31 Makam Keramat Palsu di Serang Dibongkar, Diduga untuk Ritual Pesugihan
Rabu, 04 Juni 2025 - 07:38 WIB
loading...
Warga di kawasan Desa Seuat, Petir, Serang, Banten membongkar 31 makam keramat palsu yang berada di tanah wakaf Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kamadean. Foto/Fariz Abdullah
A
A
A
SERANG - Warga di kawasan Desa Seuat, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang, Provinsi Banten ramai-ramai membongkar 31 makam palsu yang berada di tanah wakaf Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kamadean.
Puluhan makam yang sengaja dibuat layaknya keramat dengan memasang nisan para wali itu telah membuat resah masyarakat. Pasalnya, makam palsu itu digunakan oleh salah satu oknum masyarakat untuk ritual pesugihan.
Baca juga: Menguak Pesugihan di Gunung Berapi Pulau Jawa
Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko mengatakan dari keterangan warga diketahui bahwa memang di TPU tersebut terdapat makam salah satu tokoh masyarakat.
Namun, saat ini malah bermunculan makam-makam lainnya yang tidak diketahui asal-usulnya.
“Berdasarkan informasi, pada 2018 hanya ada satu makam yang dikeramatkan oleh warga setempat. Namun seiring waktu muncul 31 makam baru disekitar makam keramat yang tidak jelas asal-usulnya,"kata Condro dikutip, Rabu (4/6/2025).
Dari informasi masyarakat, kata Condro, makam-makam palsu tersebut dibangun oleh Suhada, warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang memiliki kerabat di Desa Seuat. Diduga Suhada membangun makam palsu untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat yang mencari pesugihan.
Baca juga: Mitos Gunung Kawi, Tempat Pesugihan dan Permukiman Pendeta Semasa Kerajaan Kediri
"Informasinya makam-makam palsu itu dibangun oleh Suhada untuk untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat yang mencari pesugihan,” kata Condro.
Makam yang diduga palsu dibangun dengan menggunakan bata hebel dan di batu nisan ditulisi nama para wali di antaranya, Syeh Antaboga, Pajajaran, Nyi Mas Ratu Gandasari, Prabu Tajimalela, Ratu Sunda Galuh, Nyai Sangketa dan lainnya.
“Selain membuat makam keramat palsu, Suhada juga membuat terowongan atau goa yang diduga untuk ritual pesugihan,” jelasnya.
Keresahan masyarakat terhadap Suhada tak hanya dipersoalan makam palsu saja yang dijadikan tempat pesugihan. Warga juga menyebut pria asal Karawang itu dianggap telah menyebarkan ajaran sesat.
“Warga juga menganggap Suhada menyebarkan ajaran sesat untuk tidak melaksanakan salat Jum’at dan puasa Ramadan,”terangnya.
Condro juga mengatakan sejauh ini pihaknya masih menyelidiki keberadaan Suhada. Untuk menjaga kondusifitas kamtibmas di Desa Seuat, pihaknya mengedepankan anggota Bhabinkamtibmas.
“Keberadaan Suhada masih kita selidiki dan saat ini lokasi pemakaman telah dipasang police line. Untuk menjaga kondusifitas kamtibmas, kami kedepankan petugas Bhabinkamtibmas,” tandasnya.
Puluhan makam yang sengaja dibuat layaknya keramat dengan memasang nisan para wali itu telah membuat resah masyarakat. Pasalnya, makam palsu itu digunakan oleh salah satu oknum masyarakat untuk ritual pesugihan.
Baca juga: Menguak Pesugihan di Gunung Berapi Pulau Jawa
Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko mengatakan dari keterangan warga diketahui bahwa memang di TPU tersebut terdapat makam salah satu tokoh masyarakat.
Namun, saat ini malah bermunculan makam-makam lainnya yang tidak diketahui asal-usulnya.
“Berdasarkan informasi, pada 2018 hanya ada satu makam yang dikeramatkan oleh warga setempat. Namun seiring waktu muncul 31 makam baru disekitar makam keramat yang tidak jelas asal-usulnya,"kata Condro dikutip, Rabu (4/6/2025).
Dari informasi masyarakat, kata Condro, makam-makam palsu tersebut dibangun oleh Suhada, warga Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang memiliki kerabat di Desa Seuat. Diduga Suhada membangun makam palsu untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat yang mencari pesugihan.
Baca juga: Mitos Gunung Kawi, Tempat Pesugihan dan Permukiman Pendeta Semasa Kerajaan Kediri
"Informasinya makam-makam palsu itu dibangun oleh Suhada untuk untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat yang mencari pesugihan,” kata Condro.
Makam yang diduga palsu dibangun dengan menggunakan bata hebel dan di batu nisan ditulisi nama para wali di antaranya, Syeh Antaboga, Pajajaran, Nyi Mas Ratu Gandasari, Prabu Tajimalela, Ratu Sunda Galuh, Nyai Sangketa dan lainnya.
“Selain membuat makam keramat palsu, Suhada juga membuat terowongan atau goa yang diduga untuk ritual pesugihan,” jelasnya.
Keresahan masyarakat terhadap Suhada tak hanya dipersoalan makam palsu saja yang dijadikan tempat pesugihan. Warga juga menyebut pria asal Karawang itu dianggap telah menyebarkan ajaran sesat.
“Warga juga menganggap Suhada menyebarkan ajaran sesat untuk tidak melaksanakan salat Jum’at dan puasa Ramadan,”terangnya.
Condro juga mengatakan sejauh ini pihaknya masih menyelidiki keberadaan Suhada. Untuk menjaga kondusifitas kamtibmas di Desa Seuat, pihaknya mengedepankan anggota Bhabinkamtibmas.
“Keberadaan Suhada masih kita selidiki dan saat ini lokasi pemakaman telah dipasang police line. Untuk menjaga kondusifitas kamtibmas, kami kedepankan petugas Bhabinkamtibmas,” tandasnya.
(shf)
Lihat Juga :