Atasi Karhutla, BMKG dan BNPB Tabur 20,8 Ton Garam di Langit Riau
Sabtu, 26 Juli 2025 - 07:58 WIB
loading...
A
A
A
Tak hanya berdampak di wilayah utama operasi, penyemaian awan juga memberikan efek positif di kawasan sekitar perbatasan Provinsi Riau. Dari data citra radar cuaca BMKG, hujan dengan intensitas sedang terpantau terjadi di Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Efektivitas program ini diperkuat oleh data terbaru BMKG yang mencatat tidak ada lagi hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah maupun tinggi yang terpantau di wilayah Provinsi Riau per Jumat pagi, 25 Juli 2025. Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa modifikasi cuaca berhasil menekan potensi karhutla secara signifikan.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyatakan bahwa keberhasilan OMC di Riau menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dan pendekatan berbasis sains dalam mitigasi bencana. Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja kolaboratif antara BMKG, BNPB, TNI AU, Kementerian Politik dan Keamanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kepolisian Republik Indonesia, dan pemerintah daerah.
“Ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis data dan teknologi dapat secara signifikan menekan risiko karhutla. Kami terus memantau dinamika atmosfer secara real-time untuk memastikan penyemaian awan dilakukan di lokasi dan waktu yang paling optimal, agar menghasilkan hujan yang maksimal dan tepat sasaran,” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan jumlah hotspot juga terdeteksi di Kalimantan Barat (Kalbar). Sebagai langkah antisipatif, OMC juga telah digelar di wilayah tersebut dan akan berlangsung hingga 28 Juli 2025. Hari pertama pelaksanaan menunjukkan hasil awal yang baik, dengan sejumlah wilayah mulai diguyur hujan ringan sebagai respons positif dari penyemaian awan. Operasi akan terus dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan, dengan harapan dapat menurunkan risiko karhutla dan menekan penyebaran titik panas di Kalbar.
Efektivitas program ini diperkuat oleh data terbaru BMKG yang mencatat tidak ada lagi hotspot dengan tingkat kepercayaan menengah maupun tinggi yang terpantau di wilayah Provinsi Riau per Jumat pagi, 25 Juli 2025. Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa modifikasi cuaca berhasil menekan potensi karhutla secara signifikan.
Sementara itu, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyatakan bahwa keberhasilan OMC di Riau menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dan pendekatan berbasis sains dalam mitigasi bencana. Keberhasilan ini adalah hasil dari kerja kolaboratif antara BMKG, BNPB, TNI AU, Kementerian Politik dan Keamanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kepolisian Republik Indonesia, dan pemerintah daerah.
“Ini membuktikan bahwa pendekatan berbasis data dan teknologi dapat secara signifikan menekan risiko karhutla. Kami terus memantau dinamika atmosfer secara real-time untuk memastikan penyemaian awan dilakukan di lokasi dan waktu yang paling optimal, agar menghasilkan hujan yang maksimal dan tepat sasaran,” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan jumlah hotspot juga terdeteksi di Kalimantan Barat (Kalbar). Sebagai langkah antisipatif, OMC juga telah digelar di wilayah tersebut dan akan berlangsung hingga 28 Juli 2025. Hari pertama pelaksanaan menunjukkan hasil awal yang baik, dengan sejumlah wilayah mulai diguyur hujan ringan sebagai respons positif dari penyemaian awan. Operasi akan terus dilanjutkan dalam beberapa hari ke depan, dengan harapan dapat menurunkan risiko karhutla dan menekan penyebaran titik panas di Kalbar.
Lihat Juga :