Kisah Jenderal Kostrad Rudini Geser 3 Jenderal hingga Melenggang Kariernya Jadi KSAD
Jum'at, 28 Maret 2025 - 10:34 WIB
loading...
A
A
A
Tak lama setelah itu, media massa memberitakan bahwa KSAD baru telah dipilih. Sosok tersebut adalah Rudini. Saat kembali menghadiri jamuan makan malam bersama Prabowo, Bu Tien terlihat kecewa.
“Bapak itu enggak mau dengar saran Ibu,” ucapnya kepada Prabowo.
Rudini lahir di Malang pada 15 Desember 1929. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia sempat berkuliah di Jakarta karena keinginan orang tuanya agar menjadi dokter. Namun, hatinya tetap tertuju pada dunia militer.
Ia pernah mencoba mendaftar sebagai prajurit TNI AU, tetapi gagal karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1951, ia mendengar kabar bahwa TNI AD membuka pendaftaran untuk pendidikan di Akademi Militer Kerajaan di Breda, Belanda.
Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan baik. Selama menjalani pendidikan, ia sempat tergabung dalam korps perhubungan sebelum akhirnya dipindahkan ke infanteri.
Sepulang dari Belanda, berbagai tugas dijalaninya. Karier militernya lebih banyak dihabiskan di satuan elite Kostrad. Ia pernah terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Setelah menyelesaikan Kursus Lanjutan Perwira di Bandung, Rudini mendapat kepercayaan sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, yang pada 1968 menjadi bagian dari Kostrad.
Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, termasuk sebagai Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, Kepala Staf dan Panglima Komando Tempur Lintas Udara, Kas Kostrad, hingga Pangdam XIII/Merdeka.
Kariernya semakin bersinar ketika dipercaya menjadi Pangkostrad, posisi yang sebelumnya pernah dipegang oleh Soeharto. Dari sinilah jalan menuju kursi KSAD terbuka lebar.
Setelah pensiun dari dunia militer, Rudini melanjutkan kiprahnya di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), yang kini dikenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jenderal Rudini menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada 21 Januari 2006.
“Bapak itu enggak mau dengar saran Ibu,” ucapnya kepada Prabowo.
Profil Jenderal TNI Rudini
Rudini lahir di Malang pada 15 Desember 1929. Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, ia sempat berkuliah di Jakarta karena keinginan orang tuanya agar menjadi dokter. Namun, hatinya tetap tertuju pada dunia militer.
Ia pernah mencoba mendaftar sebagai prajurit TNI AU, tetapi gagal karena tidak memenuhi syarat tinggi badan. Hingga akhirnya, pada Agustus 1951, ia mendengar kabar bahwa TNI AD membuka pendaftaran untuk pendidikan di Akademi Militer Kerajaan di Breda, Belanda.
Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan baik. Selama menjalani pendidikan, ia sempat tergabung dalam korps perhubungan sebelum akhirnya dipindahkan ke infanteri.
Sepulang dari Belanda, berbagai tugas dijalaninya. Karier militernya lebih banyak dihabiskan di satuan elite Kostrad. Ia pernah terlibat dalam operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Setelah menyelesaikan Kursus Lanjutan Perwira di Bandung, Rudini mendapat kepercayaan sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders, yang pada 1968 menjadi bagian dari Kostrad.
Berbagai jabatan strategis pernah diembannya, termasuk sebagai Kepala Staf dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad, Kepala Staf dan Panglima Komando Tempur Lintas Udara, Kas Kostrad, hingga Pangdam XIII/Merdeka.
Kariernya semakin bersinar ketika dipercaya menjadi Pangkostrad, posisi yang sebelumnya pernah dipegang oleh Soeharto. Dari sinilah jalan menuju kursi KSAD terbuka lebar.
Setelah pensiun dari dunia militer, Rudini melanjutkan kiprahnya di pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, lalu menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum (LPU), yang kini dikenal sebagai Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jenderal Rudini menghembuskan napas terakhir di Jakarta pada 21 Januari 2006.
(shf)
Lihat Juga :