuasin bisa membuat biochar secara mandiri karena bahan bakunya (tandan kosong sawit) sangat melimpah,” katanya.
Setiyono juga mengucapkan terima kasih kepada BPDP yang selalu memberikan dukungan kegiatan kegiatan Aspekpir. "Ini adalah kerja sama yang baik antara BPDP dengan Aspekpir," ujarnya.
Senior Analis Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Anwar Sadat yang hadir mewakili Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengapresiasi kegiatan ini karena sesuai dengan sasaran dari pendirian BPDP, yakni peningkatan kesejahteraan petani sawit.
“Harapan saya para peserta bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik, menyerap materi yang disampaikan para pembicara dan mengaplikasikan biochar yang dibuatnya di kebun sawitnya. Apalagi tandan kosong sawit yang menjadi bahan baku (biochar) banyak tersedia di sini,” kata Anwar Sadat.
Dia juga mengapresiasi Aspekpir yang terus melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi petani kelapa sawit ini. "Ini dalam rangka mempromosikan biochar kepada para petani sawit," katanya.
Biochar ini, kata dia, salah satu fungsinya bisa mengikat hara dan air yang sangat bermanfaat bagi tanaman sawit . Harapannya dengan penggunaan biochar ini bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia yang saat ini harganya sangat mahal. "Sehingga dengan penggunaan biochar akan mengurangi biaya pemupukan," tuturnya.
Anwar juga mengatakan bahwa dengan penggunaan biochar ini sebagai salah satu upaya kita menjawab isu-isu keberlanjutan yang digaungkan Uni Eropa. "Secara teori biochar ini menghasilkan karbon, sehingga ini sangat ramah lingkungan karena berasal dari bahan-bahan organik," papar Anwar.
Pelaksana Tugas Camat Sungai Lilin Irfan Apriadi sangat mendukung inovasi ini untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit petani yang ada di Kecamatan Sungai Lilin. "Mari kita ikuti acara ini dengan seksama agar ilmu yg dipaparkan bisa kita serap," katanya.
Mirza Arif Zainal mengatakan bahwa biochar kaya karbon yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna atau pembakaran tanpa oksigen atau oksigen terbatas dengan suhu di atas 250 Celcius. Pembakaran ini dilakukan dalam waktu dua jam atau lebih tergantung pada jenis biomassa yang digunakan.
Sementara itu, Arif Firmansyah mengatakan biochar memiliki nilai ekonomis dan menjadi produk yang layak dipasarkan oleh siapa saja yang mampu memproduksinya. Apalagi kebutuhan terhadap biochar tidak hanya terbatas pada individu atau perorangan atau kelompok tani, namun juga rumah tangga, komunitas sampai perusahaan perkebunan. Baca juga: Petani Sawit Rokan Hulu Pelatihan Bikin Biochar, Alternatif Pupuk Organik
Dalam lima tahun terakhir ini, kata Arif Firmansyah, kebutuhan terhadap biochar semakin tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Peningkatan kebutuhan terhadap biochar tentunya tidak lepas dari tumbuhnya kesadaran pentingnya pertanian berkelanjutan sehingga kesehatan dan kesuburan tanah merupakan faktor signifikan.
Pembuatan biochar di Indonesia terus berkembang, baik yang skala kecil hingga pabrik berskala besar. Hal ini menunjukkan potensi biochar sebagai produk bernilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun.
“Petani kelapa sawit punya peluang untuk memanfaatkan biochar sebagai produk yang layak dipasarkan di sekitar tempat tinggal maupun pasar yang lebih luas,” tandasnya.
Praktek pembuatan biochar ini diselenggarakan di Desa Bumi Kencana, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Kamis (25/9/2025). Hadir sebagai instruktur dalam kegiatan ini adalah Mirza Arif Zainal dari Yayasan Agathis Dammara Karbon dan Arif Firmansyah sebagai praktisi pengguna biochar. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan Aspekpir. Sebelumnya kegiatan serupa digelar di Kabupaten Kampar, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kabupaten Pelalawan, Riau. Baca juga: Transformasi Perkebunan, BPDP Dorong Nilai Tambah Sawit, Kelapa, dan Kakao
Ketua Umum Aspekpir Setiyono mengatakan kegiatan ini melibatkan 110 petani sawit anggota Aspekpir di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. “Harapan kami, anggota Aspekpir di Musi Banyuasin bisa membuat biochar secara mandiri karena bahan bakunya (tandan kosong sawit) sangat melimpah,” katanya.
