Persaudaraan Petani dan Nelayan Bogor Kecam Upaya Pecah Belah Soliditas TNI-Polri
Selasa, 16 September 2025 - 16:05 WIB
loading...
Persaudaraan Tani dan Nelayan Kabupaten Bogor mengecam upaya memecah belah soliditas TNI-Polri. Foto/SindoNews
A
A
A
BOGOR - Ketua Persaudaraan Tani dan Nelayan Kabupaten Bogor, Supriyatna menegaskan kemanunggalan TNI dengan rakyat adalah modal utama ketahanan bangsa. Dia menyebut rakyat kecil merasakan langsung peran TNI yang selalu hadir menjaga Tanah Air sekaligus bersatu dengan masyarakat.
“Kami wong cilik paham betul, TNI bukan cuma tentara, tapi saudara kami. Mereka selalu turun membantu kesulitan masyarakat petani. Itu sebabnya kami anggap kemanunggalan TNI-rakyat adalah pondasi bangsa,” kata Supriyatna, Selasa (16/9/2025).
Supriyatna mengutuk keras hoaks dan fitnah yang diarahkan ke TNI maupun upaya memecah belah soliditas TNI-Polri. Menurutnya, tindakan itu sama saja seperti merusak akar tanaman dan sumber kehidupan rakyat.
Baca juga: Komisi I DPR Setujui Anggaran Kemhan-TNI Tahun 2026 Sebesar Rp187,1 Triliun
“Fitnah itu ibarat meracuni sawah. Kalau benih dirusak dari akarnya, panen gagal. Begitu juga kalau TNI dan Polri diadu domba, bangsa ini bisa goyah. Kami lawan keras racun-racun hoaks itu,” tegasnya.
Supriyatna mengibaratkan alat kerja rakyat kecil sebagai simbol ketahanan. Sabit adalah kejujuran dan kerja keras, jala nelayan adalah harapan yang tak boleh robek, dan tanah garapan adalah akar kehidupan. Semuanya hanya bisa bertahan bila persatuan bangsa dijaga.
“TNI-Polri itu pagar hidup bagi sawah dan laut kami. Kalau pagar roboh, tanaman hancur, ikan hilang, rakyat menderita. Maka jangan ada yang coba-coba merusak persatuan mereka,” katanya.
“Kami wong cilik paham betul, TNI bukan cuma tentara, tapi saudara kami. Mereka selalu turun membantu kesulitan masyarakat petani. Itu sebabnya kami anggap kemanunggalan TNI-rakyat adalah pondasi bangsa,” kata Supriyatna, Selasa (16/9/2025).
Supriyatna mengutuk keras hoaks dan fitnah yang diarahkan ke TNI maupun upaya memecah belah soliditas TNI-Polri. Menurutnya, tindakan itu sama saja seperti merusak akar tanaman dan sumber kehidupan rakyat.
Baca juga: Komisi I DPR Setujui Anggaran Kemhan-TNI Tahun 2026 Sebesar Rp187,1 Triliun
“Fitnah itu ibarat meracuni sawah. Kalau benih dirusak dari akarnya, panen gagal. Begitu juga kalau TNI dan Polri diadu domba, bangsa ini bisa goyah. Kami lawan keras racun-racun hoaks itu,” tegasnya.
Supriyatna mengibaratkan alat kerja rakyat kecil sebagai simbol ketahanan. Sabit adalah kejujuran dan kerja keras, jala nelayan adalah harapan yang tak boleh robek, dan tanah garapan adalah akar kehidupan. Semuanya hanya bisa bertahan bila persatuan bangsa dijaga.
“TNI-Polri itu pagar hidup bagi sawah dan laut kami. Kalau pagar roboh, tanaman hancur, ikan hilang, rakyat menderita. Maka jangan ada yang coba-coba merusak persatuan mereka,” katanya.
(cip)
Lihat Juga :