Kisah Mistis Bundaran Tugu Malang, Sengaja Ditanami Emas, Intan dan Permata untuk Persembahan
Senin, 09 Juni 2025 - 09:43 WIB
loading...
A
A
A
Dari sanalah akhirnya Belanda, membuat sebuah lapangan tepat di depan Balaikota Malang, selain sebagai tempat berkumpul masyarakat dan untuk mempercantik pemandangan.
Baca juga: Kisah Mistis Gunung Lawu yang Dikutuk oleh Prabu Brawijaya
Seiring berjalannya waktu, tepatnya usai Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, alun-alun bundar itu lantas dibangun Tugu Malang pada tahun 1946 dan diresmikan tepat setahun setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1946.
"Peresmian yang pertama kali tanggal 17 Agustus 1946 sebenarnya merupakan gambaran dari wujud kemenangan setelah satu tahun Indonesia diproklamasikan, makanya disebut tugu merdeka," ungkapnya.
Saat proses pembangunan tugu itulah konon sebuah benda-benda berharga sengaja ditanam di tengah-tengahnya sebagai penanda, atau istilah Jawa-nya tetenger layaknya prosesi pembangunan bangunan di masa Hindu-Buddha. Selain itu, benda-benda persembahan yang disimpan di dalam sebuah bangunan ini juga konon menghilangkan unsur-unsur negatif.
"Ketika masa klasik Hindu Buddha ketika mau membangun candi atau bangunan-bangunan besar gapura selalu ada tetenger dalam bentuk peripih. Peripih itu berbentuk kotak, isinya macam-macam, bentuknya kotak saya lihat fotonya. Isinya bisa diduga seperti halnya ritual zaman dahulu, isinya benda-benda yang dianggap mampu memberikan kekuatan nilai-nilai magis, termasuk bagaimana menghilangkan unsur-unsur negatif kepada bangunan itu sendiri," paparnya.
Dari benda-benda yang dimasukkan dan dijadikan persembahan yang ditanam, konon salah satunya merupakan perhiasan seperti emas, intan, dan permata. Barang-barang ini lantas ditanam di kedalaman dua meter di bawah permukaan tanah, sebelum akhirnya ditanam pondasi pembangunan Bundaran Tugu Malang.
Baca juga: Kisah Mistis Gunung Lawu yang Dikutuk oleh Prabu Brawijaya
Seiring berjalannya waktu, tepatnya usai Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, alun-alun bundar itu lantas dibangun Tugu Malang pada tahun 1946 dan diresmikan tepat setahun setelah proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1946.
"Peresmian yang pertama kali tanggal 17 Agustus 1946 sebenarnya merupakan gambaran dari wujud kemenangan setelah satu tahun Indonesia diproklamasikan, makanya disebut tugu merdeka," ungkapnya.
Saat proses pembangunan tugu itulah konon sebuah benda-benda berharga sengaja ditanam di tengah-tengahnya sebagai penanda, atau istilah Jawa-nya tetenger layaknya prosesi pembangunan bangunan di masa Hindu-Buddha. Selain itu, benda-benda persembahan yang disimpan di dalam sebuah bangunan ini juga konon menghilangkan unsur-unsur negatif.
"Ketika masa klasik Hindu Buddha ketika mau membangun candi atau bangunan-bangunan besar gapura selalu ada tetenger dalam bentuk peripih. Peripih itu berbentuk kotak, isinya macam-macam, bentuknya kotak saya lihat fotonya. Isinya bisa diduga seperti halnya ritual zaman dahulu, isinya benda-benda yang dianggap mampu memberikan kekuatan nilai-nilai magis, termasuk bagaimana menghilangkan unsur-unsur negatif kepada bangunan itu sendiri," paparnya.
Dari benda-benda yang dimasukkan dan dijadikan persembahan yang ditanam, konon salah satunya merupakan perhiasan seperti emas, intan, dan permata. Barang-barang ini lantas ditanam di kedalaman dua meter di bawah permukaan tanah, sebelum akhirnya ditanam pondasi pembangunan Bundaran Tugu Malang.
Lihat Juga :