Tragedi Pesta Rakyat Pernikahan Anak KDM, Polisi Periksa 10 Saksi
Senin, 21 Juli 2025 - 18:24 WIB
loading...
Satreskrim Polres Garut telah memeriksa 10 saksi kasus pesta rakyat pernikahan Maula Akbar Mulyadi Putra, anak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, di Pendopo Kabupaten Garut yang berujung tragedi pada Jumat (18/7/2025). Foto/Istimewa
A
A
A
BANDUNG - Satreskrim Polres Garut telah memeriksa 10 saksi kasus pesta rakyat pernikahan Maula Akbar Mulyadi Putra, anak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi , di Pendopo Kabupaten Garut yang berujung tragedi pada Jumat (18/7/2025). Ke-10 saksi yang diperiksa itu dari Event Organizer (EO), warga, anggota Satpol PP, kepolisian, sopir ambulans, dan dokter.
"Iya, tapi penanganannya diambil alih sama Polda Jabar," kata Kasatreskrim Polres Garut AKP Joko Prihatin kepada wartawan, Senin (21/7/2025).
AKP Joko menyatakan, 10 saksi yang diperiksa itu dari EO, anggota Satpol PP, polisi, sopir ambulans, dan dokter yang menangani korban. "Itu nanti dilanjutkan oleh Polda Jabar. Kami cuma memeriksa itu (10 saksi)," ujar AKP Joko.
Kasatreskrim menuturkan, pemeriksaan dilakukan maraton sejak pascakejadian Jumat dilanjut Sabtu (19/7/2025) hingga Minggu (20/7/2025). Dia mengatakan hari ini tidak ada penanganan karena kasus sudah diambil alih Polda Jabar. "Dikasih ke Direktorat Kriminal Umum, Polda Jabar," ujarnya.
Baca Juga: Pesta Rakyat Pernikahan Anak KDM, 3 Orang Tewas Terinjak-injak
Diketahui, tragedi yang menewaskan tiga orang dan menyebabkan 30 orang luka-luka serta pingsan itu terjadi di Pendopo Garut pada Jumat 18 Juli 2025 sore. Polisi menyebut ribuan warga berdesakan di gerbang pendopo untuk mendapatkan makanan gratis yang disediakan panitia sekitar 5.000 paket.
Sedangkan massa yang datang hampir dua kali lipat dari jumlah ketersediaan makanan. Akibatnya, tiga orang meninggal dunia akibat berdesakan dan terinjak-injak. Selain itu, 30 orang pingsan dan luka-luka.
"Kronologi awalnya, di pendopo disiapkan paket makanan gratis. Jumlahnya, informasi awal yang kami dapatkan adalah 5.000 pack. Masyarakat mengantre di luar pintu pendopo," kata Kabid Humas.
Sebelum acara dimulai, ujar Kombes Hendra, ribuan warga Garut dan luar derah sudah memadati kawasan pendopo. Mereka datang sejak pagi hari untuk menghadiri berbagai kegiatan rangkaian pesta pernikahan Maula Akbar-Putri Karlina yang direncanakan berlangsung hingga malam.
Saat gerbang pendopo dibuka, massa menyerbu berebut masuk. Aparat keamanan lalu menutup sebagian gerbang pendopo masuk untuk mengantisipasi kericuhan di tempat makan. Namun, langkah tersebut tak cukup menahan desakan massa dari luar.
"Masyarakat yang berdatangan dari luar itu lebih banyak. Mereka mau masuk semua. Sehingga ketika dibatasi seberapa, akhirnya dorongan dari dari luar sangat deras," tutur Kombes Hendra.
Kabid Humas mengatakan, penutupan sebagian gerbang pendopo justru menyebabkan penumpukan massa. Akibatnya, sejumlah warga terjatuh dan terinjak-injak.
Beberapa di antaranya mengalami cedera seperti lebam, keseleo, dan pingsan. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat. "Para korban terjatuh, kemudian terinjak-injak di sini (gerbang pendopo)," ucap Kabid Humas.
