Gejolak Internal Majapahit di Tengah Kestabilan Politik Kerajaan Lamajang
Sabtu, 31 Mei 2025 - 06:39 WIB
loading...
Kemajuan Kerajaan Majapahit tak diimbangi dengan kondisi internal kerajaan yang mengalami gejolak. Ditambah konflik dengan sisi timur pemerintahan Lamajang membuat tersendatnya pembangunan Majapahit di masa lampau. Foto: Ist
A
A
A
KEMAJUAN Kerajaan Majapahit tak diimbangi dengan kondisi internal kerajaan yang mengalami gejolak. Ditambah konflik dengan sisi timur pemerintahan Lamajang membuat tersendatnya pembangunan Majapahit di masa lampau.
Meski berkonflik, penguasa Lamajang Tigang Juru Arya Wiraraja lebih memfokuskan diri untuk membangun Lamajang Tigang Juru dengan membuat perbentengan kokoh di ibu kotanya yaitu Arnon.
Baca juga: Kisah Perseteruan Majapahit Timur dan Majapahit Barat Dipicu Stempel dari Kaisar China
Kestabilan politik inilah yang membuat Kerajaan Lamajang Tigang Juru mampu membangun daerahnya baik yang bersifat kemiliteran dengan membangun keraton beserta benteng pertahanannya di ibu kota Arnon.
Saat ini, benteng tersebut masih bisa disaksikan di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, dan Pajarakan di Randu Agung maupun pusat-pusat perdagangan ekonomi misalnya di Sadeng yang ada di tepi Sungai Bondoyudo (Desa Blukon Sadeng), serta pelabuhan besarnya di sekitar Puger yang masuk wilayah Kabupaten Jember.
Dikutip dari "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit", kompleks percandian seperti di Nangka, tempat kelahiran sang raja merupakan jejak historis yang nyata.
Kemajuan Lamajang Tigang Juru ditambah kedekatan politik dengan Wangsa Rajasa, terutama dengan Rajapatni dan Tribhuwana Tunggadewi menimbulkan adanya perasaan dan hubungan kurang harmonis antara Lamajang Tigang Juru dengan Majapahit yang dikuasai Wangsa Sinelir yaitu Raja Jayanagara dan Mahapati.
Semua ini bagaikan api dalam sekam yang mana di antara kedua belah pihak saling melihat waktu yang tepat untuk saling mengalahkan. Di samping itu, faktor Arya Wiraraja sebagai penguasa Lamajang Tigang Juru merupakan tokoh tua dan sangat disegani membuat posisi Lamajang Tigang Juru tidak tersentuh.
Sri Jayanagara dan Mahapati harus memperhitungkan kecerdikan Arya Wiraraja dengan pasukan Maduranya yang telah terbukti menghancurkan kekuatan Jayakatwang di Kediri dan tentara Mongol yang merupakan penguasa dunia.
Karena itu, selama masih ada Arya Wiraraja, pertentangan terbuka antara Majapahit dan Lamajang sebaiknya dihindari.
Meski berkonflik, penguasa Lamajang Tigang Juru Arya Wiraraja lebih memfokuskan diri untuk membangun Lamajang Tigang Juru dengan membuat perbentengan kokoh di ibu kotanya yaitu Arnon.
Baca juga: Kisah Perseteruan Majapahit Timur dan Majapahit Barat Dipicu Stempel dari Kaisar China
Kestabilan politik inilah yang membuat Kerajaan Lamajang Tigang Juru mampu membangun daerahnya baik yang bersifat kemiliteran dengan membangun keraton beserta benteng pertahanannya di ibu kota Arnon.
Saat ini, benteng tersebut masih bisa disaksikan di Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, dan Pajarakan di Randu Agung maupun pusat-pusat perdagangan ekonomi misalnya di Sadeng yang ada di tepi Sungai Bondoyudo (Desa Blukon Sadeng), serta pelabuhan besarnya di sekitar Puger yang masuk wilayah Kabupaten Jember.
Dikutip dari "Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru : Menafsir Ulang Sejarah Majapahit", kompleks percandian seperti di Nangka, tempat kelahiran sang raja merupakan jejak historis yang nyata.
Kemajuan Lamajang Tigang Juru ditambah kedekatan politik dengan Wangsa Rajasa, terutama dengan Rajapatni dan Tribhuwana Tunggadewi menimbulkan adanya perasaan dan hubungan kurang harmonis antara Lamajang Tigang Juru dengan Majapahit yang dikuasai Wangsa Sinelir yaitu Raja Jayanagara dan Mahapati.
Semua ini bagaikan api dalam sekam yang mana di antara kedua belah pihak saling melihat waktu yang tepat untuk saling mengalahkan. Di samping itu, faktor Arya Wiraraja sebagai penguasa Lamajang Tigang Juru merupakan tokoh tua dan sangat disegani membuat posisi Lamajang Tigang Juru tidak tersentuh.
Sri Jayanagara dan Mahapati harus memperhitungkan kecerdikan Arya Wiraraja dengan pasukan Maduranya yang telah terbukti menghancurkan kekuatan Jayakatwang di Kediri dan tentara Mongol yang merupakan penguasa dunia.
Karena itu, selama masih ada Arya Wiraraja, pertentangan terbuka antara Majapahit dan Lamajang sebaiknya dihindari.
(jon)
Lihat Juga :