Geopark Toba Kembali Green Card, Masyarakat Harus Dapat Lebih Banyak Manfaat
Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:09 WIB
loading...
Anggota Komisi VII DPR Bane Raja Manalu meminta pengelolaan kawasan Danau Toba harus terus ditingkatkan untuk memberi lebih banyak manfaat pada masyarakat. Foto/Istimewa
A
A
A
TOBA - Anggota Komisi VII DPR Bane Raja Manalu meminta pengelolaan kawasan Danau Toba harus terus ditingkatkan untuk memberi lebih banyak manfaat pada masyarakat. Bane menyambut baik Geopark Global UNESCO Caldera Toba kembali mendapat green card (kartu hijau) dari UNESCO.
“Menyambut baik apa yang disampaikan Pak Sekda Provinsi Sumatera Utara, bahwa Geopark Toba mendapat green card. Kita sama-sama mendukung kemajuan kawasan Danau Toba,” ujar Bane dalam Kunjungan Kerja Komisi VII DPR di Kaldera Toba, Sumatera Utara, Sabtu (26/7/2025).
Bane mengatakan, tugas selanjutnya adalah memastikan kemajuan kawasan Danau Toba juga sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Maka itu, masyarakat juga harus diajak dan disiapkan untuk terlibat dalam pelestarian dan pengembangan kawasan Danau Toba.
Baca juga: Bane Manalu Minta Pengelolaan Geopark Dipindah dari Kementerian ESDM ke Kemenpar
“Kita sering bicara stakeholder, tapi lupa share holder. Apa yang kita lakukan tidak akan berguna kalau enggak ada dampak untuk masyarakat,” ujar Bane, Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.
Maka itu, menurut Bane, harus ditetapkan zonasi wisata di kawasan Danau Toba, seperti kawasan wisata massal atau wisata kekhususan (edukasi-penelitian). Tujuannya agar keanekaragaman hayati kawasan Danau Toba tetap terjaga namun tetap mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Danau Toba kawasan terintegrasi, harus dibangun sama-sama. Zonasi juga perlu, mana pariwisata massal dan pariwisata kekhususan. Karena kalau biodiversitynya enggak dijaga, percuma juga,” pungkasnya.
Adapun kembalinya status green card untuk Geopark Kaldera Toba disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Togap Simangunsong dalam rapat tersebut. Togap menjelaskan bahwa capaian baik ini berkat kerja sama semua pihak, pemda kawasan Danau Toba, Kementerian Pariwisata, DPR, dan masyarakat.
“Kabar positif dari hasil asesor, menyatakan bahwa Geopark Toba mendapat green card,” kata Togap.
UNESCO telah melakukan penilaian pada 21-25 Juli 2025, dengan tim penilai dari Portugal dan Korea Selatan. Hasil revalidasi Toba Caldera Unesco Global Geopark secara resmi akan diajukan dan direkomendasikan ke UNESCO pada Sidang UNESCO Global Geopark September 2025 di Chile.
Ada empat rekomendasi perbaikan yang disampaikan UNESCO, yakni pertama, badan pengelola harus meningkatkan kegiatan edukasi berbasis riset. Kedua, harus segera dilakukan revitalisasi dan optimalisasi badan pengelola.
Rekomendasi ketiga, harus dilaksanakan pembelajaran manajemen agar badan pengelola bisa memahami dan melaksanakan prinsip UNESCO GLOBAL Geopark (UGGp). Keempat, harus ada perbaikan visibilitas, yakni dengan pembangunan gerbang, monumen, dan panel interpretasi.
“Menyambut baik apa yang disampaikan Pak Sekda Provinsi Sumatera Utara, bahwa Geopark Toba mendapat green card. Kita sama-sama mendukung kemajuan kawasan Danau Toba,” ujar Bane dalam Kunjungan Kerja Komisi VII DPR di Kaldera Toba, Sumatera Utara, Sabtu (26/7/2025).
Bane mengatakan, tugas selanjutnya adalah memastikan kemajuan kawasan Danau Toba juga sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Maka itu, masyarakat juga harus diajak dan disiapkan untuk terlibat dalam pelestarian dan pengembangan kawasan Danau Toba.
Baca juga: Bane Manalu Minta Pengelolaan Geopark Dipindah dari Kementerian ESDM ke Kemenpar
“Kita sering bicara stakeholder, tapi lupa share holder. Apa yang kita lakukan tidak akan berguna kalau enggak ada dampak untuk masyarakat,” ujar Bane, Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.
Maka itu, menurut Bane, harus ditetapkan zonasi wisata di kawasan Danau Toba, seperti kawasan wisata massal atau wisata kekhususan (edukasi-penelitian). Tujuannya agar keanekaragaman hayati kawasan Danau Toba tetap terjaga namun tetap mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Danau Toba kawasan terintegrasi, harus dibangun sama-sama. Zonasi juga perlu, mana pariwisata massal dan pariwisata kekhususan. Karena kalau biodiversitynya enggak dijaga, percuma juga,” pungkasnya.
Adapun kembalinya status green card untuk Geopark Kaldera Toba disampaikan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara Togap Simangunsong dalam rapat tersebut. Togap menjelaskan bahwa capaian baik ini berkat kerja sama semua pihak, pemda kawasan Danau Toba, Kementerian Pariwisata, DPR, dan masyarakat.
“Kabar positif dari hasil asesor, menyatakan bahwa Geopark Toba mendapat green card,” kata Togap.
UNESCO telah melakukan penilaian pada 21-25 Juli 2025, dengan tim penilai dari Portugal dan Korea Selatan. Hasil revalidasi Toba Caldera Unesco Global Geopark secara resmi akan diajukan dan direkomendasikan ke UNESCO pada Sidang UNESCO Global Geopark September 2025 di Chile.
Ada empat rekomendasi perbaikan yang disampaikan UNESCO, yakni pertama, badan pengelola harus meningkatkan kegiatan edukasi berbasis riset. Kedua, harus segera dilakukan revitalisasi dan optimalisasi badan pengelola.
Rekomendasi ketiga, harus dilaksanakan pembelajaran manajemen agar badan pengelola bisa memahami dan melaksanakan prinsip UNESCO GLOBAL Geopark (UGGp). Keempat, harus ada perbaikan visibilitas, yakni dengan pembangunan gerbang, monumen, dan panel interpretasi.
(rca)
Lihat Juga :