Banjir Bali Terparah dalam Satu Dekade, BMKG: Akibat Alih Fungsi Lahan dan Hujan Ekstrem
Sabtu, 13 September 2025 - 08:52 WIB
loading...
A
A
A
Bahkan beberapa titik lain seperti Denpasar Barat, Petang, Kerambitan, dan Padangbai juga mencatat curah hujan di atas 200 mm per hari. Padahal, secara klimatologis, hujan di atas 150 mm/hari sudah dikategorikan ekstrem.
Menurut Dwikorita, intensitas hujan ekstrem tersebut dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal. “Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” ujar Dwikorita dalam keterangannya, dikutip Sabtu (13/9/2025).
Baca juga: Denpasar Dikepung Banjir, Underpass Dewa Ruci Bali Lumpuh
Selain akibat dinamika atmosfer, Dwikorita mengungkapkan bahwa BMKG juga menyoroti faktor lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir. Sistem drainase di beberapa wilayah dinilai belum mampu menyalurkan volume air hujan yang sangat besar, diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.
“Alih fungsi lahan dari area resapan menjadi permukiman dan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air, sehingga risiko genangan semakin tinggi,” ungkap Dwikorita.
Menurut Dwikorita, intensitas hujan ekstrem tersebut dipicu oleh kombinasi faktor regional dan lokal. “Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby ekuator yang aktif bersamaan dengan kondisi atmosfer labil di Bali memperbesar risiko terbentuknya awan konvektif secara masif,” ujar Dwikorita dalam keterangannya, dikutip Sabtu (13/9/2025).
Baca juga: Denpasar Dikepung Banjir, Underpass Dewa Ruci Bali Lumpuh
Selain akibat dinamika atmosfer, Dwikorita mengungkapkan bahwa BMKG juga menyoroti faktor lingkungan dan infrastruktur yang memperparah dampak banjir. Sistem drainase di beberapa wilayah dinilai belum mampu menyalurkan volume air hujan yang sangat besar, diperburuk oleh sedimentasi dan sampah yang menyumbat saluran air.
“Alih fungsi lahan dari area resapan menjadi permukiman dan komersial juga mengurangi kemampuan tanah menyerap air, sehingga risiko genangan semakin tinggi,” ungkap Dwikorita.
Lihat Juga :