Doktor UI Kembangkan Model Edukasi K3 Turunkan Angka Kecelakaan dan Penyakit Pekerja Sawit
Jum'at, 11 Juli 2025 - 13:17 WIB
loading...
A
A
A
%20Universitas%20Indonesia%20(UI)%2C%20Depok%20(Oke2).jpg)
Foto/Ist
PenelitianYusef Dwi Jayadi berangkat dari kondisi keselamatan kerja di sektor perkebunan kelapa sawit.
“Pada tahun 2023, sektor perkebunan kelapa sawit tercatat sebagai sektor dengan angka kecelakaan kerja tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 60,5 persen, dengan ten peningkatan tahunan sebesar 18 hingga 20 persen. Dua faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kecelakaan dan penyakit kerja di sektor ini adalah belum optimalnya penyelenggaraan Sistem Manajemen K3 di Perusahaan serta rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran para pekerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Untuk menjawab permasalahan ini, Yusef merancang sebuah model edukasi K3 dengan intervensi yang terstruktur melalui penyusunan Modul Edukasi K3 dan pembentukan Kader Sawit.” ujar Yusef kepada wartawan, Jumat (11/7/2025).
“Modul Edukasi K3 merupakan panduan pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk memberikan informasi mengenai penerapan K3, termasuk risiko dan kondisi kerja di sektor perkebunan kelapa sawit,” sambungnya.
Selain itu Yusef juga membentuk Kader Sawit yang menjadi agen edukasi dalam menyampaikan berbagai informasi dan materi pembelajaran seputar keselamatan dan kesehatan kerja. Modul Edukasi K3 dan Kader Sawit ini merupakan sebuah kombinasi baru dalam Model Edukasi K3 yang dikembangkan Yusef untuk mengatasi lack of knowledge dari para pekerja sawit.
“Model ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi dan praktik keselamatan kerja pada pekerja di industri sawit. Model Edukasi K3 ini telah resmi didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Kementerian Hukum Republik Indonesia,” ujarnya.
Hasil penelitian Yusef Dwi Jayadi menunjukkan bahwa intervensi edukasi K3 yang dikembangkan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pekerja di sektor perkebunan.
Skor pengetahuan meningkat dari 38,68 menjadi 50,60; sikap dari 61,87 menjadi 68,13; dan perilaku dari 25,38 menjadi 30,53. Rata-rata peningkatan dalam kelompok intervensi tercatat 7,4 kali lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol.
Tak hanya itu, angka kecelakaan kerja berhasil ditekan secara drastis dari 66,7 persen menjadi hanya 10 persen, sementara kejadian penyakit kerja turn dari 43,3 persen menjadi 33,3 persen setelah intervensi dilakukan.
Lihat Juga :