Koeksistensi Manusia-Orang Utan Tapanuli Butuh Kolaborasi
Minggu, 07 September 2025 - 14:04 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu adanya kebijakan yang mendukung di tingkat pusat dan daerah, adanya komitmen jangka panjang dari para pihak, serta berjalannya pelestarian dan perlindungan habitat satwa liar.
“Kami percaya bahwa dengan adanya kemauan dan komitmen bersama, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, NGO, masyarakat lokal, serta media, mimpi kita bersama untuik menciptakan lingkungan dimana manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis dapat diwujudkan”, pungkas Dolly.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Hubungan Eksternal PT Agincourt Resources, Sanny Tjan menegaskan bahwa acara seminar nasional yang didukung perusahaan melalui Belantara Foundation sebagai penyelenggara, merupakan kegiatan untuk membangun kesadaran publik serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, termasuk pelestarian orangutan tapanuli beserta habitatnya.
Menurut Sanny, keberhasilan konservasi keanaekaragaman hayati salah satunya dapat dicapai melalui kolaborasi multipihak yang berjalan berkesinambungan. Kolaborasi ini perlu menghadirkan kontribusi nyata dari seluruh elemen sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing untuk mewujudkan kehidupan yang selaras atau living in harmony.
“Dengan mengadopsi konsep pentahelix yang menyinergikan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media, kita dapat menemukan pendekatan inovatif sekaligus memperkuat implementasi program pelestarian orangutan tapanuli. Namun, hal ini membutuhkan koordinasi yang erat serta komitmen berkelanjutan dari semua pihak sesuai peran masing-masing,” tutur Sanny.
Sedangkan Associate Fellow Departemen Antropologi, FISIP Universitas Indonesia dan Co-founder Anama Consulting, Sundjaya mengatakan bahwa strategi konservasi orangutan tapanuli berbasis masyarakat lokal mulai berkembang dan penting.
Etnografi, metode riset dalam antropologi, dapat menjadi langkah awal memahami aspek sosial kultural masyarakat di sekitar hutan dan interaksi mereka dengan orangutan tapanuli. Melalui analisis mendalam dan menyeluruh, etnografi dapat memperkuat strategi dan kebijakan konservasi yang melibatkan pengetahuan dan budaya masyarakat adat atau komunitas lokal, terutama untuk mengoptimalkan faktor-faktor yang dapat mendorong partisipasi aktif mereka dalam pelestarian orang utan Tapanuli.
Dalam sambutannya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., yang menjadi tuan rumah acara, berharap bahwa seminar nasional ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang bagaimana mewujudkan koeksistensi yang nyata di lapangan.
“Semoga seminar ini membawa manfaat besar bagi upaya konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia” pungkasnya.
“Kami percaya bahwa dengan adanya kemauan dan komitmen bersama, serta kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, NGO, masyarakat lokal, serta media, mimpi kita bersama untuik menciptakan lingkungan dimana manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan secara harmonis dapat diwujudkan”, pungkas Dolly.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Hubungan Eksternal PT Agincourt Resources, Sanny Tjan menegaskan bahwa acara seminar nasional yang didukung perusahaan melalui Belantara Foundation sebagai penyelenggara, merupakan kegiatan untuk membangun kesadaran publik serta meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, termasuk pelestarian orangutan tapanuli beserta habitatnya.
Menurut Sanny, keberhasilan konservasi keanaekaragaman hayati salah satunya dapat dicapai melalui kolaborasi multipihak yang berjalan berkesinambungan. Kolaborasi ini perlu menghadirkan kontribusi nyata dari seluruh elemen sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing untuk mewujudkan kehidupan yang selaras atau living in harmony.
“Dengan mengadopsi konsep pentahelix yang menyinergikan akademisi, dunia usaha, komunitas, pemerintah, dan media, kita dapat menemukan pendekatan inovatif sekaligus memperkuat implementasi program pelestarian orangutan tapanuli. Namun, hal ini membutuhkan koordinasi yang erat serta komitmen berkelanjutan dari semua pihak sesuai peran masing-masing,” tutur Sanny.
Sedangkan Associate Fellow Departemen Antropologi, FISIP Universitas Indonesia dan Co-founder Anama Consulting, Sundjaya mengatakan bahwa strategi konservasi orangutan tapanuli berbasis masyarakat lokal mulai berkembang dan penting.
Etnografi, metode riset dalam antropologi, dapat menjadi langkah awal memahami aspek sosial kultural masyarakat di sekitar hutan dan interaksi mereka dengan orangutan tapanuli. Melalui analisis mendalam dan menyeluruh, etnografi dapat memperkuat strategi dan kebijakan konservasi yang melibatkan pengetahuan dan budaya masyarakat adat atau komunitas lokal, terutama untuk mengoptimalkan faktor-faktor yang dapat mendorong partisipasi aktif mereka dalam pelestarian orang utan Tapanuli.
Dalam sambutannya, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Prof. Dr. Sri Setyaningsih, M.Si., yang menjadi tuan rumah acara, berharap bahwa seminar nasional ini dapat menjadi wadah bagi semua pihak untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta gagasan baru, tentang bagaimana mewujudkan koeksistensi yang nyata di lapangan.
“Semoga seminar ini membawa manfaat besar bagi upaya konservasi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia” pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :