Antisipasi Risiko Bencana dengan Pelatihan di SMP 1 Balongan Indramayu
Sabtu, 13 September 2025 - 13:05 WIB
loading...
Kajian risiko bencana kegiatan pelajar tangguh, kembangkan sekolah tanggap dan ceria (Panah Kesatria) digelar di SMP 1 Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Foto/Ist
A
A
A
INDRAMAYU - Kajian risiko bencana kegiatan pelajar tangguh, kembangkan sekolah tanggap dan ceria (Panah Kesatria) digelar di SMP 1 Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan untuk mengantisipasi risiko bencana ini digelar Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) melalui Integrated Terminal (IT) Balongan pada Rabu (10/9/2025).
Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan bencana, baik di ring satu maupun di luar wilayah operasional. Program ini bertujuan menjamin keamanan warga sekolah, menumbuhkan budaya sadar bencana, serta memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.
Baca juga: TNI AL Beri Pelatihan Penanggulangan Bencana ke Masyarakat Kendari dan Banten
Acara ini diikuti oleh 67 peserta yang terdiri atas 30 siswa kelas 3 SMP, 10 guru, 14 anggota ekstrakurikuler, 4 personel BPBD Kabupaten Indramayu, serta perwakilan dari IT Balongan.
Kegiatan yang berfokus pada kajian risiko bencana ini diawali dengan pemaparan mengenai potensi ancaman bencana di wilayah Balongan. Selanjutnya dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Ismail beserta tim dari BPBD Kabupaten Indramayu.
Dalam diskusi tersebut, para siswa dan guru membagikan pengalaman mereka terkait peristiwa bencana yang pernah terjadi serta menggali langkah-langkah mitigasinya. Diskusi berlangsung dengan penuh semangat, dimana para siswa secara antusias menyampaikan pandangan dan ide-ide mereka.
Baca juga: BMKG: Rentetan Gempa Tingkatkan Potensi Bencana Longsor di Sumbar
Kegiatan ini diharapkan menghasilkan peta risiko bencana, titik evakuasi, serta rambu evakuasi yang jelas dan mudah dipahami oleh seluruh warga sekolah. Selain sebagai langkah mitigasi praktis, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama.
Sekretaris BPBD Kabupaten Indramayu, Asep Afandy Djanwari menjelaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dimulai sejak dini dan melibatkan semua pihak, termasuk sekolah. Sebagai tempat belajar dan tumbuhnya generasi penerus, sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman.
“Dengan memahami ancaman, kerentanan, dan kapasitas, kita bisa menyusun langkah yang lebih tepat sasaran. Karena bencana itu ada tiga dan dapat terjadi kapan saja, meliputi bencana alam, non-alam, dan sosial. Kehadiran kami untuk memastikan bahwa sekolah sebagai pusat kegiatan belajar juga siap menghadapi potensi bencana. Kerjasama ini harus terus berlanjut untuk memastikan generasi emas Indonesia 2045 dapat terwujud,” ujar Asep, dikutip Sabtu (13/9/2025).
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Susanto August Satria menegaskan komitmen perusahaan dalam kegiatan Program Panah Kesatria sehingga menjadi salah satu langkah untuk memastikan sekolah di ring satu tangguh bencana dengan menanamkan budaya siaga bencana.
“Kami ingin memastikan bahwa sekolah di ring satu memiliki kapasitas tangguh bencana. Kajian risiko ini menjadi dasar yang sangat penting sebelum kita berbicara tentang simulasi atau penanganan darurat. Dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, BPBD, dan Pertamina, kita bisa memastikan kesiapsiagaan ini tidak hanya berhenti di tataran wacana, tapi juga diwujudkan dalam aksi yang nyata,” ujar Satria.
Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan bencana, baik di ring satu maupun di luar wilayah operasional. Program ini bertujuan menjamin keamanan warga sekolah, menumbuhkan budaya sadar bencana, serta memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha.
Baca juga: TNI AL Beri Pelatihan Penanggulangan Bencana ke Masyarakat Kendari dan Banten
Acara ini diikuti oleh 67 peserta yang terdiri atas 30 siswa kelas 3 SMP, 10 guru, 14 anggota ekstrakurikuler, 4 personel BPBD Kabupaten Indramayu, serta perwakilan dari IT Balongan.
Kegiatan yang berfokus pada kajian risiko bencana ini diawali dengan pemaparan mengenai potensi ancaman bencana di wilayah Balongan. Selanjutnya dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Ismail beserta tim dari BPBD Kabupaten Indramayu.
Dalam diskusi tersebut, para siswa dan guru membagikan pengalaman mereka terkait peristiwa bencana yang pernah terjadi serta menggali langkah-langkah mitigasinya. Diskusi berlangsung dengan penuh semangat, dimana para siswa secara antusias menyampaikan pandangan dan ide-ide mereka.
Baca juga: BMKG: Rentetan Gempa Tingkatkan Potensi Bencana Longsor di Sumbar
Kegiatan ini diharapkan menghasilkan peta risiko bencana, titik evakuasi, serta rambu evakuasi yang jelas dan mudah dipahami oleh seluruh warga sekolah. Selain sebagai langkah mitigasi praktis, kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama.
Sekretaris BPBD Kabupaten Indramayu, Asep Afandy Djanwari menjelaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dimulai sejak dini dan melibatkan semua pihak, termasuk sekolah. Sebagai tempat belajar dan tumbuhnya generasi penerus, sekolah perlu menjadi lingkungan yang aman.
“Dengan memahami ancaman, kerentanan, dan kapasitas, kita bisa menyusun langkah yang lebih tepat sasaran. Karena bencana itu ada tiga dan dapat terjadi kapan saja, meliputi bencana alam, non-alam, dan sosial. Kehadiran kami untuk memastikan bahwa sekolah sebagai pusat kegiatan belajar juga siap menghadapi potensi bencana. Kerjasama ini harus terus berlanjut untuk memastikan generasi emas Indonesia 2045 dapat terwujud,” ujar Asep, dikutip Sabtu (13/9/2025).
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional JBB, Susanto August Satria menegaskan komitmen perusahaan dalam kegiatan Program Panah Kesatria sehingga menjadi salah satu langkah untuk memastikan sekolah di ring satu tangguh bencana dengan menanamkan budaya siaga bencana.
“Kami ingin memastikan bahwa sekolah di ring satu memiliki kapasitas tangguh bencana. Kajian risiko ini menjadi dasar yang sangat penting sebelum kita berbicara tentang simulasi atau penanganan darurat. Dengan kolaborasi yang kuat antara sekolah, BPBD, dan Pertamina, kita bisa memastikan kesiapsiagaan ini tidak hanya berhenti di tataran wacana, tapi juga diwujudkan dalam aksi yang nyata,” ujar Satria.
(shf)
Lihat Juga :