Misteri Kerajaan Dharmasraya, Wangsa Mauli yang Ditaklukkan Majapahit usai Sumpah Palapa
Jum'at, 06 Juni 2025 - 08:24 WIB
loading...
Benda ini ditemukan nelayan di Sungai Batanghari, Kabupaten Dharmasraya di sekitar candi peninggalan Kerajaan Dharmasraya. Foto/Twitter Mantan Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan
A
A
A
Kerajaan Dharmasraya di wilayah Pulau Sumatera menjadi wilayah bawahan Majapahit. Kerajaan ini menjadi bagian wilayah yang ditaklukkan oleh Gajah Mada, usai pengucapan Sumpah Palapanya, ketika dilantik jadi mahapatih.
Dharmasraya adalah nama ibu kota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera. Nama ini muncul bersamaan dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendracola I (raja Chola dari Koromandel) pada 1025.
Kemunduran Kerajaan Sriwijaya akibat invasi Rajendracola I itu, telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncullah sebuah dinasti baru, yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra yang kemudian disebut dengan nama Wangsa Mauli di Kerajaan Dharmasraya.
Baca juga: Sumpah Palapa Berujung Petaka Pembunuhan Menteri Majapahit, Gajah Mada Menyesal?
Prasasti tertua yang pernah ditemukan nama raja Mauli adalah Prasasti Grahi tahun 1183 yang ada di selatan Thailand, dikutip dari buku "Sejarah Kerajaan Bawahan Majapahit di Luar Jawa dan Luar Negeri". Prasasti ini berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi ang bernama Mahasenapati Galanai, supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin.
Orang yang diberi tugas mengerjakan pembuatan arca tersebut adalah Mraten Sri Nano. Lalu, prasasti kedua yang usianya berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286.
Prasasti ini menyebut nama raja Swarnabhumi bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, yang dikisahkan telah mendapat kiriman hadiah Arca Amoghapasa dari Raja Kertanagara, Raja Singasari di Pulau Jawa. Arca dari Singasari kemudian ditaruh di Dharmasraya.
Pada naskah Kakawin Pararaton, Dharmasraya disebut sebagai ibu kota dari negeri Bhumi Malayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja bisa juga disebut sebagai raja Melayu. Hal ini barangkali karena wilayah kekuasaannya sudah mulai meluas bukan hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa.
Tribhuwanaraja ada yang menduga sebagai keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja kemungkinan bisa juga dianggap sebagai raja Melayu, meskipun Prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.
Dharmasraya adalah nama ibu kota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera. Nama ini muncul bersamaan dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendracola I (raja Chola dari Koromandel) pada 1025.
Kemunduran Kerajaan Sriwijaya akibat invasi Rajendracola I itu, telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncullah sebuah dinasti baru, yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra yang kemudian disebut dengan nama Wangsa Mauli di Kerajaan Dharmasraya.
Baca juga: Sumpah Palapa Berujung Petaka Pembunuhan Menteri Majapahit, Gajah Mada Menyesal?
Prasasti tertua yang pernah ditemukan nama raja Mauli adalah Prasasti Grahi tahun 1183 yang ada di selatan Thailand, dikutip dari buku "Sejarah Kerajaan Bawahan Majapahit di Luar Jawa dan Luar Negeri". Prasasti ini berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi ang bernama Mahasenapati Galanai, supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin.
Orang yang diberi tugas mengerjakan pembuatan arca tersebut adalah Mraten Sri Nano. Lalu, prasasti kedua yang usianya berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286.
Prasasti ini menyebut nama raja Swarnabhumi bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa, yang dikisahkan telah mendapat kiriman hadiah Arca Amoghapasa dari Raja Kertanagara, Raja Singasari di Pulau Jawa. Arca dari Singasari kemudian ditaruh di Dharmasraya.
Pada naskah Kakawin Pararaton, Dharmasraya disebut sebagai ibu kota dari negeri Bhumi Malayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja bisa juga disebut sebagai raja Melayu. Hal ini barangkali karena wilayah kekuasaannya sudah mulai meluas bukan hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa.
Tribhuwanaraja ada yang menduga sebagai keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja kemungkinan bisa juga dianggap sebagai raja Melayu, meskipun Prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.
(rca)
Lihat Juga :