Heroik! Pasukan Selempang Merah di Jambi Bantu TNI Pukul Mundur Penjajah Belanda
Sabtu, 24 Mei 2025 - 01:05 WIB
loading...
A
A
A
Menyaksikan kekejaman Belanda, para tokoh Selempang Merah segera merancang serangan balasan. Pada 22 Januari 1949, Panglima Adul menemui KH M Daud Arief untuk berkoordinasi.
Esok harinya, pasukan yang dipimpin langsung oleh Abdul Samad atau lebih dikenal Panglima Adul melancarkan serangan pertama.
Dengan hanya berjumlah 24 orang dan bersenjatakan perlengkapan seadanya, mereka berhasil membuat Belanda kewalahan. Ciri khas pita merah yang dikenakan di selempang menjadi identitas pasukan pemberani ini.
Perlawanan semakin sengit ketika TNI turut bergabung. Pada 28 Januari 1949, Letda A Fatah L memimpin pasukan dari Desa Pembengis untuk memperkuat barisan. Kolaborasi antara TNI dan Selempang Merah mencapai puncaknya pada 13 Februari 1949 ketika 115 pejuang gabungan menyerang Belanda.
Meski hanya bersenjatakan parang dan badik, semangat juang mereka tak terbendung. Pasukan dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing dipimpin Abdul Samad, H Saman, H Nafiah, dan Zaidun.
Tragedi menyayat hati terjadi di tengah lautan ketika sebelas perahu pengangkut pasukan bertemu armada Belanda. Panglima Adul yang berusaha menaiki kapal musuh tewas tertembak. Gugurnya sang panglima tidak menyurutkan semangat pasukan.
Esok harinya, pasukan yang dipimpin langsung oleh Abdul Samad atau lebih dikenal Panglima Adul melancarkan serangan pertama.
Dengan hanya berjumlah 24 orang dan bersenjatakan perlengkapan seadanya, mereka berhasil membuat Belanda kewalahan. Ciri khas pita merah yang dikenakan di selempang menjadi identitas pasukan pemberani ini.
Perlawanan semakin sengit ketika TNI turut bergabung. Pada 28 Januari 1949, Letda A Fatah L memimpin pasukan dari Desa Pembengis untuk memperkuat barisan. Kolaborasi antara TNI dan Selempang Merah mencapai puncaknya pada 13 Februari 1949 ketika 115 pejuang gabungan menyerang Belanda.
Meski hanya bersenjatakan parang dan badik, semangat juang mereka tak terbendung. Pasukan dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing dipimpin Abdul Samad, H Saman, H Nafiah, dan Zaidun.
Tragedi menyayat hati terjadi di tengah lautan ketika sebelas perahu pengangkut pasukan bertemu armada Belanda. Panglima Adul yang berusaha menaiki kapal musuh tewas tertembak. Gugurnya sang panglima tidak menyurutkan semangat pasukan.
Lihat Juga :