Dari Klenteng ke Weltevreden, Kisah Pasar Baru yang Legendaris
Sabtu, 05 September 2020 - 08:07 WIB
loading...
A
A
A
Di sekitaran Pasar Baru di sisi selatan sejumlah ruko milik Cina, Eropa, dan Jepang kemudian dibangun. Saat malam hari, jalan sepanjang molenvliet (kanal disisi utara istiqlal hingga ke gajah mada dipenuhi hotel, kafe, dan sejumlah toko.
Sejak saat itu, kawasan harmoni dikenal kawasan Perancis, Fraanse Buurt. Beberapa pengusah perancis kemudin membuka usahanya, di antaranya Toko Roti Leroux & Co milik Jacques Leroux dan Penjahit Oger Freres.
SINDO sendiri mengamati sepanjang bangunan Pasar Baru, di bagian selatan terdapat ruko bergaya China, salah satunya toko Kompak yang kini masih berdiri di antara bangunan modern bergaya tahun 80-an.
Toko Kompak
Jauh sebelum dipercaya Ketua Vihara, Wiyoto yang kini telah membungkuk menceritakan Pasar Baru merupakan tempat bermainnya di masa kecil, sekitar tahun 60-an. Ia tinggal di kawasan gang kelinci, yang berlokasi tepat di sisi timur tengah pasar.
Kawasan pasar baru menjadi lokasi main dan pusat kebutuhan dirinya dan keluarga berhari hari. “Toko Kompak yang paling populer saat itu, ratusan orang berjubel di toko itu dari pagi sampai sore,” kata Wiyoto.
Beruntung saat sindo melihat toko milik Tio Tek Hong itu masih berdiri tegak dengan bangunan khas tionghoa. Meski tak lagi beraktifitas jual beli. Namun ukiran kecil kayu kecil terlihat di atap toko menunjukan kebesaran toko di masa lampau.
Dengan tinggi antara permukaan hampir tiga meter, ruko terlihat cukup nyaman di masukin ratusan orang. Ukiran nama toko ‘Kompak’ berbahan beton masih terlihat jelas di atap toko.
Sejarahwan dan Budayawan Chandrian Atthiriyat menyebut dari bentuk dan ukiran yang detail. Dirinya yakin toko dimiliki oleh saudagar kaya. Hal ini terlihat dari ukiran kayu di sisi toko yang detail hingga ke bagian atap bangunan toko. Meski begitu Chandirian belum dapat menafsirkan pasti kapan toko itu berdiri.
India dan Departement Store
Saat tahun 1960 an, Pasar Baru sendiri menjelma menjadi kawasan paling ramai. Kondisi pasar yang luas, hingga ruko yang rapih membuat masyarakat nyaman berbelanja di kawasan ini.
Terkenal menjual tekstil, beberapa ruko ruko penjahit bermunculan seiring menjamurnya mode pakaian. Los los kecil menjual benang dan kancing juga ikut merambah disekitaran pasar.
Tahun 70-an Wiyoto melihat sejumlah orang India yang dahulu sempat menghilang kembali berdatangan. Mereka kemudian membeli beberapa ruko disisi barat dekat jalan pintu kecil. Kain halus mumbai banyak dijual di jalan itu.
Chandrian sendiri menyebutkan India sendiri sempat berdatangan ke Pasar Baru sejak abad 19. Kolonial Inggris yang memiliki peran besar dalam membawa sejumlah orang India ke Indonesia.
Saat berada disana, lanjut Chandrian, mereka membuat usaha seperti berjualan kain dan menjadi penjahit. Kian laun ekspansi India bertambah. Bersama pedagang Cina mereka kemudian membentuk koloni, pedagang cina berada di sisi selatan dan pedagang India berada di barat. “Setelah sukses mereka kemudian merambah ke bisnis lain, salah satunya perfilman,” lanjut Chandirian.
Sejak saat itu, kawasan harmoni dikenal kawasan Perancis, Fraanse Buurt. Beberapa pengusah perancis kemudin membuka usahanya, di antaranya Toko Roti Leroux & Co milik Jacques Leroux dan Penjahit Oger Freres.
SINDO sendiri mengamati sepanjang bangunan Pasar Baru, di bagian selatan terdapat ruko bergaya China, salah satunya toko Kompak yang kini masih berdiri di antara bangunan modern bergaya tahun 80-an.
Toko Kompak
Jauh sebelum dipercaya Ketua Vihara, Wiyoto yang kini telah membungkuk menceritakan Pasar Baru merupakan tempat bermainnya di masa kecil, sekitar tahun 60-an. Ia tinggal di kawasan gang kelinci, yang berlokasi tepat di sisi timur tengah pasar.
Kawasan pasar baru menjadi lokasi main dan pusat kebutuhan dirinya dan keluarga berhari hari. “Toko Kompak yang paling populer saat itu, ratusan orang berjubel di toko itu dari pagi sampai sore,” kata Wiyoto.
Beruntung saat sindo melihat toko milik Tio Tek Hong itu masih berdiri tegak dengan bangunan khas tionghoa. Meski tak lagi beraktifitas jual beli. Namun ukiran kecil kayu kecil terlihat di atap toko menunjukan kebesaran toko di masa lampau.
Dengan tinggi antara permukaan hampir tiga meter, ruko terlihat cukup nyaman di masukin ratusan orang. Ukiran nama toko ‘Kompak’ berbahan beton masih terlihat jelas di atap toko.
Sejarahwan dan Budayawan Chandrian Atthiriyat menyebut dari bentuk dan ukiran yang detail. Dirinya yakin toko dimiliki oleh saudagar kaya. Hal ini terlihat dari ukiran kayu di sisi toko yang detail hingga ke bagian atap bangunan toko. Meski begitu Chandirian belum dapat menafsirkan pasti kapan toko itu berdiri.
India dan Departement Store
Saat tahun 1960 an, Pasar Baru sendiri menjelma menjadi kawasan paling ramai. Kondisi pasar yang luas, hingga ruko yang rapih membuat masyarakat nyaman berbelanja di kawasan ini.
Terkenal menjual tekstil, beberapa ruko ruko penjahit bermunculan seiring menjamurnya mode pakaian. Los los kecil menjual benang dan kancing juga ikut merambah disekitaran pasar.
Tahun 70-an Wiyoto melihat sejumlah orang India yang dahulu sempat menghilang kembali berdatangan. Mereka kemudian membeli beberapa ruko disisi barat dekat jalan pintu kecil. Kain halus mumbai banyak dijual di jalan itu.
Chandrian sendiri menyebutkan India sendiri sempat berdatangan ke Pasar Baru sejak abad 19. Kolonial Inggris yang memiliki peran besar dalam membawa sejumlah orang India ke Indonesia.
Saat berada disana, lanjut Chandrian, mereka membuat usaha seperti berjualan kain dan menjadi penjahit. Kian laun ekspansi India bertambah. Bersama pedagang Cina mereka kemudian membentuk koloni, pedagang cina berada di sisi selatan dan pedagang India berada di barat. “Setelah sukses mereka kemudian merambah ke bisnis lain, salah satunya perfilman,” lanjut Chandirian.
Lihat Juga :