Kalah Perang Melawan Kesultanan Banten Berujung Pembantaian Pasukan Cirebon Sehari Jelang Idulfitri
Rabu, 21 Mei 2025 - 07:46 WIB
loading...
Hubungan antara Kesultanan Banten dan Cirebon memanas saat bulan Ramadan. Foto/SindoNews
A
A
A
SEMARANG - Hubungan antara Kesultanan Banten dan Cirebon memanas saat bulan Ramadan. Bahkan pertempuran antara kedua kerajaan Islam di Pulau Jawa itu justru pecah sehari sebelum Hari Raya Idulfitri, atau di hari 30 bulan Ramadan.
Saat itu Kesultanan Cirebon masuk wilayah yang dikuasai Kerajaan Mataram. Ia lantas membujuk Sultan Banten agar mau mengakui Mataram dan menghadap ke rajanya. Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Kesultanan Banten.
Alasannya Sultan Banten tidak mau mengakui raja mana pun di atasnya selain Sultan Mekkah, yang sering mengirimkan surat kepadanya berisi pelajaran-pelajaran hikmah. Alhasil di Banten mengobarkan semangat untuk perang ke Cirebon, yang menjadi kekuasaan Kesultanan Mataram.
Para pasukan bersiap menghadapi prajurit Cirebon sekali pun dalam jumlah yang sedikit. Benar saja, terjadi pergerakan 60 kapal layar tampak menuju Pelabuhan Tanara. Senapati atau pemimpinnya adalah Ngabei Panjangjiwa yang menyertainya adalah Pangeran Martasari, sebagaimana dikisahkan pada "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I" dari H.J. De Graaf dikutip SindoNews, Rabu (21/5/2025).
Baca juga: Konflik Kerajaan Banten dengan Mataram Membuat Kesultanan Cirebon Terpecah Tiga
Sebaliknya, pihak Banten mengirimkan sebuah armada yang terdiri atas 50 kapal di bawah pimpinan Lurah Astrasusila, Demang Narapaksa, dan Demang Wirapaksa. Banyak punggawa lainnya juga turut serta. Sultan berjanji akan memberi hadiah 2.000 Rial, dan sehelai kampuh (kain kebesaran) apabila tercapai kemenangan.
Setiba di Tanara, Astrasusila menunggu sambil bersembunyi di Tanjung Gede, kedua pemimpin lainnya di Muara Pasiliyan. Pada pagi hari orang Cirebon berdayung memasuki pelabuhan Tanara. Ngabei Panjangjiwa membuang senjatanya dan menyerah kepada Demang Wirapaksa.
Baca juga: Kisah Tumenggung Pati Pembisik Sultan Amangkurat I Meredam Konflik Kesultanan Mataram dengan Banten
Ia dikirim kepada Sultan, yang mengampuninya. Ketika orang Cirebon lainnya melihat senjata-senjata sedang terapung, belum mengerti mereka bahwa Panjangjiwa tanpa sedikit perlawanan pun telah menyerah. Mereka diserang secara tiba - tiba oleh Astrasusila dan dua orang demang.
Pasukan Cirebon pun kalah. Hanya satu kapal yang selamat, di bawah pimpinan Martasar, sedangkan 50 kapal dapat dirampas. Para awak kapal tidak melawan, dibelenggu, dan diturunkan di padang Sumur Angsana. Di sana mereka semua dibunuh, sekalipun mereka minta ampun. Kepala dari jasad yang sudah meninggal mereka dikirim ke Surasowan (Banten).
Peristiwa tragis ini terjadi pada hari ketiga puluh bulan Ramadan. Pada hari Lebaran para prajurit kembali ke Banten. Bulan Ramadan tanggal 30 ini jatuh pada 22 Desember 1650, dimana hari Lebaran Idulfitri jatuh pada hari berikutnya.
Saat itu Kesultanan Cirebon masuk wilayah yang dikuasai Kerajaan Mataram. Ia lantas membujuk Sultan Banten agar mau mengakui Mataram dan menghadap ke rajanya. Tetapi ajakan itu ditolak mentah-mentah oleh Kesultanan Banten.
Alasannya Sultan Banten tidak mau mengakui raja mana pun di atasnya selain Sultan Mekkah, yang sering mengirimkan surat kepadanya berisi pelajaran-pelajaran hikmah. Alhasil di Banten mengobarkan semangat untuk perang ke Cirebon, yang menjadi kekuasaan Kesultanan Mataram.
Para pasukan bersiap menghadapi prajurit Cirebon sekali pun dalam jumlah yang sedikit. Benar saja, terjadi pergerakan 60 kapal layar tampak menuju Pelabuhan Tanara. Senapati atau pemimpinnya adalah Ngabei Panjangjiwa yang menyertainya adalah Pangeran Martasari, sebagaimana dikisahkan pada "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I" dari H.J. De Graaf dikutip SindoNews, Rabu (21/5/2025).
Baca juga: Konflik Kerajaan Banten dengan Mataram Membuat Kesultanan Cirebon Terpecah Tiga
Sebaliknya, pihak Banten mengirimkan sebuah armada yang terdiri atas 50 kapal di bawah pimpinan Lurah Astrasusila, Demang Narapaksa, dan Demang Wirapaksa. Banyak punggawa lainnya juga turut serta. Sultan berjanji akan memberi hadiah 2.000 Rial, dan sehelai kampuh (kain kebesaran) apabila tercapai kemenangan.
Setiba di Tanara, Astrasusila menunggu sambil bersembunyi di Tanjung Gede, kedua pemimpin lainnya di Muara Pasiliyan. Pada pagi hari orang Cirebon berdayung memasuki pelabuhan Tanara. Ngabei Panjangjiwa membuang senjatanya dan menyerah kepada Demang Wirapaksa.
Baca juga: Kisah Tumenggung Pati Pembisik Sultan Amangkurat I Meredam Konflik Kesultanan Mataram dengan Banten
Ia dikirim kepada Sultan, yang mengampuninya. Ketika orang Cirebon lainnya melihat senjata-senjata sedang terapung, belum mengerti mereka bahwa Panjangjiwa tanpa sedikit perlawanan pun telah menyerah. Mereka diserang secara tiba - tiba oleh Astrasusila dan dua orang demang.
Pasukan Cirebon pun kalah. Hanya satu kapal yang selamat, di bawah pimpinan Martasar, sedangkan 50 kapal dapat dirampas. Para awak kapal tidak melawan, dibelenggu, dan diturunkan di padang Sumur Angsana. Di sana mereka semua dibunuh, sekalipun mereka minta ampun. Kepala dari jasad yang sudah meninggal mereka dikirim ke Surasowan (Banten).
Peristiwa tragis ini terjadi pada hari ketiga puluh bulan Ramadan. Pada hari Lebaran para prajurit kembali ke Banten. Bulan Ramadan tanggal 30 ini jatuh pada 22 Desember 1650, dimana hari Lebaran Idulfitri jatuh pada hari berikutnya.
(cip)
Lihat Juga :