Menengok Sejarah Perbankan di Museum Bank Indonesia, Koleksi Alat Tukar Masa Kerajaan hingga Era Digital
Senin, 23 Juni 2025 - 13:36 WIB
loading...
A
A
A
Diketahui, sejak 1 Juli 1953 menyusul diberlakukannya UU Pokok Bank Indonesia, secara resmi bangsa Indonesia memiliki bank sentral bernama Bank Indonesia. Pemerintah menunjuk BI sebagai bank sentral dan bank sirkulasi di Indonesia, sebagai semacam pembuka zaman baru di bidang keuangan.
Koleksi di sana lengkap, dirawat dengan baik. Teknologi digital memungkinkan pengunjung melihat secara lengkap bagaimana sejarah transaksi keuangan terjadi. Di mulai dari masa pra-sejarah lewat sistem barter hingga saat ini, transaksi bisa menggunakan digital, salah satunya lewat QRIS (Quick Response Indonesian Standard) yang dikembangkan BI.
Di museum ini juga memampang koin-koin era kerajaan di Nusantara, tak terkecuali pada masa Hindu-Buddha. Lebih modern lagi, menampilkan uang kertas resmi Indonesia kali pertama yakni Oeang Republik Indonesia (ORI). Uang yang beredar mulai tahun 1946 itu adalah alat pembayaran yang sah di Indonesia hingga berubah berbagai model sampai sekarang.
Di sana juga ditampilkan ORIDA alias Oeang Republik Indonesia Daerah, yang diproduksi pada masa revolusi, yakni tahun 1947-1950. Penerbitan uang daerah dilakukan untuk mengatasi kekurangan ORI yang beredar dan sebagai bentuk perlawanan terhadap beredarnya mata uang NICA.
Ketika itu, Belanda ingin kembali menginvasi Indonesia pasca-kemerdekaan, namun mendapat perlawanan besar dari berbagai daerah di Indonesia.
Koleksi menarik lain dari Museum BI adalah Ruang Emas Moneter. Di sana, dipajang replika emas batangan. Ditumpuk dan dipajang dalam kotak kaca besar. Kilau-kilaunya menyerupai emas asli.
Per batangnya beratnya mencapai 13,5 Kg. Pengunjung bisa mencoba mengangkat 1 batangnya di tempat yang sudah disediakan, dengan kedua tangan.
“Ini adalah replika, emas moneter, tentunya ada yang asli, tapi disimpan di suatu tempat,” kata guide Museum BI menjelaskan kepada pengunjung.
Di museum ini juga ada koleksi yang tak kalah menarik. Adalah saat terjadi Krisis Moneter tahun 1998. Di sana, dipajang beberapa artefak sisa kerusuhan yang terjadi. Di antaranya; dipajang mesin ATM yang penyok di sana-sini, rusak akibat kerusuhan yang terjadi. Sepeda motor bekas dibakar juga dipajang. Menggambarkan betapa chaosnya saat itu.
Koleksi di sana lengkap, dirawat dengan baik. Teknologi digital memungkinkan pengunjung melihat secara lengkap bagaimana sejarah transaksi keuangan terjadi. Di mulai dari masa pra-sejarah lewat sistem barter hingga saat ini, transaksi bisa menggunakan digital, salah satunya lewat QRIS (Quick Response Indonesian Standard) yang dikembangkan BI.
Di museum ini juga memampang koin-koin era kerajaan di Nusantara, tak terkecuali pada masa Hindu-Buddha. Lebih modern lagi, menampilkan uang kertas resmi Indonesia kali pertama yakni Oeang Republik Indonesia (ORI). Uang yang beredar mulai tahun 1946 itu adalah alat pembayaran yang sah di Indonesia hingga berubah berbagai model sampai sekarang.
Di sana juga ditampilkan ORIDA alias Oeang Republik Indonesia Daerah, yang diproduksi pada masa revolusi, yakni tahun 1947-1950. Penerbitan uang daerah dilakukan untuk mengatasi kekurangan ORI yang beredar dan sebagai bentuk perlawanan terhadap beredarnya mata uang NICA.
Ketika itu, Belanda ingin kembali menginvasi Indonesia pasca-kemerdekaan, namun mendapat perlawanan besar dari berbagai daerah di Indonesia.
Koleksi menarik lain dari Museum BI adalah Ruang Emas Moneter. Di sana, dipajang replika emas batangan. Ditumpuk dan dipajang dalam kotak kaca besar. Kilau-kilaunya menyerupai emas asli.
Per batangnya beratnya mencapai 13,5 Kg. Pengunjung bisa mencoba mengangkat 1 batangnya di tempat yang sudah disediakan, dengan kedua tangan.
“Ini adalah replika, emas moneter, tentunya ada yang asli, tapi disimpan di suatu tempat,” kata guide Museum BI menjelaskan kepada pengunjung.
Di museum ini juga ada koleksi yang tak kalah menarik. Adalah saat terjadi Krisis Moneter tahun 1998. Di sana, dipajang beberapa artefak sisa kerusuhan yang terjadi. Di antaranya; dipajang mesin ATM yang penyok di sana-sini, rusak akibat kerusuhan yang terjadi. Sepeda motor bekas dibakar juga dipajang. Menggambarkan betapa chaosnya saat itu.
Lihat Juga :