Misteri Nisan Abad 15 Penyebar Pertama Agama Islam di Malang Raya
Selasa, 01 April 2025 - 08:25 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, makam diduga penyebar Islam pertama di wilayah Malang Raya itu terlihat dari karya ilmiah disertasi Moehamad Habib Mustopo yang tersimpan di perpustakaan UM. Dari kajian keilmuan diduga kuat seseorang yang dimakamkan di sana merupakan satu zaman dengan Wali Songo.
"Itu yang masih sezaman dengan Wali Songo di Ngantang. Periode awal cuma nisan satu saja. Itu makam tertua abad 15, tapi belum ada komunitasnya (warga)," ucapnya.
Makam itu memang identik dengan seseorang beragama Islam. Sebab, saat itu pengaruh Hindu Buddha masih kuat. Kedua agama itu tidak mengenal manusia yang meninggal dikebumikan atau dikuburkan.
Maka, asumsi berdasarkan catatan sejarah yang ada, makam sepanjang 2,19 meter dengan tinggi nisan 0,79 meter, lebar atas 0,44 meter, lebar bawah 0,40 meter, dan ketebalan nisan 0,20 meter, identik dengan makam seseorang.
"Pada nisan ini terdapat angka tahun 1371 Saka atau 1449 M lalu berhuruf Jawa Kuno serta hiasan segi tiga sama kaki berjumlah 10 buah. Tinggi ragam hias tumpal 0,44 meter dan lebar 0,9 meter. Angka huruf Jawa kuno dipahat dengan gaya timbul (relief)," ujar akademisi yang juga dosen Sejarah UM ini.
"Itu yang masih sezaman dengan Wali Songo di Ngantang. Periode awal cuma nisan satu saja. Itu makam tertua abad 15, tapi belum ada komunitasnya (warga)," ucapnya.
Makam itu memang identik dengan seseorang beragama Islam. Sebab, saat itu pengaruh Hindu Buddha masih kuat. Kedua agama itu tidak mengenal manusia yang meninggal dikebumikan atau dikuburkan.
Maka, asumsi berdasarkan catatan sejarah yang ada, makam sepanjang 2,19 meter dengan tinggi nisan 0,79 meter, lebar atas 0,44 meter, lebar bawah 0,40 meter, dan ketebalan nisan 0,20 meter, identik dengan makam seseorang.
"Pada nisan ini terdapat angka tahun 1371 Saka atau 1449 M lalu berhuruf Jawa Kuno serta hiasan segi tiga sama kaki berjumlah 10 buah. Tinggi ragam hias tumpal 0,44 meter dan lebar 0,9 meter. Angka huruf Jawa kuno dipahat dengan gaya timbul (relief)," ujar akademisi yang juga dosen Sejarah UM ini.
Lihat Juga :