Sunan Kalijaga dan Kisah Penentuan Kiblat Masjid Agung Demak
Senin, 02 Juni 2025 - 07:06 WIB
loading...
Masjid Agung Demak dibangun pada masa Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah. Foto/SindoNews
A
A
A
MADURA - Pembangunan Masjid Agung Demak pada masa Kesultanan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah menyimpan beragam cerita historis dan spiritual. Salah satu kisah paling legendaris adalah polemik penentuan arah kiblat, yang akhirnya diselesaikan oleh salah satu tokoh sentral Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga.
Masjid Agung Demak yang dibangun sebagai pusat ibadah dan musyawarah para wali di Tanah Jawa sempat menghadapi perdebatan serius. Arah kiblat menjadi bahan diskusi panjang. Setiap wali memiliki pandangan masing-masing mengenai arah yang tepat menghadap Ka’bah.
Namun di tengah perbedaan itu, Sunan Kalijaga tetap tenang. Dikutip SindoNews, Senin (2/6/2025) dari buku Wali Berandal Tanah Jawa (2019), hanya Sunan Kalijaga yang tidak ikut berdebat. Ia kemudian memecahkan persoalan arah kiblat tanpa kekerasan argumen, tetapi melalui cara yang khas kewalian.
Baca juga: Kisah Raden Patah Taklukkan Kerajaan Majapahit Tanpa Merusak Bangunan
Usai mengambil air wudhu dan menunaikan salat malam, Sunan Kalijaga berdiri di sisi utara masjid. Ia mengangkat tangan kanan mengarah ke Ka’bah, sementara tangan kirinya menunjuk ke puncak atap Masjid Demak. Dalam tafsir spiritual para pengikutnya, saat Kalijaga memusatkan cipta dan doanya, tampak Ka’bah menjulang seolah berada tepat di atas masjid.
Peristiwa ini disebut sebagai bentuk karomah. Sunan Bonang dan wali lainnya dikisahkan menyaksikan kejadian itu secara langsung, sebagaimana tercatat dalam sejumlah kronik Jawa dan Babad Tanah Jawi. “Mereka datang dan melihat sekarang kiblatnya sudah benar. Mereka semua sangat lega,” tulis naskah tersebut.
Baca juga: Masa Kelam Ibu Kota Kerajaan Majapahit Setelah Dikalahkan Demak
Kontribusi Sunan Kalijaga dalam pembangunan Masjid Agung Demak tidak berhenti pada arah kiblat. Salah satu saka guru (tiang utama) masjid yang berada di sisi Timur Laut diyakini merupakan warisannya. Tiga saka guru lainnya dibuat oleh Sunan Bonang (Barat Laut), Sunan Gunung Jati (Barat Daya), dan Sunan Ampel (Tenggara).
Masjid Demak juga dikenal dengan atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga atau meru, yang dimaknai sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan. Di bagian teras masjid, berdiri delapan tiang tambahan yang disebut Saka Majapahit, sebagai bentuk transisi budaya dari era Hindu ke Islam.
Keunikan lain dari Sunan Kalijaga adalah gaya penampilannya. Berbeda dengan Wali Songo lain yang mengenakan jubah dan sorban, ia tampil dengan busana tradisional Jawa blangkon, beskap lurik, dan kain batik. Meski gaya berpakaiannya baru populer pada abad ke-19, hal itu dipandang sebagai bentuk adaptasi budaya dan simbol dakwah yang membumi.
Sebelum menjadi wali, Kalijaga dikenal sebagai Raden Mas Said, putra Adipati Tuban. Masa mudanya diwarnai kehidupan sebagai begal dengan nama Berandal Lokajaya. Perjalanannya berubah setelah bertemu Sunan Bonang dan bertobat, lalu berguru hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh sentral dalam dakwah Islam di Jawa.
Kini, Masjid Agung Demak tak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi situs sejarah yang merekam jejak spiritual dan budaya dari para wali penyebar Islam di Nusantara.
Masjid Agung Demak yang dibangun sebagai pusat ibadah dan musyawarah para wali di Tanah Jawa sempat menghadapi perdebatan serius. Arah kiblat menjadi bahan diskusi panjang. Setiap wali memiliki pandangan masing-masing mengenai arah yang tepat menghadap Ka’bah.
Namun di tengah perbedaan itu, Sunan Kalijaga tetap tenang. Dikutip SindoNews, Senin (2/6/2025) dari buku Wali Berandal Tanah Jawa (2019), hanya Sunan Kalijaga yang tidak ikut berdebat. Ia kemudian memecahkan persoalan arah kiblat tanpa kekerasan argumen, tetapi melalui cara yang khas kewalian.
Baca juga: Kisah Raden Patah Taklukkan Kerajaan Majapahit Tanpa Merusak Bangunan
Usai mengambil air wudhu dan menunaikan salat malam, Sunan Kalijaga berdiri di sisi utara masjid. Ia mengangkat tangan kanan mengarah ke Ka’bah, sementara tangan kirinya menunjuk ke puncak atap Masjid Demak. Dalam tafsir spiritual para pengikutnya, saat Kalijaga memusatkan cipta dan doanya, tampak Ka’bah menjulang seolah berada tepat di atas masjid.
Peristiwa ini disebut sebagai bentuk karomah. Sunan Bonang dan wali lainnya dikisahkan menyaksikan kejadian itu secara langsung, sebagaimana tercatat dalam sejumlah kronik Jawa dan Babad Tanah Jawi. “Mereka datang dan melihat sekarang kiblatnya sudah benar. Mereka semua sangat lega,” tulis naskah tersebut.
Baca juga: Masa Kelam Ibu Kota Kerajaan Majapahit Setelah Dikalahkan Demak
Kontribusi Sunan Kalijaga dalam pembangunan Masjid Agung Demak tidak berhenti pada arah kiblat. Salah satu saka guru (tiang utama) masjid yang berada di sisi Timur Laut diyakini merupakan warisannya. Tiga saka guru lainnya dibuat oleh Sunan Bonang (Barat Laut), Sunan Gunung Jati (Barat Daya), dan Sunan Ampel (Tenggara).
Masjid Demak juga dikenal dengan atapnya yang berbentuk limas bersusun tiga atau meru, yang dimaknai sebagai simbol Iman, Islam, dan Ihsan. Di bagian teras masjid, berdiri delapan tiang tambahan yang disebut Saka Majapahit, sebagai bentuk transisi budaya dari era Hindu ke Islam.
Keunikan lain dari Sunan Kalijaga adalah gaya penampilannya. Berbeda dengan Wali Songo lain yang mengenakan jubah dan sorban, ia tampil dengan busana tradisional Jawa blangkon, beskap lurik, dan kain batik. Meski gaya berpakaiannya baru populer pada abad ke-19, hal itu dipandang sebagai bentuk adaptasi budaya dan simbol dakwah yang membumi.
Sebelum menjadi wali, Kalijaga dikenal sebagai Raden Mas Said, putra Adipati Tuban. Masa mudanya diwarnai kehidupan sebagai begal dengan nama Berandal Lokajaya. Perjalanannya berubah setelah bertemu Sunan Bonang dan bertobat, lalu berguru hingga akhirnya menjadi salah satu tokoh sentral dalam dakwah Islam di Jawa.
Kini, Masjid Agung Demak tak hanya berdiri sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi situs sejarah yang merekam jejak spiritual dan budaya dari para wali penyebar Islam di Nusantara.
(cip)
Lihat Juga :