Sejak Abad 8 Masehi Pedagang Asing Mendatangi Ibu Kota Kerajaan Mataram Kuno

Senin, 21 Juli 2025 - 06:51 WIB
loading...
Sejak Abad 8 Masehi...
Sejak abad 8 hingga 10 Kerajaan Mataram Kuno menjelma menjadi kerajaan besar di Nusantara dan sudah ada beberapa orang asing yang datang dari luar negeri. Foto/Ilustrasi/Dok.kemendikbud
A A A
ABAD 8 hingga 10 Kerajaan Mataram Kuno menjelma menjadi kerajaan besar di Nusantara. Kebesarannya bahkan dapat dilihat dari tata letak ibu kota dan seisinya, termasuk bangunan hingga orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Sejak abad 8-9 Masehi konon sudah ada beberapa orang asing yang datang dari luar negeri. Mereka turut tinggal berdiam di Mataram yang berada di Pulau Jawa. Bahkan orang asing ini membayar pajak yang berbeda, tentunya secara nilai lebih mahal daripada rakyat Mataram saat itu.

Baca juga: Mengenal Perbedaan Mataram Islam dengan Mataram Kuno, Sudah Tahu?

Para saudagar kaya kerap melakukan hubungan perdagangan di ibu kota Mataram. Mereka tak hanya datang dari Nusantara saja, tapi kebanyakan mereka dari China. Dikutip dari "Babad Tanah Jawi" keberadaan ibu kota Mataram itu digambarkan dalam sebuah berita dari China.



Berita ini merupakan informasi yang disampaikan dari para pedagang dan saudagar kaya, yang pernah tinggal atau berinteraksi dengan penduduk di Mataram Kuno kala itu. Pada berita China itu diinformasikan mengenai struktur bangunan istana Kerajaan Mataram.

Dimana istana raja berada di ibu kota kerajaan dikelilingi oleh dinding dari batu bata dan batang kayu. Di luar istana, masih dalam satu lingkungan dinding ibu kota, terdapat kediaman para pejabat tinggi kerajaan, termasuk putra mahkota beserta keluarganya.

Baca juga: Sosok Pramodhawardani Raja Perempuan Pertama Kerajaan Mataram Kuno

Mereka tinggal di perkampungan khusus, sedangkan para hamba dan budak yang dipekerjakan di istana juga tinggal di sekitarnya. Sisa-sisa peninggalan permukiman khusus ini sampai sekarang masih bisa ditemukan di Yogyakarta dan Surakarta. Di luar tembok kota, para rakyat berdiam rakyat yang merupakan kelompok terbesar.

Kehidupan masyarakat di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani dan mengandalkan sektor agraris. Pasalnya pusat Kerajaan Mataram terletak di pedalaman, bukan di pesisir pantai, maka pertanian merupakan sumber kehidupan kebanyakan rakyat Mataram.

Selain bertani, penduduk di desa yang biasanya disebut wanua memelihara ternak, seperti kambing, kerbau, sapi, ayam, babi, dan itik. Sebagai tenaga kerja, mereka juga berdagang dan menjadi pengerajin.

Dari Prasasti Purworejo diperoleh informasi tentang kegiatan perdagangan. Kegiatan di pasar ini tidak diadakan setiap hari, melainkan bergilir, berdasarkan pada hari pasaran menurut kalender Jawa Kuno. Pada hari Kliwon, pasar diadakan di pusat kota, pada hari Manis atau Legi, pasar diadakan di desa bagian timur.

Kemudian, pada hari Paking atau Pahing, pasar diadakan di desa sebelah selatan. Pada hari Pon, pasar diadakan di desa sebelah barat. Pada hari Wage, pasar diadakan di desa sebelah utara. Pada hari pasaran ini, desa-desa yang menjadi pusat perdagangan ramai didatangi oleh pembeli dan penjual dari desa-desa lain.

Mereka datang dengan berbagai cara, baik menggunakan transportasi darat, maupun menelusuri sungai-sungai. Mereka sambil membawa barang dagangan, seperti beras, buah-buahan, dan ternak, untuk dibarter atau ditukar dengan kebutuhan lain.
(shf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Polri Tetapkan 287 WNA...
Polri Tetapkan 287 WNA Tersangka Kasus Markas Judi Online Jalan Hayam Wuruk Jakarta
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
4 Kombes Digeser ke...
4 Kombes Digeser ke Polda Pulau Jawa pada Mutasi Polri Mei 2026
Kasus Dugaan Pemerasan...
Kasus Dugaan Pemerasan Izin Tinggal WNA, Dirjen Imigrasi Minta Buka Akses Seluas-luasnya untuk KPK
PLN Lakukan Pemadaman...
PLN Lakukan Pemadaman Bergilir di Pulau Jawa, Ini Penyebabnya
Geledah Ruangan Silmy...
Geledah Ruangan Silmy Karim, KPK Sita Uang Puluhan Juta
Rekomendasi
Kasus Penyekapan di...
Kasus Penyekapan di Bandung, Pakar IPB Jelaskan Coercive Control dan Dampaknya pada Korban
Meta Hadirkan Kembali...
Meta Hadirkan Kembali Facebook Creator Studio Berbasis AI
Ramalan Nyeleneh Dukun...
Ramalan Nyeleneh Dukun Ghana Viral: Argentina Tersingkir, Portugal Juara Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Lanjutan Sidang Praperadilan,...
Lanjutan Sidang Praperadilan, Roy Suryo Siapkan 3 Saksi dan 1 Ahli
Jelang Upacara HUT Ke-80...
Jelang Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara, Begini Situasi Satlat Brimob Cikeas
Ini Daftar Jalan di...
Ini Daftar Jalan di Jakarta yang Ditutup Sementara saat Presiden Belarus Melintas
Tak Hanya Andalkan Teknologi,...
Tak Hanya Andalkan Teknologi, KAI Bangun Loyalitas via Pelayanan Berkualitas
Program ParenTRING,...
Program ParenTRING, Pegadaian Kanwil IX Jakarta 2 Gelar Khitanan Massal
Komut Pertamina Kunjungan...
Komut Pertamina Kunjungan Kerja ke Jatim hingga Nusa Tenggara, Ini Hasilnya
Infografis
Asal Usul Gaza Palestina,...
Asal Usul Gaza Palestina, Kota Penting Sejak Zaman Romawi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved