Sunan Kalijaga dan Kisah Penentuan Kiblat Masjid Agung Demak
Senin, 02 Juni 2025 - 07:06 WIB
loading...
A
A
A
Kontribusi Sunan Kalijaga dalam pembangunan Masjid Agung Demak tidak berhenti pada arah kiblat. Salah satu saka guru (tiang utama) masjid yang berada di sisi Timur Laut diyakini merupakan warisannya. Tiga saka guru lainnya dibuat oleh Sunan Bonang (Barat Laut), Sunan Gunung Jati (Barat Daya), dan Sunan Ampel (Tenggara).
Masjid Demak juga dikenal dengan atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga atau meru, yang dimaknai sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan. Di bagian teras masjid, berdiri delapan tiang tambahan yang disebut Saka Majapahit, sebagai bentuk transisi budaya dari era Hindu ke Islam.
Keunikan lain dari Sunan Kalijaga adalah gaya penampilannya. Berbeda dengan Wali Songo lain yang mengenakan jubah dan sorban, ia tampil dengan busana tradisional Jawa blangkon, beskap lurik, dan kain batik. Meski gaya berpakaiannya baru populer pada abad ke-19, hal itu dipandang sebagai bentuk adaptasi budaya dan simbol dakwah yang membumi.
Sebelum menjadi wali, Kalijaga dikenal sebagai Raden Mas Said, putra Adipati Tuban. Masa mudanya diwarnai kehidupan sebagai begal dengan nama Berandal Lokajaya. Perjalanannya berubah setelah bertemu Sunan Bonang dan bertobat, lalu berguru hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh sentral dalam dakwah Islam di Jawa.
Kini, Masjid Agung Demak tak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi situs sejarah yang merekam jejak spiritual dan budaya dari para wali penyebar Islam di Nusantara.
Masjid Demak juga dikenal dengan atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga atau meru, yang dimaknai sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan. Di bagian teras masjid, berdiri delapan tiang tambahan yang disebut Saka Majapahit, sebagai bentuk transisi budaya dari era Hindu ke Islam.
Keunikan lain dari Sunan Kalijaga adalah gaya penampilannya. Berbeda dengan Wali Songo lain yang mengenakan jubah dan sorban, ia tampil dengan busana tradisional Jawa blangkon, beskap lurik, dan kain batik. Meski gaya berpakaiannya baru populer pada abad ke-19, hal itu dipandang sebagai bentuk adaptasi budaya dan simbol dakwah yang membumi.
Sebelum menjadi wali, Kalijaga dikenal sebagai Raden Mas Said, putra Adipati Tuban. Masa mudanya diwarnai kehidupan sebagai begal dengan nama Berandal Lokajaya. Perjalanannya berubah setelah bertemu Sunan Bonang dan bertobat, lalu berguru hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh sentral dalam dakwah Islam di Jawa.
Kini, Masjid Agung Demak tak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi situs sejarah yang merekam jejak spiritual dan budaya dari para wali penyebar Islam di Nusantara.
(cip)
Lihat Juga :