Cerita Perubahan dari Parupuk Tabing Padang: Ketika Warga Menata Sampah secara Modern
Rabu, 17 September 2025 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
Dengan adanya payung hukum yang jelas, diharapkan upaya ini dapat berjalan lebih terarah, berkelanjutan, dan didukung penuh oleh seluruh elemen masyarakat.
Kepala BPBPK Sumbar Maria Doeni Isa mengingatkan betapa seriusnya persoalan sampah di ibu kota provinsi ini. Menurut data, setiap harinya Padang menghasilkan rata-rata 643 ton sampah, di mana sekitar 467 ton masuk ke TPA, sementara 40 ton lainnya bahkan tidak terkelola sama sekali dan menumpuk di lingkungan sekitar, hanyut ke sungai, atau berakhir di laut.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Jika tidak ditangani akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan memperbesar risiko bencana banjir,” kata Maria.
Rangkaian acaranya meliputi pameran pengelolaan sampah berbasis masyarakat, talkshow inspiratif, penukaran sampah dengan sembako, hingga penandatanganan komitmen bersama berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran ratusan warga, komunitas, dan pelaku usaha menunjukkan bahwa kesadaran kolektif mulai tumbuh.
Maria menekankan bahwa pola lama kumpul–angkut–buang tidak lagi relevan. Sistem konvensional itu tidak hanya membebani TPA, tetapi juga gagal menekan pencemaran lingkungan. “Harus ada inovasi dan partisipasi masyarakat.Tanggung jawab lingkungan ini kita pikul bersama,” ucapnya.
Dukungan Pemerintah dan Harapan Nol Sampah
Komitmen mewujudkan Padang sebagai kota nol sampah bukan hanya lahir dari inisiatif warga, tetapi juga mendapat dorongan kuat dari pemerintah. Salah satu lembaga yang berada di garis depan adalah Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Barat.Kepala BPBPK Sumbar Maria Doeni Isa mengingatkan betapa seriusnya persoalan sampah di ibu kota provinsi ini. Menurut data, setiap harinya Padang menghasilkan rata-rata 643 ton sampah, di mana sekitar 467 ton masuk ke TPA, sementara 40 ton lainnya bahkan tidak terkelola sama sekali dan menumpuk di lingkungan sekitar, hanyut ke sungai, atau berakhir di laut.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama. Jika tidak ditangani akan berdampak pada kesehatan masyarakat dan memperbesar risiko bencana banjir,” kata Maria.
Festival Sebagai Gerakan Kolektif
Komitmen untuk terciptanya sistem pengelolaan sampah yang lebih baik di Kota Padang, diperkuat juga dengan ajang Mamilah Fest 2025 yang digelar di Taman Museum Adityawarman pada Sabtu (16/8/2025). Festival bertema “Padang Goes to Zero Waste” ini dikemas dalam konsep edutainment dengan menggabungkan hiburan dengan edukasi lingkungan.Rangkaian acaranya meliputi pameran pengelolaan sampah berbasis masyarakat, talkshow inspiratif, penukaran sampah dengan sembako, hingga penandatanganan komitmen bersama berbagai pemangku kepentingan. Kehadiran ratusan warga, komunitas, dan pelaku usaha menunjukkan bahwa kesadaran kolektif mulai tumbuh.
Maria menekankan bahwa pola lama kumpul–angkut–buang tidak lagi relevan. Sistem konvensional itu tidak hanya membebani TPA, tetapi juga gagal menekan pencemaran lingkungan. “Harus ada inovasi dan partisipasi masyarakat.Tanggung jawab lingkungan ini kita pikul bersama,” ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :