Misi Rahasia Sultan Amangkurat I, Kirim Pasukan Intelijen Laut Jelang Serbu Banten!
Jum'at, 23 Mei 2025 - 06:27 WIB
loading...
Raja Mataram Sultan Amangkurat I menyiapkan strategi militer dan mengerahkan pasukan intelijen laut untuk mengintai secara rahasia ke wilayah Banten. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan antara Kesultanan Mataram dan Kesultanan Banten memuncak di pertengahan abad ke-17. Dalam menghadapi potensi konflik besar, Sultan Amangkurat I tak tinggal diam. Sang Raja Mataram ini menyiapkan strategi militer secara matang, dimulai dari pengerahan pasukan intelijen laut untuk melakukan pengintaian secara rahasia ke wilayah Banten.
Langkah awal yang diambil Amangkurat I adalah mengirim mata-mata dan agen intelijen ke wilayah Banten. Misi ini dijalankan layaknya operasi penangkapan pelaku kriminal.
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Lucky Avianto, Ahli Perang Hutan yang Sukses Sikat Belasan OPM
Tugas penting ini diserahkan kepada Tumenggung Pati, sosok yang dipercaya untuk merintis serangan tanpa mengundang kecurigaan.
Meskipun Sultan tidak terjun langsung, ia memimpin dari kejauhan dan memberi instruksi tegas kepada Lurah Patra di Juwana.
Perintahnya jelas, berlayar ke arah barat, menyisir pesisir pantai, dan usir semua orang Banten. Bila ada perlawanan, mereka diperintahkan untuk membunuh atau memotong hidung dan telinga musuh, kemudian mengirimkannya sebagai bukti ke Mataram.
Mengutip H.J. De Graaf dalam bukunya Disintegrasi Mataram: Dibawah Mangkurat I, operasi ini meluas ke sepanjang pantai utara Jawa hingga mencapai wilayah Karawang.
Baca juga: Kisah Asmara Jenderal Andika Perkasa dengan Putri Legenda Intelijen Kopassus
Di sinilah tahap kedua operasi dimulai. Sultan Mataram memerintahkan empat penguasa pantai untuk menyelidiki keberadaan kapal Banten di sekitar Sungai Craoan.
Dengan masing-masing membawa enam kapal bersenjata lengkap, mereka diberi mandat untuk mengusir kapal Banten bila ditemukan.
Namun, karena lokasi operasi dekat wilayah yang diawasi VOC (Kompeni Belanda), izin resmi pun diminta lebih dulu agar tidak terjadi konflik.
Sebanyak 70 kapal layar disiapkan di Jepara, masing-masing dilengkapi 40–50 awak bersenjata, dan dipimpin oleh tiga tokoh militer utama.
Pada 13 Oktober 1657, gabungan armada Juwana dan Jepara bergerak serempak untuk membersihkan jalur pelayaran menuju Banten. Total sekitar 50 kapal tempur utama dikerahkan, didukung oleh unit-unit tambahan dari Tegal, Pati, dan Semarang.
Setiap kapal membawa 40–60 awak, bersenjata senapan, tombak, serta alat perang lain seperti prinsentukjes dan bassen.
Tak hanya pasukan, sebagian kapal difungsikan sebagai pengangkut 1.000 ekor kuda, menandakan kesiapan untuk serangan darat besar-besaran.
Persiapan besar-besaran Kesultanan Mataram menunjukkan betapa seriusnya Sultan Amangkurat I menghadapi ancaman dari Banten. Dari pengerahan intelijen laut, penyisiran pantai, hingga mobilisasi armada dan logistik perang, semua dilakukan untuk satu tujuan: menggempur Banten dan mempertahankan hegemoni Mataram di Jawa.
Langkah ini menjadi bagian penting dari sejarah konflik Nusantara, yang menggambarkan dinamika kekuasaan, taktik militer, dan peran intelijen di era kerajaan-kerajaan besar Indonesia.
Langkah awal yang diambil Amangkurat I adalah mengirim mata-mata dan agen intelijen ke wilayah Banten. Misi ini dijalankan layaknya operasi penangkapan pelaku kriminal.
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Lucky Avianto, Ahli Perang Hutan yang Sukses Sikat Belasan OPM
Tugas penting ini diserahkan kepada Tumenggung Pati, sosok yang dipercaya untuk merintis serangan tanpa mengundang kecurigaan.
Meskipun Sultan tidak terjun langsung, ia memimpin dari kejauhan dan memberi instruksi tegas kepada Lurah Patra di Juwana.
Perintahnya jelas, berlayar ke arah barat, menyisir pesisir pantai, dan usir semua orang Banten. Bila ada perlawanan, mereka diperintahkan untuk membunuh atau memotong hidung dan telinga musuh, kemudian mengirimkannya sebagai bukti ke Mataram.
Pembersihan Wilayah Pesisir Menuju Karawang
Mengutip H.J. De Graaf dalam bukunya Disintegrasi Mataram: Dibawah Mangkurat I, operasi ini meluas ke sepanjang pantai utara Jawa hingga mencapai wilayah Karawang.
Baca juga: Kisah Asmara Jenderal Andika Perkasa dengan Putri Legenda Intelijen Kopassus
Di sinilah tahap kedua operasi dimulai. Sultan Mataram memerintahkan empat penguasa pantai untuk menyelidiki keberadaan kapal Banten di sekitar Sungai Craoan.
Dengan masing-masing membawa enam kapal bersenjata lengkap, mereka diberi mandat untuk mengusir kapal Banten bila ditemukan.
Namun, karena lokasi operasi dekat wilayah yang diawasi VOC (Kompeni Belanda), izin resmi pun diminta lebih dulu agar tidak terjadi konflik.
Armada Laut Mataram Siap Bergerak
Sebagai bagian dari persiapan besar menuju perang, armada laut Mataram mulai dikonsolidasikan. Pelabuhan Juwana dan Jepara menjadi pusat logistik dan armada.Sebanyak 70 kapal layar disiapkan di Jepara, masing-masing dilengkapi 40–50 awak bersenjata, dan dipimpin oleh tiga tokoh militer utama.
Pada 13 Oktober 1657, gabungan armada Juwana dan Jepara bergerak serempak untuk membersihkan jalur pelayaran menuju Banten. Total sekitar 50 kapal tempur utama dikerahkan, didukung oleh unit-unit tambahan dari Tegal, Pati, dan Semarang.
Setiap kapal membawa 40–60 awak, bersenjata senapan, tombak, serta alat perang lain seperti prinsentukjes dan bassen.
Tak hanya pasukan, sebagian kapal difungsikan sebagai pengangkut 1.000 ekor kuda, menandakan kesiapan untuk serangan darat besar-besaran.
Pimpinan Operasi Abadsara dan Wangsamarta
Panglima dalam operasi ini adalah tokoh-tokoh penting seperti Kentol-Kentol Abadsara (atau Ampatsara)- saudara Ngabei Martanata, serta Wangsamarta, yang memimpin dengan strategi militer tingkat tinggi.Persiapan besar-besaran Kesultanan Mataram menunjukkan betapa seriusnya Sultan Amangkurat I menghadapi ancaman dari Banten. Dari pengerahan intelijen laut, penyisiran pantai, hingga mobilisasi armada dan logistik perang, semua dilakukan untuk satu tujuan: menggempur Banten dan mempertahankan hegemoni Mataram di Jawa.
Langkah ini menjadi bagian penting dari sejarah konflik Nusantara, yang menggambarkan dinamika kekuasaan, taktik militer, dan peran intelijen di era kerajaan-kerajaan besar Indonesia.
(shf)
Lihat Juga :