Sementara itu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan siap diperiksa polisi jika diminta memberikan keterangan terkait insiden dalam acara syukuran tersebut. "Enggak ada masalah. Kan semua orang kedudukannya sama di depan hukum. Mau anak saya, mau saya, kan kalau ada panggilan harus datang dan memberikan keterangan secara benar," kata gubernur yang akrab disapa KDM itu.
"Iya, tapi penanganannya diambil alih sama Polda Jabar," kata Kasatreskrim Polres Garut AKP Joko Prihatin kepada wartawan, Senin (21/7/2025).
AKP Joko menyatakan, 10 saksi yang diperiksa itu dari EO, anggota Satpol PP, polisi, sopir ambulans, dan dokter yang menangani korban. "Itu nanti dilanjutkan oleh Polda Jabar. Kami cuma memeriksa itu (10 saksi)," ujar AKP Joko.
Kasatreskrim menuturkan, pemeriksaan dilakukan maraton sejak pascakejadian Jumat dilanjut Sabtu (19/7/2025) hingga Minggu (20/7/2025). Dia mengatakan hari ini tidak ada penanganan karena kasus sudah diambil alih Polda Jabar. "Dikasih ke Direktorat Kriminal Umum, Polda Jabar," ujarnya.
Baca Juga: Pesta Rakyat Pernikahan Anak KDM, 3 Orang Tewas Terinjak-injak
Diketahui, tragedi yang menewaskan tiga orang dan menyebabkan 30 orang luka-luka serta pingsan itu terjadi di Pendopo Garut pada Jumat 18 Juli 2025 sore. Polisi menyebut ribuan warga berdesakan di gerbang pendopo untuk mendapatkan makanan gratis yang disediakan panitia sekitar 5.000 paket.
Sedangkan massa yang datang hampir dua kali lipat dari jumlah ketersediaan makanan. Akibatnya, tiga orang meninggal dunia akibat berdesakan dan terinjak-injak. Selain itu, 30 orang pingsan dan luka-luka.
"Kronologi awalnya, di pendopo disiapkan paket makanan gratis. Jumlahnya, informasi awal yang kami dapatkan adalah 5.000 pack. Masyarakat mengantre di luar pintu pendopo," kata Kabid Humas.
Sebelum acara dimulai, ujar Kombes Hendra, ribuan warga Garut dan luar derah sudah memadati kawasan pendopo. Mereka datang sejak pagi hari untuk menghadiri berbagai kegiatan rangkaian pesta pernikahan Maula Akbar-Putri Karlina yang direncanakan berlangsung hingga malam.
Saat gerbang pendopo dibuka, massa menyerbu berebut masuk. Aparat keamanan lalu menutup sebagian gerbang pendopo masuk untuk mengantisipasi kericuhan di tempat makan. Namun, langkah tersebut tak cukup menahan desakan massa dari luar.
"Masyarakat yang berdatangan dari luar itu lebih banyak. Mereka mau masuk semua. Sehingga ketika dibatasi seberapa, akhirnya dorongan dari dari luar sangat deras," tutur Kombes Hendra.
Kabid Humas mengatakan, penutupan sebagian gerbang pendopo justru menyebabkan penumpukan massa. Akibatnya, sejumlah warga terjatuh dan terinjak-injak.
Beberapa di antaranya mengalami cedera seperti lebam, keseleo, dan pingsan. Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat. "Para korban terjatuh, kemudian terinjak-injak di sini (gerbang pendopo)," ucap Kabid Humas.
Sementara itu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyatakan siap diperiksa polisi jika diminta memberikan keterangan terkait insiden dalam acara syukuran tersebut. "Enggak ada masalah. Kan semua orang kedudukannya sama di depan hukum. Mau anak saya, mau saya, kan kalau ada panggilan harus datang dan memberikan keterangan secara benar," kata gubernur yang akrab disapa KDM itu.
(zik)
Lihat Juga :