Misteri Kisah Cinta Gajah Mada: Cinta, Pengabdian dan Sumpah Palapa yang Mengikat Nusantara
Selasa, 23 September 2025 - 07:29 WIB
loading...
Gajah Mada selalu melekat dalam sejarah Nusantara sebagai sosok mahapatih yang teguh pada sumpahnya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di bawah panji Majapahit. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
GAJAH MADA selalu melekat dalam sejarah Nusantara sebagai sosok mahapatih yang teguh pada sumpahnya untuk menyatukan kerajaan-kerajaan di bawah panji Kerajaan Majapahit. Namun, di balik ketegasan dan ambisi politiknya, kisah asmara sang panglima perang Majapahit masih menyisakan misteri tentang siapa sebenarnya wanita yang pernah singgah dalam hatinya.
Sejarah hanya meninggalkan sedikit catatan. Tetapi dari serpihan prasasti, literatur, dan cerita tutur, ada tiga nama perempuan yang kerap dikaitkan dengan sosok Gajah Mada: Puranti dari Kahuripan, Dyah Pitaloka Citaresmi dari Sunda, dan Ni Luh Ayu Sekarini dari Bali.
Baca juga: Strategi Gajah Mada Redam Pemberontakan di Kerajaan Majapahit
Kisah asmara Gajah Mada dengan Ni Luh Ayu Sekarini tercatat dalam Prasasti Aria Bebed di Buleleng, Bali. Prasasti ini menggambarkan peristiwa ketika Gajah Mada memimpin penaklukan Bali atas perintah Ratu Tribhuwanatunggadewi.
Di sela-sela peperangan, sang mahapatih sempat berdiam di Pedukuhan Gedangan untuk bertapa. Di tempat itulah ia bertemu dengan putri Ki Dukuh Gedangan, Ni Luh Ayu Sekarini. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih cinta. Mereka akhirnya menikah, dan lahirlah seorang putra bernama Aria Bebed.
Sayangnya, tugas negara memanggil. Sebelum anak itu lahir, Gajah Mada harus kembali ke Majapahit. Putranya baru bertemu sang ayah ketika beranjak dewasa, sebelum kemudian kembali menetap di Bali.
Baca juga: Kisah Runtuhnya Kejayaan Majapahit Setelah Gajah Mada Mangkat
Kisah lain datang dari Kahuripan. Dalam buku Kisah Cinta Gajah Mada, Kontroversi Kehidupan Sang Mahapatih karya Gesta Bayuadhy, diceritakan bahwa sebelum menjadi mahapatih, Gajah Mada yang saat itu masih seorang prajurit biasa jatuh hati pada Puranti, putri Demang Suryanata.
Namun, cinta mereka terbentur status. Puranti akhirnya dilamar oleh Raden Damar, putra seorang patih berpengaruh. Perselisihan pun tak terelakkan, hingga Gajah Mada terpaksa meninggalkan Kahuripan. Cinta itu kandas, tetapi dari sinilah langkah Gajah Mada menuju Majapahit dimulai.
Nama Dyah Pitaloka Citaresmi, putri Kerajaan Sunda, juga tak bisa dilepaskan dari kisah cinta Gajah Mada. Kecantikannya tersohor hingga ke telinga Prabu Hayam Wuruk yang berniat meminangnya.
Namun, peristiwa berujung tragis. Perang Bubat pecah, dan seluruh pasukan Sunda yang dipimpin Maharaja Linggabuana gugur. Dyah Pitaloka memilih bunuh diri untuk menjaga kehormatan. Dalam catatan sejarah, tragedi ini tak hanya merenggut cinta, tetapi juga mencoreng hubungan dua kerajaan besar.
Meski banyak kisah asmara melekat pada namanya, sejumlah literatur menggambarkan Gajah Mada sebagai sosok yang justru menjauh dari urusan cinta. Dalam novel sejarah Gajah Mada: Hamukti Palapa karya Langit Kresna Hadi, bahkan digambarkan dialog Gajah Mada yang menganggap perempuan sebagai penghalang perjuangan.
“Perempuan adalah sumber kelemahan bagiku,” demikian kutipan yang menegaskan tekadnya. Baginya, pengabdian pada Majapahit jauh lebih utama dibanding godaan asmara.
Dan benar saja, sumpah palapa yang diucapkannya bukan sekadar janji kosong. Selama 21 tahun, Gajah Mada memimpin penaklukan demi penaklukan hingga Nusantara berada di bawah panji Majapahit.