Setiyono juga mengucapkan terima kasih kepada BPDP yang selalu memberikan dukungan kegiatan kegiatan Aspekpir. "Ini adalah kerja sama yang baik antara BPDP dengan Aspekpir," ujarnya.
Senior Analis Divisi UKMK Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Anwar Sadat yang hadir mewakili Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengapresiasi kegiatan ini karena sesuai dengan sasaran dari pendirian BPDP, yakni peningkatan kesejahteraan petani sawit.
“Harapan saya para peserta bisa mengikuti kegiatan ini dengan baik, menyerap materi yang disampaikan para pembicara dan mengaplikasikan biochar yang dibuatnya di kebun sawitnya. Apalagi tandan kosong sawit yang menjadi bahan baku (biochar) banyak tersedia di sini,” kata Anwar Sadat.
Dia juga mengapresiasi Aspekpir yang terus melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi petani kelapa sawit ini. "Ini dalam rangka mempromosikan biochar kepada para petani sawit," katanya.
Biochar ini, kata dia, salah satu fungsinya bisa mengikat hara dan air yang sangat bermanfaat bagi tanaman sawit . Harapannya dengan penggunaan biochar ini bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia yang saat ini harganya sangat mahal. "Sehingga dengan penggunaan biochar akan mengurangi biaya pemupukan," tuturnya.
Anwar juga mengatakan bahwa dengan penggunaan biochar ini sebagai salah satu upaya kita menjawab isu-isu keberlanjutan yang digaungkan Uni Eropa. "Secara teori biochar ini menghasilkan karbon, sehingga ini sangat ramah lingkungan karena berasal dari bahan-bahan organik," papar Anwar.
Pelaksana Tugas Camat Sungai Lilin Irfan Apriadi sangat mendukung inovasi ini untuk meningkatkan produktivitas kebun sawit petani yang ada di Kecamatan Sungai Lilin. "Mari kita ikuti acara ini dengan seksama agar ilmu yg dipaparkan bisa kita serap," katanya.
Mirza Arif Zainal mengatakan bahwa biochar kaya karbon yang dihasilkan dari proses pembakaran tidak sempurna atau pembakaran tanpa oksigen atau oksigen terbatas dengan suhu di atas 250 Celcius. Pembakaran ini dilakukan dalam waktu dua jam atau lebih tergantung pada jenis biomassa yang digunakan.
Sementara itu, Arif Firmansyah mengatakan biochar memiliki nilai ekonomis dan menjadi produk yang layak dipasarkan oleh siapa saja yang mampu memproduksinya. Apalagi kebutuhan terhadap biochar tidak hanya terbatas pada individu atau perorangan atau kelompok tani, namun juga rumah tangga, komunitas sampai perusahaan perkebunan. Baca juga: Petani Sawit Rokan Hulu Pelatihan Bikin Biochar, Alternatif Pupuk Organik
Dalam lima tahun terakhir ini, kata Arif Firmansyah, kebutuhan terhadap biochar semakin tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. Peningkatan kebutuhan terhadap biochar tentunya tidak lepas dari tumbuhnya kesadaran pentingnya pertanian berkelanjutan sehingga kesehatan dan kesuburan tanah merupakan faktor signifikan.
Pembuatan biochar di Indonesia terus berkembang, baik yang skala kecil hingga pabrik berskala besar. Hal ini menunjukkan potensi biochar sebagai produk bernilai ekonomis yang dapat dimanfaatkan oleh siapapun.
“Petani kelapa sawit punya peluang untuk memanfaatkan biochar sebagai produk yang layak dipasarkan di sekitar tempat tinggal maupun pasar yang lebih luas,” tandasnya.
(poe)
Lihat Juga :