KDM Didemo Ratusan Pekerja Pariwisata Jabar, Tuntut Pencabutan Larangan Study Tour
Senin, 21 Juli 2025 - 12:54 WIB
loading...
A
A
A
Dampak kebijakan Dedi Mulyadi melarang study tour, ujar Herdi, terjadi penurunan drastis order. Mereka yang menikmati pariwisata di Jawa Barat didominasi dari studi tur.
"Saya katakan menu utama Jabar itu, jangan ada yang membantah. Karena Jabar bukan Bali. Menu utama Bali itu wisatawan asing. Menu utama Jawa Barat itu adalah wisatawan, studi tur, anak-anak sekolah yang jumlahnya cukup besar, potensi pasarnya sangat besar," ujar dia.
Saat Covid-19, tutur Herdi, ada bantuan dari pemerintah saat pariwisata lumpuh. Namun, saat kebijakan Dedi Mulyadi diberlakukan, tidak ada solusi dan kompensasi yang diberikan.
Slamet (37), pekerja bus pariwisata Bukit Jaya mengatakan, sejak kebijakan larangan studi tur diberlakukan dirinya lebih banyak nganggur. Padahal sebelum kebijakan tersebut dibuat, ia mengaku dapat beroperasi sebulan 12 kali.
"Seminggu tiga kali. Sebulan 12 kali berangkat. Sekali trip Rp500 ribu. Sebulan bisa dapat Rp4 juta, sekarang sejuta gak nyampe," kata Slamet.
Di tengah situasi tersebut, ujar Slamet, bekerja serabutan untuk menyambung hidup seperti menjadi sopir truk.
"Saya katakan menu utama Jabar itu, jangan ada yang membantah. Karena Jabar bukan Bali. Menu utama Bali itu wisatawan asing. Menu utama Jawa Barat itu adalah wisatawan, studi tur, anak-anak sekolah yang jumlahnya cukup besar, potensi pasarnya sangat besar," ujar dia.
Saat Covid-19, tutur Herdi, ada bantuan dari pemerintah saat pariwisata lumpuh. Namun, saat kebijakan Dedi Mulyadi diberlakukan, tidak ada solusi dan kompensasi yang diberikan.
Slamet (37), pekerja bus pariwisata Bukit Jaya mengatakan, sejak kebijakan larangan studi tur diberlakukan dirinya lebih banyak nganggur. Padahal sebelum kebijakan tersebut dibuat, ia mengaku dapat beroperasi sebulan 12 kali.
"Seminggu tiga kali. Sebulan 12 kali berangkat. Sekali trip Rp500 ribu. Sebulan bisa dapat Rp4 juta, sekarang sejuta gak nyampe," kata Slamet.
Di tengah situasi tersebut, ujar Slamet, bekerja serabutan untuk menyambung hidup seperti menjadi sopir truk.
(shf)
Lihat Juga :