Romansa Gajah Mada memang penuh misteri, antara cinta yang bersemi, kisah yang kandas, hingga tragedi yang memilukan. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang pasti, tekadnya untuk menyatukan Nusantara menjadi warisan abadi yang tak pernah pudar.
Sejarah hanya meninggalkan sedikit catatan. Tetapi dari serpihan prasasti, literatur, dan cerita tutur, ada tiga nama perempuan yang kerap dikaitkan dengan sosok Gajah Mada: Puranti dari Kahuripan, Dyah Pitaloka Citaresmi dari Sunda, dan Ni Luh Ayu Sekarini dari Bali.
Baca juga: Strategi Gajah Mada Redam Pemberontakan di Kerajaan Majapahit
Kisah asmara Gajah Mada dengan Ni Luh Ayu Sekarini tercatat dalam Prasasti Aria Bebed di Buleleng, Bali. Prasasti ini menggambarkan peristiwa ketika Gajah Mada memimpin penaklukan Bali atas perintah Ratu Tribhuwanatunggadewi.
Di sela-sela peperangan, sang mahapatih sempat berdiam di Pedukuhan Gedangan untuk bertapa. Di tempat itulah ia bertemu dengan putri Ki Dukuh Gedangan, Ni Luh Ayu Sekarini. Pertemuan demi pertemuan menumbuhkan benih cinta. Mereka akhirnya menikah, dan lahirlah seorang putra bernama Aria Bebed.
Sayangnya, tugas negara memanggil. Sebelum anak itu lahir, Gajah Mada harus kembali ke Majapahit. Putranya baru bertemu sang ayah ketika beranjak dewasa, sebelum kemudian kembali menetap di Bali.
Baca juga: Kisah Runtuhnya Kejayaan Majapahit Setelah Gajah Mada Mangkat
Kisah lain datang dari Kahuripan. Dalam buku Kisah Cinta Gajah Mada, Kontroversi Kehidupan Sang Mahapatih karya Gesta Bayuadhy, diceritakan bahwa sebelum menjadi mahapatih, Gajah Mada yang saat itu masih seorang prajurit biasa jatuh hati pada Puranti, putri Demang Suryanata.
Namun, cinta mereka terbentur status. Puranti akhirnya dilamar oleh Raden Damar, putra seorang patih berpengaruh. Perselisihan pun tak terelakkan, hingga Gajah Mada terpaksa meninggalkan Kahuripan. Cinta itu kandas, tetapi dari sinilah langkah Gajah Mada menuju Majapahit dimulai.
Nama Dyah Pitaloka Citaresmi, putri Kerajaan Sunda, juga tak bisa dilepaskan dari kisah cinta Gajah Mada. Kecantikannya tersohor hingga ke telinga Prabu Hayam Wuruk yang berniat meminangnya.
Namun, peristiwa berujung tragis. Perang Bubat pecah, dan seluruh pasukan Sunda yang dipimpin Maharaja Linggabuana gugur. Dyah Pitaloka memilih bunuh diri untuk menjaga kehormatan. Dalam catatan sejarah, tragedi ini tak hanya merenggut cinta, tetapi juga mencoreng hubungan dua kerajaan besar.
Meski banyak kisah asmara melekat pada namanya, sejumlah literatur menggambarkan Gajah Mada sebagai sosok yang justru menjauh dari urusan cinta. Dalam novel sejarah Gajah Mada: Hamukti Palapa karya Langit Kresna Hadi, bahkan digambarkan dialog Gajah Mada yang menganggap perempuan sebagai penghalang perjuangan.
“Perempuan adalah sumber kelemahan bagiku,” demikian kutipan yang menegaskan tekadnya. Baginya, pengabdian pada Majapahit jauh lebih utama dibanding godaan asmara.
Dan benar saja, sumpah palapa yang diucapkannya bukan sekadar janji kosong. Selama 21 tahun, Gajah Mada memimpin penaklukan demi penaklukan hingga Nusantara berada di bawah panji Majapahit.
Romansa Gajah Mada memang penuh misteri, antara cinta yang bersemi, kisah yang kandas, hingga tragedi yang memilukan. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang pasti, tekadnya untuk menyatukan Nusantara menjadi warisan abadi yang tak pernah pudar.
(shf)
Lihat Juga :